Ratusan Tentara Rusia Dilaporkan Ditahan karena Menolak Bertempur di Ukraina

Sejumlah tentara Rusia mengajukan keluhan secara tertulis karena ditahan oleh atasannya lantaran menolak bertempur.


zoom-inlihat foto
Kota-Lysychansk-Donbas.jpg
ARIS MESSINIS / AFP
Foto sebuah ambulans rusak di Kota Lysychansk, Donbas, Ukraina timur, karena serangan Rusia (18/6/2022).


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Komandan tentara Rusia di Ukraina timur dituding telah menahan ratusan bawahannya karena menolak bertempur.

Tudingan ini disampaikan oleh Maxim Grebenyuk, seorang pengacara pada organisasi advokasi Ombudsman Militer.

Grebenyuk mengatakan setidaknya ada empat tentara Rusia yang mengajukan keluhan secara tertulis agar kasus itu diselidiki oleh komite investigasi.

Mereka meminta atasan yang melakukan penahanan itu untuk dihukum.

"Kami telah memiliki daftar berisi 70 tentara Rusia yang ditahan. Totalnya ada sekitar 140 tentara yang ditahan," kata Grebenyuk dikutip dari The Guardian, (3/8/2022).

Dalam sebuah kesaksian tertulis yang dikirimkan kepada jaksa pada tanggal 1 Agustus, seorang tentara Rusia mengaku dipenjara selama lebih dari sepekan di Luhansk.

Kata dia, hukuman itu diberikan karena dia menolak kembali ke medan tempur.

Baca: Bos Gandum & Salah Satu Orang Terkaya di Ukraina Tewas Terkena Rudal Rusia

"Karena saya percaya adanya kesalahan taktik dan strategi yang dibuat komandan saya, dan mereka sepenuhnya mengabaikan hidup manusia, saya memutuskan tidak lanjut [bertempur] dalam operasi militer ini," kata tentara itu, menggunakan nama samaran Vladimir.

Vladimir mengaku ditahan tanggal 19 Juli dan ditempatkan di sebuah rumah dengan jendela berjeruji besi.

Dia ditahan bersama 25 tentara lain dari satuannya yang juga menolak bertempur. Kata dia, tidak ada makanan yang disediakan di dalam rumah tahanan itu.

Kemudian dia dipindahkan ke Kota Bryansk di Luhansk. Dia menempati bekas bangunan sekolah yang kini menjadi markas militer.

Baca: Rusia Disebut Rekrut Relawan untuk Perang di Ukraina, Iming-imingi Gaji Tinggi

Di sana dia bergabung dengan 80 tentara dari satuan-satuan yang berbeda. Mereka juga ditahan karena menolak ikut serta dalam operasi militer.

Warga mengendarai sepeda di depan bangunan di Chernihiv, Ukraina, yang rusak karena serangan Rusia, (9/4/2022).
Warga mengendarai sepeda di depan bangunan di Chernihiv, Ukraina, yang rusak karena serangan Rusia, (9/4/2022). (ANASTASIA VLASOVA / GETTY IMAGES NORTH AMERICA / GETTY IMAGES VIA AFP)

Vladimir berujar mereka dijaga oleh anggota Wagner, kelompok tentara bayaran Rusia yang juga dituding melakukan kejahatan HAM di Ukraina.

"Mereka [tentara Wagner] berkata kepada kami bahwa ranjau telah ditanam di luar markas militer dan siapa pun yang mencoba melarikan diri akan dianggap musuh dan ditembak di tempat," demikian pernyataan tentara itu.

Kata dia, para tahanan diperlakukan dengan kurang baik.

Baca: Rusia Kembali Luncurkan Serangan Rudal ke Kiev dan Chernihiv

"Kami hanya diberi makan sehari sekali pada siang hari." Kebersihan juga tidak dijaga.

"Tidak ada satu dokumen pun yang diberikan untuk menjelaskan penahanan kami. Kami ditahan secara ilegal."

Vladimir meminta jaksa segera memulai penyelikan terhadap dua kolonel Rusia dan seorang mayor yang dianggapnya bertanggung jawab atas penahanan ini.

Dia mengaku berhasil keluar dari rumah tahanan itu setelah dokter militer menganjurkannya untuk dirawat dirawat di rumah sakit karena menderita luka akibat pertempuran sebelumnya.

Kabar dugaan penahanan pertama kali muncul pekan lalu oleh media independen Insider.

Baca: Mata-Mata Ukraina Disebut Tawari Pilot Rusia Rp30 Miliar untuk Antar Jet Tempur

(Tribunnewswiki)

Baca berita lainnya tentang Rusia di sini











KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

Tribun JualBeli
© 2022 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved