TRIBUNNEWSWIKI.COM - Peneliti mulai mengandalkan kecerdasan buatan (AI) untuk mengidentifikasi pasien Covid-19 yang berpotensi menjadi sakit parah.
Algoritma AI yang dibangun oleh para peneliti New York University menemukan bahwa usia, jenis kelamin, pola gambar paru-paru, dan suhu, bukan indikator risiko yang paling penting.
Sebagai gantinya, ia mengidentifikasi serangkaian indikator lain untuk memprediksi pasien berisiko mengalami kondisi parah seandainya terkena Covid-19, Seperti yang diberitakan South China Morning Post berdasarkan penelitian yang dipublikasikan secara online di jurnal Computers, Material & Continua, 30 Maret 2020.
Dalam kemitraan dengan dokter China, model AI menggunakan data dari dua rumah sakit di kota Wenzhou.
Baca: Berhasil Tekan Laju Penularan Tanpa Lockdown, Kini Singapura Hadapi Gelombang Kedua Covid-19
Baca: Tak Lakukan Lockdown, Korea Selatan Punya Cara Tersendiri Tekan Laju Penularan Covid-19
Model tersebut menunjukkan tiga faktor risiko utama adalah peningkatan enzim hati alanine aminotransferase, mialgia (sejenis nyeri otot), dan peningkatan kadar hemoglobin.
Model yang mereka bangun terbukti memiliki akurasi 70 hingga 80 persen dalam memprediksi kasus yang parah.
Seperti yang diketahui, pandemi Covid-19 tengah menyebar ke seluruh dunia.
Kini dibutuhkan alat atau metode untuk memprediksi risiko pada tiap pasien.
Beberapa pasien mengembangkan sindrom gangguan pernapasan akut (ARDS) yang mengancam jiwa dalam hitungan jam atau hari, sementara pasien lain hanya menunjukkan gejala ringan dan berangsur pulih.
Meskipun statistik menunjukkan bahwa pria yang berusia lebih dari 60 tahun (dengan masalah medis) cenderung berisiko lebih tinggi, gangguan pernapasan akut dan kematian telah terlihat pada semua kelompok umur dan gender, termasuk orang yang tampak muda dan sehat.
Baca: Butuh Ribuan Subjek, China Ingin Lakukan Uji Vaksin Covid-19 dengan Libatkan Beberapa Negara
Baca: Peneliti China Prediksi Pandemi Covid-19 Terkendali Akhir April 2020, Tapi Tersisa Satu Pertanyaan
Para peneliti menemukan, usia dan jenis kelamin bukanlah prediktor yang kuat apakah pasien dengan gejala "mirip flu" akan mengembangkan sindrom gangguan pernapasan akut nantinya.
“Tujuan kami adalah merancang dan menggunakan alat pendukung keputusan dengan menggunakan kemampuan AI (sebagian besar analitik prediktif) untuk menandai tingkat keparahan klinis coronavirus di masa depan,” kata rekan penulis Anasse Bari, asisten profesor klinis dalam ilmu komputer di Courant Institute of Mathematics Sciences.
“Kami berharap bahwa alat ini, ketika dikembangkan sepenuhnya, akan bermanfaat bagi dokter karena mereka menilai pasien yang sedang sakit benar-benar membutuhkan tempat tidur dan siapa yang dapat pulang dengan aman, dengan sumber daya rumah sakit yang tipis,” katanya.
Dalam studi tersebut, para peneliti mendaftarkan 53 pasien yang dirawat di Rumah Sakit Pusat Wenzhou dan Rumah Sakit Rakyat Cangnan, mengumpulkan riwayat medis mereka, pengobatan dan data hasil klinis.
Baca: Rusia Lakukan Uji Vaksin Covid-19 pada Musang dan Primata, Bulan Juni Siap Diuji pada Manusia
Baca: RSUD dr. R. Goeteng Taroenadibrata (Purbalingga)
Teknologi analitik prediktif AI menggunakan algoritme pembelajaran mesin untuk menentukan faktor mana yang memiliki kekuatan paling prediktif untuk membuat prediksi yang akurat.
Mereka akhirnya mendaftar 11 indikator, dengan alanine aminotransferase, mialgia dan hemoglobin sebagai tiga teratas.
Dikatakan bahwa AI dapat membantu dokter untuk membuat keputusan cepat, tetapi membutuhkan validasi dan penyempurnaan lebih lanjut dengan lebih banyak data dan spektrum klinis yang lebih luas.
(TRIBUNNEWSWIKI.COM/Ahmad Nur Rosikin)