TRIBUNNEWSWIKI.COM - Mikhail Gorbachev, mantan Presiden Uni Soviet dan peraih medali Nobel Perdamaian 1990, berpulang pada hari Selasa, (30/8/2022).
Di mata Barat, Gorbachev dianggap sebagai sosok penyelamat yang "membebaskan" jutaan rakyat Uni Soviet.
Namun, di negerinya sendiri Gorbachev sering dikecam karena periode kepemimpinannya diwarnai dengan banyak kekacauan.
Pada tahun 1985 Gorbachev naik ke tampuk kekuasaan dengan menjabat sebagai Sekjen Partai Komunis Uni Soviet. Kala itu dia baru berumur 53 tahun.
Dia memegang jabatan itu hingga partai tersebut dibubarkan tahun 1991.
Gorbachev juga menjadi Presiden Uni Soviet dengan masa jabatan yang singkat, yakni dari Maret 1990 hingga Desember 1991, sehari sebelum negara federasi itu runtuh.
Baca: Pemimpin Terakhir Uni Soviet Mikhail Gorbachev Meninggal pada Usia 91 Tahun
Politikus kelahiran tahun 1931 itu sering dikaitkan dengan upayanya untuk memodernisasi dan memperbaiki kondisi Uni Soviet.
Namun, upaya itu justru membuatnya kehilangan kendali dan berujung pada keruntuhan negara itu.
Ketika diwawancarai oleh The Guardian tahun 2011, dia menyebutkan perestroika atau restrukturisasi sebagai pencapaian terbaiknya.
Perestroika dirancang untuk membangkitkan kembali ekonomi Soviet dan membawa perubahan.
Baca: Mikhail Gorbachev
Gorbachev juga mengenalkan konsep glasnot atau keterbukaan yang mencakup liberalisme dan pluralisme.
Dia meraih medali Nobel Perdamaian 1990 karena perannya dalam mengakhiri Perang Diri.
Politikus itu mendapat banyak penghargaan dari negara-negara lain di dunia ini.
Namun, di negaranya sendiri dia justru dibenci. Warga Rusia menyalahkannya atas runtuhnya Soviet tahun 1991. Mantan sekutunya juga meninggalkannya.
Selain itu, dia juga dijadikan kambing hitam dalam berbagai masalah di Rusia.
Gorbachev mengaku tidak ingin menggunakan kekuatan militer untuk menjaga Soviet tetap utuh karena takut muncul kakacauan di negara itu.
"Negara ini penuh dengan senjata. Dan senjata itu akan membuat negara itu mengalami perang saudara," kata Gorbachev dikutip dari Associated Press.
Baca: Hari Ini dalam Sejarah: INF Treaty, AS dan Uni Soviet Sepakat Kurangi Jumlah Senjata Nuklir
Pada tahun 1996 dia maju sebagai calon presiden. Namun, dia hanya mendapat kurang dari 1 persen suara.
Dalam memoarnya, dia mengaku prihatin dengan keadaan ekonomi Soviet. Menurutnya, Soviet memiliki banyak sumber daya alam, tetapi puluhan juta warganya hidup dalam kemiskinan.
Kala menjabat, Gorbachev membebaskan tahanan politik, mengiznkan debat pemilu, membebaskan warganya bepergian, menghentikan persekusi religius, mengurangi jumlah senjata nuklir, membangun hubungan lebih erat dengan Barat.
Sekjen PBB Antonio Guterres menyebut Gorbachev sebagai sosok pemimpin yang tak pernah lelah mendorong adanya perdamaian.
Baca: Hari Ini dalam Sejarah 27 Maret: Nikita Krushchev Menjadi Perdana Menteri Uni Soviet
(Tribunnewswiki)
Baca berita lainnya tentang Mikhail Gorbachev di sini