TRIBUNNEWSWIKI.COM - Anies Baswedan lebih memilih berduet dengan Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar atau Cak Imin meskipun elektabilitas Cak Imin lebih rendah daripada Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).
Dalam sejumlah survei, elektabilitas Cak Imin sekitar 1 persen dan bahkan kurang dari itu.
Sementara itu, elektabilitas AHY berada di atas Cak Imin dan bahkan sempat disebut sebagai kandidat terkuat calon wakil presiden (cawapres) pendamping Anies yang diusung oleh Koalisi Perubahan untuk Persatuan (KPP).
Menurut Survei Litbang Kompas yang dilakukan dari tanggal 27 Juli hingga 7 Agustus 2023, elektabilitas Cak Imin mencapai 0,4 persen, sedangkan elektabiltas AHY mencapai 5,1 persen
Adapun survei Indikator Politik Indonesia periode 20-24 Juni 2023 menunjukkan bahwa elektabilitas Cak Imin hanya 0,8 persen. Jumlah itu jauh lebih kecil daripada elektabilitas AHY yang mencapai 11,4 persen.
Lalu, mengapa Anies malah memilih Cak Imin yang elektabilitasnya di bawah AHY?
Pengamat politik Ari Junaedi mengatakan keputusan Anies memilih Cak Imin berkaitan dengan besarnya suara PKB.
Berdasarkan survei terbaru Litbang Kompas, partai besutan Cak Imin itu memiliki elektabilitas 7,6 persen. Dengan angka itu, PKB berada pada urutan ketiga dalam daftar partai berelektabilitas tertinggi.
Baca: Demokrat Mengamuk & Tuding Anies Berkhianat, Cak Imin Tetap Tenang & Unggah Meme Lucu
Baca: Hari Ini Anies & Cak Imin Dideklarasikan Jadi Capres & Cawapres di Surabaya, Polisi Disiagakan
PKB berada di belakang Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan Partai Gerindra. PKB memiliki elektabilitas yang lebih baik daripada Partai Golkar dan Partai Demokrat.
Selain itu, kebanyakan pemilih PKB berasal dari kalangan Nahdlatul Ulama (NU) yang tersebar di Jawa Timur, provinsi wilayah yang belum dikuasai oleh mantan Gubernur DKI Jakarta itu.
Anies menduga Anies menggandeng Cak Imin karena berharap bisa menambal suaranya yang lemah di Jawa Timur.
“Saya menganggap langkah Nasdem menggaet Cak Imin sebagai pendamping Anies tidak terlepas dari potensi suara tapal kuda di Jawa Timur dan basis-basis PKB di mana pun berada,” kata Ari yang menjabat sebagai Direktur Nusakom Pratama Institue, Jumat, (1/9/2023), dikutip dari Kompas.com.
Di samping itu, Ari menduga Nasdem ingin memanfaatkan keadaan politik saat ini. Cak Imin dan PKB merasa terancam lantaran Golkar dan Partai Amanat Nasional (PAN) telah mendeklarasikan dukungan kepada koalisi pendukung Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto.
Bergabungnya Golkar dan PAN ke Koalisi Indonesia Maju yang mengusung Prabowo telah membuat peluang Cak Imin menjadi cawapres Prabowo makin kecil. Dia harus bersaing dengan Menteri BUMN Erick Thohir yang didukung PAN menjadi pendamping Prabowo.
"Saya anggap sebagai spekulatif politik, Nasdem memanfaatkan betul suasana kebatinan Cak Imim dan PKB yang merasa terbuang usai Golkar dan PAN merapat serta menguatnya nama Erick Thohir sebagai cawapresnya Prabowo,” kata dia.
Baca: ISI Surat Anies Baswedan yang Minta Anak SBY Jadi Cawapresnya: Mas AHY Yth
Baca: Berikut Isi Surat Anies Baswedan Pinang AHY jadi Cawapres di Pilpres 2024, Ditulis Pakai Tinta Biru
Ingin hilangkan citra politik identitas
Sementara itu, Direktur Eksekutif Institute for Democracy and Strategic Affairs (Indostrategic) Ahmad Khoirul Umam menduga Anies memilih Cak Imin karena ingin menghapus citra politik identitas pada dirinya.
Akan tetapi, menurut Umam, mesin politik Nahdliyin yang selama setahun belakangan telanjur dioptimalkan untuk “menjual” habis Prabowo, yang awalnya berkoalisi dengan PKB, kepada para kiai sepuh dan simpul-simpul pesantren.
Lewat komando Cak Imin dan partainya, para kiai sepuh telanjur mengarahkan dukungan kepada Menteri Pertahanan itu.
“Maka hal itu akan sangat merepotkan mesin politik PKB,” ujar Umam, Jumat, (1/9/2023), dikutip dari Kompas.com.