TRIBUNNEWSWIKI.COM - Kasus kebocoran dokumen rahasia milik Amerika Serikat (AS) turut berdampak terhadap hubungan negara itu dengan Korea Selatan (AS).
Sebagian dari dokumen itu mengungkap bahwa AS turut memata-matai Korsel yang menjadi salah satu sekutu terdekatnya.
Kesahihan dokumen itu belum diverifikasi. Beberapa di antaranya berisi informasi tentang diskusi internal di antara para pejabat pertahanan Korsel. Di dalamnya terdapat klaim bahwa Korsel khawatir peluru artileri yang dijual kepada AS nantinya akan digunakan di Ukraina.
Apabila peluru itu benar-benar digunakan di Ukraina, hal itu akan menjadi masalah bagi Presiden Korsel Yoon Suk Yeol. Pasalnya, Korsel sudah lama memberlakukan kebijakan untuk tindak mengekspir senjata ke negara-negara yang terlibat perang.
Sejumlah pejabat Korsel pada hari meremehkan pentingnya dokumen AS yang bocor itu. Kesahihannya dokumen itu tidak bisa dikonfirmasi secara independen.
Kantor kepresidenan Korsel mengatakan hasil penyelidikan awal menyimpulkan bahwa hanya ada sedikit kemungkinan bahwa diskusi internal itu disadap oleh intelijen AS.
Baca: AS Selidiki Asal-usul Bocornya Dokumen Intelijen yang Sangat Rahasia
Wakil Penasihat Kemanan Nasional Korsel, Kim Tae-hyo, mengklaim bahwa informasi yang diduga berasal dari diskusi tersebut "tidak benar" dan telah "diubah".
"Kedua negara (AS dan Korse) memiliki penilaian yang sama, bahwa sebagian besar informasi yang diungkapkan itu sudah diubah," kata Kim ketika akan bertolak ke Washington, dikutip dari The Guardian.
Baca: Warga Korut Diduga Dieksekusi karena Tonton & Bagikan Video Buatan Korsel
Dokumen yang tidak bertanggal itu mengklaim Korsel setuju untuk menjual peluru artileri guna membantu AS mengisi kembali stoknya. Ditegaskan bahwa pengguna peluru itu adalah AS. Namun, tercantum pula informasi bahwa pejabat Korsel khawatir AS bakal mengalihkan peluru itu ke Ukraina.
Menurut Kim, dugaan bahwa AS memata-matai Korsel tidak akan mengganggu hubungan bilateral kedua negara itu. Korsel sendiri menjadi salah satu sekutu penting AS dan di sana terdapat 28.500 pasukan AS.
"AS adalah negara dengan kemampuan intelijen terbaik di dunia dan sejak pelantikan [Yoon] kita telah berbagi data intelijen di hampir semua bidang," kata Kim.
Beberapa pakar menduga bocornya lebih dari 100 dokumen rahasia itu hanyalah "puncak gunung es". Jumlah dokumen yang bocor bisa jadi jauh lebih banyak.
Pakar juga memperingatkan bahwa kebocoran itu bisa merusak reputasi AS dan hubungannya dengan sekutunya.
Baca: Kabur dari Mobilisasi, 5 Pria Rusia Tinggal di Bandara Korsel Berbulan-bulan
(Tribunnewswiki)
Baca berita lain tentang Amerika Serikat di sini.