TRIBUNNEWSWIKI.COM – Xi Jinping terpilih kembali menjadi Presiden Tiongkok untuk ketiga kalinya, (10/3/2023).
Sebelumnya, Xi Jinping juga kembali ditunjuk menjadi Sekretaris Jenderal Partai Komunis Tiongkok (PKT) dan Kepala Komisi Militer pada pada bulan Oktober lalu. Ketiga jabatan ini membuat dia menjadi salah satu pemimpin Tiongkok terkuat sepanjang masa.
Xi telah mencabut aturan maksimal masa jabatan pada tahun 2018 silam. Dengan pencabutan ini, Xi bisa menjadi presiden dengan lebih dari dua kali masa jabatan.
Melansir pemberitaan The Wall Street Journal, penunjukan kembali Xi sebagai kepala negara Tiongkok disetujui oleh lebih dari 2.900 anggota dewan yang berkumpul di Beijing. Penunjukan itu sendiri hanya dianggap sebagai formalitas.
Sementara itu, Tiongkok kini sedang dilanda berbagai masalah, mulai dari melambatnya pertumbuhan ekonomi, pemasalaan dalam bidang pertanahan, hingga menurunnya angka kelahiran penduduk.
Dikutip dari The Guardian, hubungan Tiongkok dengan Amerika Serikat (AS) juga sedang memanas. Kedua negara itu berselisih dalam berbagai persoalan, dari HAM hingga perdagangan dan teknologi.
Baca: Bersama Xi Jinping, Joe Biden Akan Bahas Insiden Balon Mata-Mata Tiongkok
Dalam pidatonya di depan Konferensi Permusyawaratan Rakyat Tiongkok pekan ini, Xi mengkritik AS yang “membatasi, mengepung, dan menindas Tiongkok”. Menurut Xi, Tiongkok harus memiliki “keberanian untuk melawan karena negara itu menghadapi perubahan yang besar dan rumit dalam lingkup domestik dan internasional.
Baca: Boris Johnson Sebut Perang di Ukraina sebagai Latihan bagi Xi Jinping
Xi diperkirakan bakal lebih sering melawat ke luar negeri pada tahun ini. Menurut pihak yang familier dengan kebijakan luar negeri Tiongkok, lawatan Xi itu sebagian ditujukan untuk memperbaiki hubungan yang terganggu akibat ketegangan geopolitik.
Laporan The Wall Street Journal menyebutkan Xi berencana mengunjungi Moskwa dan kemungkinan juga bakal menyambangi beberapa negara Eropa.
Sebelum Xi terpilih ketiga kalinya sebagai presiden, belum pernah ada yang menjadi kepala negara Tiongkok selama lebih dari 10 tahun.
Kekuasaan Xi yang begitu besar membuat sejumlah orang khawatir bahwa Tiongkok akan menjadi negara autrokasi ala pemerintahan Mao. Beberapa pejabat berpendapat bahwa penghapusan batasan masa jabatan maksimal itu bertujuan untuk memastikan bahwa Xi bisa menerapkan “kepemimpinan yang terpusat dan manunggal” sehingga Tiongkok mampu mengatasi permasalahan yang rumit serta mencapai tujuannya.
Baca: Xi Jinping Kembali Terpilih, Tiongkok Menuju Era Totalitarianisme?
(Tribunnewswiki)
Baca berita lain tentang Xi Jinping di sini.