Keagungan Hajar Aswad di Tanah Suci Mekkah

Hajar aswad mempunyai makna penting bagi pelaksanaan ibadah umrah dan haji karena menjadi tempat permulaan dan berakhirnya tawaf.


zoom-inlihat foto
Hajar-Aswad.jpg
Twitter.com/ReasahAlharmain
Batu Hajar Aswad berada di sisi timur bangunan Ka'bah.


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Subhanallah, wal hamdulillah, walailahaillalah, wallahu Akbar, Lahaula walaquata illa billahi.

Mendapat kesempatan mencium Hajar Aswad, merupakah berkah tersendiri seperti baru mendapat chargers energi spiritual.

Hajar aswad mempunyai makna penting bagi pelaksanaan ibadah umrah dan haji karena menjadi tempat permulaan dan berakhirnya tawaf.

Hampir seluruh umat muslim yang beribadah ke Tanah Suci pasti memiliki keinginan menyentuh atau mencium.

Mengutip dari buku Ensiklopedia Fikih Indonesia karya Ahmad Sarwat, hajar aswad maknanya adalah batu hitam. Batu tersebut berada di salah satu sudut Ka'bah, tepatnya di sebelah tenggara.

Hajar aswad berbentuk seperti telur dengan warna hitam kemerah-merahan. Di dalamnya terdapat titik-titik merah campur kuning sebanyak 30 buah dan dibingkai dengan perak setebal 10 cm buatan Abdullah bin Zubair, seorang sahabat Rasulullah SAW.

Baca: Begini Alasan Baim Wong Batal Naik Haji Tahun Ini, Padahal Sudah Masuk Pesawat

Baca: Idap Demensia, Calon Haji Asal Majalengka Minta Turun dari Pesawat untuk Beri Makan Ayam

Inilah sepenggal gambaran ihwal kemuliaan sebuah batu yang terletak di sudut selatan sebelah kiri pintu Kakbah di Mekkah Al-Mukarramah. Hajar Aswad, bukan sembarang batu.

Ia diyakini jutaan umat Muslim yang datang berhaji sebagai batu dari surga. Warnanya yang hitam kemerah-merahan, menjadi rebutan jemaah haji usai tawaf untuk mencium atau sekadar mengelusnya.

Hajar Aswad diletakkan di ketinggian 1,10 meter.

Otoritas Arab Saudi merilis foto-foto baru yang menawarkan pemandangan Hajar Aswad dari dekat yang belum pernah dilihat sebelumnya di Ka'bah di Mekkah.
Otoritas Arab Saudi merilis foto-foto baru yang menawarkan pemandangan Hajar Aswad dari dekat yang belum pernah dilihat sebelumnya di Ka'bah di Mekkah. (SPA)

Di masa lampau, jauh sebelum terjadi beberapa kali pemugaran Kakbah dan sekitarnya, Hajar Aswad merupakan satu batu dengan diamter lebih dari 30 centimeter.

Namun karena sebab-sebab tertentu, termasuk pencongkelan paksa oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab, Hajar Aswad kini hanya berupa kepingan-kepingan yang direkatkan dalam satu bingkai cekung seukuran kepala manusia.

Berdesak-desakan

Mencium Hajar Aswad bukan termasuk rukun haji. Ia hanyalah bagian dari sunah yang pernah dilakukan Nabi. Kala ribuan jemaah melakukan tawaf mengelilingi Kakbah sebanyak tujuh kali putaran, beberapa puluh orang di antaranya tampak memilih berhenti, berdesakan, dan secara bergiliran untuk mengecup batu ini.

Hajar Aswad tak pernah sepi dikerumuni jemaah haji. Bahkan sesekali terlihat aksi saling dorong. Untuk bisa turut mencium batu yang dalam sebuah hadis diceritakan sebelumnya berwarna putih bening ini, jemaah haji kerap terlihat melakukan beberapa cara dan strategi.

Sebagian dari mereka rela berbaris menunggu giliran. Secara perlahan barisan itu bertambah maju hingga tepat di mulut Hajar Aswad. Akibat antrean ini pula, tak jarang arus tawaf yang berdekatan dengan Kakbah tersendat dan menambah suasana saling berdesakan.

Suasana di sekitar Ka'bah - Prof Taruna Ikrar
Suasana di sekitar Ka'bah - Prof Taruna Ikrar (Tribunnnewswiki)

Sejarah Hajar Aswad

Dikemukakan dalam buku Sejarah Ka'bah karya Prof. Dr. Ali Husni Al-Kharbuthli, Hajar Aswad adalah batu terakhir yang digunakan Nabi Ibrahim untuk menyempurnakan bangunan Ka'bah. Konon, batu tersebut merupakan pemberian dari malaikat Jibril AS.

Dalam sejarahnya, Imam Ath-Thabari menyebutkan kala itu Nabi Ismail ingin menyempurnakan Ka'bah dengan sebuah benda, tetapi Nabi Ibrahim berkata, "Jangan! Carilah batu seperti yang aku perintahkan."

Nabi Ismail pun pergi mencari batu. Namun, ketika ia kembali ternyata Nabi Ibrahim sudah meletakkan sebuah batu hitam. Nabi Ismail kemudian bertanya, "Wahai ayah, dari manakah engkau mendapatkan batu itu?"

Nabi Ibrahim menjawab, "Yang membawa batu ini adalah dia yang tidak dapat menunggumu, yaitu Jibril. Ia membawanya dari langit."





Halaman
12
BERITATERKAIT
Ikuti kami di
KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2026 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved