Mengenal Aplikasi ChatGPT Buatan OpenAI yang Viral dan Kegunaannya

ChatGPT pada dasarnya adalah sebuah chatbot atau robot yang bisa membalas ucapan manusia dalam percakapan.


zoom-inlihat foto
ChatGPT.jpg
Chatbot.openai.com
Laman ChatGPT.


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Aplikasi ChatGPT belakangan ini populer dan dicoba oleh banyak warganet. Platform itu tersedia untuk masyarakat umum mulai 30 November dan saat ini masih dalam tahap uji coba.

ChatGPT pada dasarnya adalah sebuah chatbot atau robot yang bisa membalas ucapan manusia dalam percakapan dua arah.

Aplikasi itu dibuat oleh perusahaan teknologi bernama OpenAI yang bermarkas di San Fransisco, Amerika Serikat (AS). Menurut CEO OpenAI Sam Altman, dalam waktu sepekan setelah diluncurkan, ChatGP sudah dicoba oleh jutaan orang.

Cara kerja

Open AI mengatakan ChatGPT menggunakan sebuah teknik pembelajaran mesin bernama Reinforcement Learning from Human Feedback (RLHF). ChatGP bisa mensimulasikan dialog, menjawab pertanyaan, mengakui kesalahan, membantah pernyataan yang salah, dan menolak permintaan yang tidak pantas.

Baca: Ilmuwan Kembangkan Kecerdasan Buatan (AI) yang Bisa Prediksi Tingkat Keparahan Pasien Covid-19

Pada perkembangan awalnya, ChatGP melibatkan pelatih kecerdasaan buatan manusia yang menyediakan percakapan. Di dalamnya, mereka bercakap-cakap.

Versi ChatGP yang kini tersedia akan berusaha memahami pertanyaan yang diajukan oleh pengguna dan membalasnya dengan jawaban panjang mirip dengan teks yang ditulis manusia dalam format percakapan.

Baca: Robot Penjelajah NASA - Perseverance

Kegunaan

Perangkat lunak seperti ChatGPT bisa digunakan dalam berbagai bidang, misalnya periklanan digital, pembuatan konten daring, dan menjawab pertanyaan tentang layanan pelanggan. Bahkan, sejumlah pengguna mendapati bahwa platform itu bisa membantu melakukan debug code.

ChatGPT juga bisa menjawab berbagai macam pertanyaan sambil meniru gaya berbicara manusia.

Kekurangan

Seperti inovasi lain yang berbasis kecerdasaan buatan, ChatGPT juga memiliki kekurangan.

OpenAI mengakui bahwa aplikasi itu punya kecenderungan mengeluarkan jawaban yang "terdengar masuk akal, tetapi tidak benar atau tidak logis". Masalah itu menjadi tantangan yang harus diselesaikan.

Selain itu, teknologi kecerdasaan buatan juga bisa melanjutkan bias sosial, misalnya bias dalam ras, gender, dan kebudayaan.

Baca: 9 Prediksi Masa Depan Pasca Pandemi Covid-19, Interaksi Contactless hingga Ketergantungan pada Robot

Google dan Amazon mengakui bahwa beberapa proyek mereka yang memanfaatkan kecerdasan buatan juga memiliki keterbatasan. Pada beberapa perusahaan, orang harus turun tangan dan memperbaiki kekacauan dalam kecerdasan buatan.

Terlepas dari segala kekurangan itu, penelitian tentang kecerdasan buatan tetap diminati. Buktinya, investasi pengembangan kecerdasaan buatan dan operasional perusahaan meningkat menjadi hampir $13 miliar tahun lalu.

(Tribunnewswiki)

Baca berita lain tentang kecerdasan buatan di sini.

 





KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2023 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved