TRIBUNNEWSWIKI.COM - Presiden Brasil Luiz Inácio Lula da Silva menduga ada staf kepresidenan yang membantu masuknya para pendukung mantan Presiden Jair Bolsonaro ke Istana Kepresidenan Planalto. Menurutnya, di antara para staf itu terdapat simpatisan Bolsonaro.
Kerusuhan di istana itu terjadi hari Minggu lalu, (8/1/2023). Selain berunjuk rasa di sana, simpatisan Bolsonaro juga menyerbu gedung Mahkamah Agung dan gedung parlemen.
Lula berjanji akan memeriksa para staf yang bertugas menjelang terjadinya kerusuhan tersebut.
"Saya menunggu situasi tenang. Saya ingin melihat semua rekaman keamanan yang direkam di dalam gedung Mahkamah Agung, gedung parlemen, dan Istana Kepresidenan Planalto," kata Lula di depan para wartawan di Planalto, (12/1/2023), dikutip dari The Guardian.
"[Tetapi] ada banyak orang yang terlibat dalam hal ini. Banyak orang di kepolisian militer yang terlibat. Ada banyak personel angkatan bersenjata di dalam istana ini yang terlibat," kata politikus sayap kiri itu.
Baca: Brasil Terkini: MA Minta Mantan Menteri & Kepala Polisi Militer Ditangkap
Dia mengklaim Istana Planalto dipenuhi oleh Bolsonarista atau pendukung Bolsonaro.
"Semua yang diduga menjadi simpatisan Bolsonaro garis keras tidak bisa diizinkan untuk tetap di istana.
"Bagaimana bisa saya mempekerjakan seseorang di pintu kantor saya yang mungkin menembak saya?" kata dia. Sebelumnya, dia pernah mengaku pernah membaca berita tentang pejabat militer yang bersumpah akan membunuhnya.
Baca: Pendukung Bolsonaro Serbu Gedung Parlemen Brasil, Minta Lula Digulingkan
Peristiwa penyerbuan ke sejumlah gedung di Brasil itu mengejutkan Brasil dan masyarakat internasional.
"Saya merasa sangat, sangat, sangat marah atas apa yang terjadi," kata Lula mengungkapkan.
"Saya yakin pintu Istana Planalto terbuka sehingga orang-orang ini bisa masuk ke dalam, karena sata tidak melihat bahwa pintu depan rusak. Dan itu artinya ada seseorang yang memudahkan mereka masuk ke sini."
Menurut Lula yang juga pernah berkantor Planalto tahun 2003 hingga 2010, penyerbuan itu adalah sebuah "peringatan besar". Dia meminta pemerintahannya untuk lebih berhati-hati.
"Kami harus paham bahwa kami memenangkan pilpres dan kami mengalahkan Bolsonaro, tetapi [ideologi] Bolsonarismo masih di luar sana. Dan Bolsonarismo yang fanatik itu tak dapat dipercaya karena tidak menghormati siapa pun."
Sempat muncul kekhawatiran akan adanya aksi unjuk rasa dari simpatisan Bolsonaro. Namun, hal itu tidak terjadi setelah ada pengerahan banyak personel keamanan di Planalto, gedung parlemen, dan gedung Mahkamah Agung.
"Kita harus waspada, tetapi tidak [perlu] takut," kata Lula.
Baca: Jadi Presiden, Lula Berjanji Keluarkan Brasil dari Era Kelam Bolsonaro
(Tribunnewswiki)
Baca berita lain tentang Brasil di sini.