"Semua kombinasi di antara ketiga ini, tiga-tiganya sama sekali enggak enak," ungkap Sri Mulyani, dikutip dari Kompas.
Bahkan Sri Mulyani ikut menyinggung soal negara yang harus kembali mengucurkan uang sebesar Rp 198 triliun untuk anggaran subsidi dan kompensasi energi jika tanpa kenaikan harga pertalie dan solar.
Anggaran subsidi dan kompensasi energi 2022 masih dipatok sebesar Rp502,4 triliun untuk saat ini.
Pada awalnya anggarannya hanya sebesar Rp152,1 triliun, tetapi mengalami pembekakan hingga 229 persen atau sebesar Rp349,9 triliun.
"APBN jelas sekali akan sangat berat karena subsidi BBM itu sudah naik tiga kali lipat, ternyata masih kurang lagi," imbuh Menkeu.
Pilihan kedua soal volume Pertalite dan Solar, konsumsinya diprediksi melebihi kuota.
Kuota yang ditetapkan tahun ini sebanyak 23,05 juta KL.
Namun. menurut prognosa konsumi Pertalite sampai akhir tahun akan menyentuh 28 juta kiloliter (KL), sementara bakar solar tahun ini hanya sebesar 14,91 juta KL.
Akan tetapi, diperkirakan konsumsinya bakal mencapai 17,2 juta KL sampai akhir tahun apabila tak dilakukan pembatasan
Sri Mulyani menyebut saat ini masih dalam pembahasan antarmenteri tentang pilihan ketiga soal kenaikan harga pertalite dan solar.
Hingga saat ini, lanjut Sri Mulyani, masih dalam penghitungan dan belum mencapai keputusan akhir.
"Jadi apapun keputusan, nanti pasti akan disampaikan di dalam rapat. Para menteri sekarang semuanya saling berkoordinasi," tuturnya.
(TRIBUNNEWSWIKI/Ka)