TRIBUNNEWSWIKI.COM - Kepala Badan Intelijen Pusat (CIA), Bill Burns, mengatakan perang di Ukraina membuat Tiongkok kembali memikirkan cara dan kapan negara itu menyerbu Taiwan.
Sebelumnya, ada spekulasi bahwa Tiongkok bisa mulai memfokuskan masalah Taiwan setelah rapat besar Partai Komunis Tiongkok.
Namun, Burns tidak percaya kepada spekulasi tersebut karena risikonya bakal lebih besar bagi Tiongkok.
"Saya tidak akan meremehkan tekad Presiden Xi untuk menegaskan kendali Tiongkok atas Taiwan yang kini memiliki pemerintahan sendiri," kata Burns dikutip dari The Guardian, (21/7/2022).
Kata Burns, Tiongkok menjadi "gelisah" setelah melihat pencapaian Rusia selama lima bulan di Ukraina.
Menurut Burns, Rusia mengalami "kegagalan strategis" karena sebelumnya berharap bisa menumbangkan pemerintahan di Kiev hanya dalam seminggu.
"Bagi kami, itu mungkin kurang mempengaruhi pertanyaan tentang apakah pemerintah Tiongkok akan memilih menggunakan militer beberapa tahun ke depan untuk menguasai Taiwan, tetapi bagaimana dan kapan mereka akan melakukannya," kata dia.
Baca: Tiongkok Akan Memulai Perang jika Taiwan Berani Nyatakan Kemerdekaannya
Dia mengklaim Tiongkok telah mengamati perang di Ukraina.
Kata dia, Tiongkok telah sampai pada kesimpulan "Anda tidak bisa mendapatkan kemenangan cepat dan menentukan dengan militer yang mengecewakan".
Tiongkok kemungkinan juga telah belajar bahwa "penguasaan ruang informasi" diperlukan.
Selain itu, Tiongkok harus bersiap menghadapi sanksi ekonomi.
"Melakukan segala yang Anda bisa untuk menegakkan ekonomi saat melawan kemungkinan adanya sanksi."
Baca: Militer AS Akan Ikut Campur jika Taiwan Diserang, Tiongkok Berikan Peringatan
Hingga kini Tiongkok menganggap Taiwan sebagai wilayahnya dan menunggu adanya penyatuan kembali.
Duta Besar Tiongkok untuk AS, Qin Gang, mengatakan Beijing masih menginginkan "penyatuan kembali secara damai".
Namun, dia menuduh AS mendukung pasukan "kemerdekaan" di Taiwan.
"Tidak ada konflik dan tidak ada konflik adalah kesepakatan terbesar antara Tiongkok dan Amerika Serikat."
"Namun, Amerika Serikat 'melubangi dan mengaburkan' kebijakan yang telah dinyatakannya, bahwa [AS] hanya mengakui Beijing."
"Hanya dengan menaati kebijakan 'satu Tiongkok' secara ketat, hanya dengan bersama-sama menahan dan menentang kemerdekaan Taiwan, kita bisa mencapai penyatuan kembali secara damai."
Baca: Joe Biden: Jika Diserang Tiongkok, Taiwan Akan Dibantu oleh AS
Berdasarkan UU, pemerintah AS tidak lagi mengakui Taiwan sebagai entitas merdeka tahun 1979.
Kendati demikian, AS diharuskan memasok senjata kepada Taiwan untuk perlindungan negara pulau itu.