TRIBUNNEWSWIKI.COM - Kementerian Pertahanan (Kemenhan) Rusia mengklaim Amerika Serikat (AS) terlibat langsung dalam perang di Ukraina.
Menurut Rusia, AS telah memberikan data intelijen yang pada akhirnya menyebabkan "kematian massal warga sipil".
AS dituding turut bertanggung jawab atas serangan roket pasukan Ukraina yang menargetkan area permukiman penduduk di Donbas timur dan wilayah lainnya.
"Tak terbantahkan lagi, semua ini membuktikan bahwa Washington, berlainan dengan klaim yang dibuat Gedung Putih dan Pentagon, terlibat langsung dalam konflik di Ukraina," demikian pernyataan Kemenhan Rusia dikutip dari The Guardian.
AS di bawah Joe Biden berulang kali mengatakan tidak akan mengirimkan pasukan ke Ukraina.
Sebagai gantinya, AS menggelontorkan bantuan keamanan senilai miliaran dolar untuk Ukraina agar negara itu bisa mempertahankan diri.
Negara Adikuasa itu juga membantah terlibat langsung dalam perang di Ukraina.
Baca: Tak Hanya Kirim Senjata, AS Dituding Terlibat Langsung dalam Perang di Ukraina
Tudingan keterlibatan itu muncul setelah wartawan mewawancarai Vadym Skibitsky, penjabat wakil kepala intelijen militer Ukraina, pada hari Senin, (1/8/2022).
Dalam wawancara itu, Skibitsky mengatakan roket HIMARS yang dikirim AS sangat efektif untuk menghancurkan persediaan amunisi dan bahan bakar milik Rusia.
Menurutnya, informasi real-time dan citra satelit yang sangat bagus telah membantu serangan itu.
Dia berujar ada diskusi dengan pejabat intelijen AS dan Ukraina sebelum serangan dilancarkan.
Kata dia, AS bisa memeriksa target dan bahkan membatalkan target serangan jika diperlukan.
Baca: Ratusan Tentara Rusia Dilaporkan Ditahan karena Menolak Bertempur di Ukraina
Juru Bicara Kemenhan Rusia Maria Zakharova kemudian buka suara.
Kepada kantor berita RIA Novosti, dia berkata, "Tidak ada konfirmasi lain yang diperlukan mengenai keterlibatan Amerika Serikat dalam konflik di Ukraina."
"Pengiriman senjata tidak hanya disertai dengan cara penggunaan, tetapi dalam kasus ini mereka benar-benar menjalankan pekerjaan penembakan."
Sejauh ini AS telah mengirimkan 16 sistem roket jarak jauh HIMARS. Pekan ini akan ada empat lagi yang tiba di Ukraina.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy turut mengakui keampuhan roket itu.
Menurutnya, roket itu berhasil memperlambat gerak maju pasukan Rusia di Ukraina bagian timur dan selatan.
Roket itu juga disebut telah mendatangkan kerugian besar bagi pasukan Rusia.
Baca: AS Umumkan Paket Bantuan Keamanan Baru Senilai $550 Juta untuk Ukraina
Di sisi lain, Rusia mengklaim serangan roket HIMARS telah menewaskan 53 tawanan perang Ukriana di sebuah penjara dekat Olenivka, Donetsk.
Namun, Institut Penelitian Perang kemudian menerbitkan laporan yang menyimpulkan bahwa ledakan di penjara itu memang dirancang sendiri oleh pasukan Rusia.
Menurut institut itu, citra satelit menunjukkan bahwa serangan presisi atau bom yang ditanam adalah penyebab ledakan itu.
Tudingan bahwa AS terlibat langsung dalam perang di Ukraina juga pernah disampaikan oleh Vyacheslav Volodin, Ketua Majelis Rendah Rusia.
Menurut Volodin, AS telah mengoordinasi operasi militer yang dilakukan oleh pejuang Ukraina.
"Washington pada dasarnya mengoordinasi dan merancang operasi militer sehingga terlibat langsung dalam aksi militer yang melawan negara kami," kata Volodun melalui Telegram, (7/5/2022), dikutip dari Reuters.
Baca: Bos Gandum & Salah Satu Orang Terkaya di Ukraina Tewas Terkena Rudal Rusia
(Tribunnewswiki)
Baca berita lainnya tentang Ukraina di sini