Sebelumnya, penemuan mayat dosen muda berinisial W tersebut berawal dari seorang mandor tukang bangunan yang dipercayai oleh pemilik rumah untuk merawat rumah tersebut yang datang ke rumah korban.
Mandor tukang tersebut yakni Indriyono menjelaskan, mayat tersebut ditemukan tergeletak disamping mini bar rumah itu.
"Ada teman yang mau mengecek rumah dari tadi tidak bisa. Lalu meminta kunci ke saya, karena rumah ini kan masih dalam perawatan saya," kata Indriyono.
Kemudian, mandor tersebut memberikan kunci rumah tersebut kepada teman korban.
"Dari keterangan temannya, W ditemukan sudah ada bercak darahnya. Perasaan saya sudah gak enak, saya ketuk-ketuk pintunya saya panggil-panggil tidak ada respons," ujarnya.
Ia menaruh curiga dan melihat dari atap, di bawah kasur itu ada sesuatu dan bercak darah di situ.
Saat ditemukan, korban berada di bawah kasur lantai dekat minibar. Sang mandor pun melihat keanehan pada jenazah dan langsung keluar.
"Ada bau anyir darah," pungkasnya.
Sosok Wahyu Dian Silviani
Seperti yang diketahui, Wahyu Dian Silviani ditemukan tak bernyawa di dalam rumah milik temannya, Desa Tempel, Kecamatan Gatak, Kabupaten Sukoharjo, Kamis (24/8/2023).
Korban diketahui merupakan salah seorang dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Raden Mas Said Surakarta.
Dia termasuk dosen berprestasi dan lolos beasiswa luar negeri.
Seperti yang diungkapkan Dekan FEBI UIN RM Said Surakarta, Ivan Rahmawan.
"Bu Dian, dosen berprestasi, telah lolos dalam program Beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) ke luar negeri," terang dia.
Bahkan beberapa gelar yang diterima korban sangat banyak.
Korban mempunyai sejumlah gelar di jenjang pendidikan.
Dari data Dikti, korban memang memiliki 3 gelar.
Diantaranya, gelar M.Sc, M.Env.sc, dan S.si.
Gelas S.Si didapatkan korban setelah mengenyam perkuliahan di Universitas Mataram.
Korban lulus dari kampus tersebut pada 2011.