Bantah Tudingan AS, Korut Tegaskan Tak Jual Senjata kepada Rusia

Amerika Serikat menuding Korut telah mengekspor "jutaan peluru artileri dan roket" ke Rusia.


zoom-inlihat foto
rudal-hipersonik-Korea.jpg
STR / KCNA VIA KNS / AFP
KCNA merilis gambar uji coba rudal yang dilakukan pada tanggal 5 Januari 2022. Korea Utara mengaku bahwa rudal itu berjenis hipersonik.


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Pemerintah Korea Utara (Korut) membantah tudingan dari Amerika Serikat (AS) bahwa Pyongyang telah menjual senjata kepada Rusia.

Tudingan itu dibuat berdasarkan sumber dari intelijen AS. Dalam tudingan tersebut, dikatakan bahwa Korut telah mengekspor "jutaan peluru artileri dan roket".

Namun, Korut tidak mengakuinya. Negara itu kemudian ganti menuduh AS telah menyebarkan rumor yang "sembrono".

"Kami tidak pernah mengeskpor senjata atau amunisi kepada Rusia sebelumnya, dan kami tidak berencana mengekspor senjata," kata pejabat senior pada Kementerian Pertahanan Nasional Korut, dikutip dari The New York Times.

"Kami memperingatkan AS agar berhenti membuat pernyataan yang sembrono."

Baca: UU Baru Izinkan Korut Gunakan Senjata Nuklir Terlebih Dulu jika Terancam

Bulan lalu, para pejabat AS mengungkap dokumen intelijen baru yang menyebutkan bahwa Rusia ingin membeli senjata dari Korut. Menurut para pejabat itu, pembelian ini merupakan tanda bahwa sanksi yang dijatuhkan Barat telah mengganggu rantai pasokan Rusia. Oleh karena itu, Rusia terpaksa mengandalkan "negara-negara kecil" untuk mendapatkan perlengkapan militer.

Korut menjadi salah satu dari sedikit negara yang mendukung invasi Rusia ke Ukraina. Negara itu justru menyalahkan AS dalam konflik bersenjata Ukraina. Korut juga sudah mengakui kemeredekaan Republik Donetsk dan Luhansk yang berada di Ukraina timur.

Baca: Kim Jong Un Siap Gunakan Senjata Nuklir untuk Hadapi Musuh Korut

Setiap pembelian senjata dari Korut akan melanggar resolusi yang ditetapkan oleh Dewan Keamanan PBB. Kendati demikian, pejabat Korut tersebut mengatakan negaranya adalah negara yang berdaulat. Oleh karena itu, negaranya punya hak untuk mengembangkan, mengekspor, dan mengimpor senjata.

"Kami tidak pernah mengakui 'resolusi sanksi' yang tidak sah dari Dewan Keamanan PBB terhadap Korea Utara, yang direncanakan oleh AS dan sekutunya," kata pejabat itu.

Warga Seoul, Korea Selatan, melihat rekaman uji coba rudal yang dilakukan oleh Korea Utara, 30 Januari 2022.
Warga Seoul, Korea Selatan, melihat rekaman uji coba rudal yang dilakukan oleh Korea Utara, 30 Januari 2022. (SEOUL, SOUTH KOREA)

Pada tahun 2019 Korut telah bersumpah untuk memperbesar program senjata nuklirnya. Hal itu menyusul kegagalan diplomasi antara pemimpin tertinggi Korut, Kim Jong Un, dan mantan Presiden AS Donald Trump.

Beberapa pekan lalu Korut juga mengesahkan UU yang memungkinkan Korut menyerang lebih dulu dengan senjata nuklir apabila merasa terancam.

Di sisi lain, adanya program pengembangan nuklir telah mengganggu ekonomi negara itu. Ini karena PBB menjatuhkan sanski berupa larangan pembelian seluruh ekspor utama dari Korut, termasuk batu bara, bijih besi, ikan, dan tekstil sejak tahun 2017.

Baca: Korsel Akan Cabut Larangan Baca Media Korut: Agar Saling Mengerti

(Tribunnewswiki)

Baca berita lain tentang Korea Utara di sini

 

 











KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2022 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved