Istri Ferdy Sambo Tak Ditahan, Pakar Sebut Polri Pilih Kasih dan Nodai Rasa Keadilan

Istri Ferdy Sambo, Putri Candrawathi, resmi menyandang status tersangka. Kendati begitu, hingga kini ia belum juga ditahan.


zoom-inlihat foto
Putri-Candrawathi-Ibaaas.jpg
Kolase/Istimewa
Putri Candrawathi, istri eks Kadiv Propam Irjen Ferdy Sambo.


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Polri mengabulkan permohonan penangguhan penahanan istri Ferdy Sambo, Putri Candrawathi.

Sayangnya, hal tersebut justru menuai kritik dari publik.

Polri pun dituduh pilih kasih, serta menodai rasa keadilan dan ada hal yang tak wajar dengan tak ditahannya istri Ferdy Sambo itu.

Alasan di balik permohonan Putri yang disetujui Polri itu ialah kondisi kesehatan, kemanusiaan, serta tersangka kasus pembunuhan Brigadir J tersebut masih memiliki anak balita.

Namun, sejumlah pihak merasa khawatir Putri Candrawathi akan kabur hingga menghilangkan barang bukti.

Dikutip dari Tribunnews.com, menurut pakar hukum pidana Abdul Fickar Hadjar menilai Polri pilih kasih lantaran tidak menahan Putri Candrawathi yang sudah menyandang status tersangka.

Fickar menganggap alasan kesehatan hingga memiliki balita yang dijadikan dalil tidak ditahannya Putri dinilai tidak relevan.

Nyatanya, banyak tersangka lainnya yang tak mendapatkan nasib sama seperti Putri Candrawathi.

"Ya ini penegak hukumnya pilih kasih," ujar Fickar saat dikonfirmasi, Kamis (1/9/2022).

Fickar pun mengatakan Polri telah menodai rasa ketidakadilan.

Baca: Menguak Peran Ferdy Sambo dan Empat Tersangka Lain dalam Kasus Pembunuhan Brigadir J

Meski, ia memahami bahwa keputusan penahanan ialah kewenangan penyidik Polri.

"Ya memang terasa tidak adil, tetapi semua kembali kepada kewenangan penegak hukum. Dari sudut masyarakat jelas ini ketidakadilan," imbuh dia.

Ahli hukum pidana dari Universitas Trisakti itu juga mengungkapkan tidak ditahannya Putri merupakan hal yang tidak wajar.

Ia menilai ketidakwajaran itu karena pasal yang disangkakan kepada Putri mengandung ancaman hukuman di atas 5 tahun yakni pasal 340 KUHP subsider pasal 338 KUHP juncto pasal 55 dan 56 KUHP soal Pembunuhan berencana.

Pasal yang disangkakan kepada Putri tersebut memiliki ancaman penjara seumur hidup, hukuman mati, atau penjara paling lama 20 tahun.

"Tidak wajar karena ancaman hukumannya lebih dari lima tahun kemudian tindak pidananya juga cukup berat, pembunuhan."

"Menurut saya ini (pembunuhan) puncak kejahatan kemanusiaan," bebernya, Kamis (1/9/2022).

Baca: Komnas HAM Serahkan Laporan Rekomendasi Kasus Pembunuhan Brigadir J Ke Polri

Dia pun menuturkan penahanan terhadap tersangka yang disangkakan dengan ancaman hukuman di atas 5 tahun lebih diatur oleh Undang-Undang.

Namun, keputusan itu merupakan ranah penegak hukum.

"Jadi karena itu kemudian terhadap tindak pidana yang ancaman hukumannya lima tahun ke atas, undang-undang menetapkan itu ada dasar untuk menahan."







KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

  • Oreo BLACKPINK

    Oreo BLACKPINK adalah adalah produk eksklusif terbaru dari
  • Cara Membuat SIM Online 2022,

    Setiap pengendara kendaraan bermotor wajib mempunyai Surat Izin
  • Andries Noppert

    Andries Noppert adalah pemain sepak bola berkebangsaan Belanda
  • Beukenhof Restaurant

    Beukenhof Restaurant adalah restoran yang terletak di Yogyakarta
  • Takut Kembali ke Rumah, Korban

    Puluhan warga terdampak gempa Cianjur, Jawa Barat, memilih
Tribun JualBeli
© 2022 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved