Gara-gara Banyak Lockdown, Laju Pertumbuhan Ekonomi Tiongkok Anjlok

Ekonomi Tiongkok tumbuh sangat rendah, yakni 0,4 persen pada kuarter kedua.


zoom-inlihat foto
Warga-Xian.jpg
STR / AFP
Dua orang terlihat melintas di sebuah jalan di Kota Xian, Tiongkok, 31 Desember 2021, di tengah pemberlakuan karantina.


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Pertumbuhan ekonomi Tiongkok dilaporkan melambat pada kuarter kedua tahun ini.

Biro statitik mengatakan produk domestik bruto (PDB) Tiongkok terkontraksi 2,6 persen antara April dan Juni dibandingkan dengan kuarter sebelumnya.

Penurunan ini membuat banyak ekonom merevisi prediksi mereka tentang ekonomi Tiongkok.

Dikutip dari The Guardian, ekonomi Tiongkok tumbuh sangat rendah, yakni 0,4 persen pada kuarter kedua.

Angka itu merupakan yang terendah sejak bulan-bulan pertama pandemi pada tahun 2020.

Bahkan, angka itu juga lebih rendah daripada perkiraan para ekonom, yakni 1 persen.

Konsultan Capital Economics mengatakan angka sebenarnya barangkali lebih rendah karena Tiongkok bisa jadi berusaha menyembunyikan kelesuan ekonomi saat ini.

"Bahkan, dengan beberapa manipulasi angka, susah membayangkan bagaimana pertumbuhan 'sekitar 5,5 persen' yang ditargetkan pemerintah tahun ini bisa tercapai," kata ekonom Julian Evans-Pritchard dikutip dari The Guardian.

Kata Evans-Pritchard, meski muncul tanda-tanda pemulihan, misalnya dalam penjualan ritel, pertumuhan ekonomi kemungkinan tetap relatif rendah pada kuarter berikutnya.

Baca: Aplikasi Covid-19 di Tiongkok Dituding Halangi Pengunjuk Rasa Lakukan Protes

Warga Kota Xian di Tiongkok sedang mengantre tes Covid-19, 4 Januari 2022.
Warga Kota Xian di Tiongkok sedang mengantre tes Covid-19, 4 Januari 2022. (STR / AFP)

"Kami memperkirakan angka PDB resmi agar bisa mencapai pertumbuhan 3 hingga 4 persen tahun ini dengan upaya besar, tetapi kenyataannya akan mendekati pertumbuhan nol sepanjang tahun ini," kata dia.

Ada tanda-tanda bahwa ekonomi sedang melambat.

Statistik pekan ini menunjukkan impor pada kuarter kedua hanya tumbuh 0,1 persen.

Pada hari Jumat, (15/7/2022), biro statistik mengatakan jumlah penganggur usia muda telah meningkat 19,3 persen.

Kecenderungan kenaikan ini disebabkan oleh lockdown atau karantina di beberapa wilayah di Tiongkok, termasuk di Shanghai yang menjadi kota perdagangan.

Banyak karantina telah dicabut dan data pada bulan Juni menunjukkan adanya peningkatan.

Namun, pakar tidak memperkirakan adanya pemulihan ekonomi yang cepat di Tiongkok.

Baca: Tiongkok Akan Memulai Perang jika Taiwan Berani Nyatakan Kemerdekaannya

Pelambatan ekonomi terjadi setelah kota terbesar di Tiongkok, Shanghai, dikarantina selama dua bulan karena kasus Covid-19 melonjak.

Karantina ini mengganggu rantai pasokan dan memaksa pabrik-pabrik menghentikan operasinya.

Tiongkok hingga kini masih memberlakukan kebijakan "nol Covid-19).

Jika di suatu wilayah muncul klaster Covid-19, wilayah tersebut bisa dikarantina.

"Di dalam negeri, dampak epidemi masih belum hilang," demikian pernyataan biro statistik pada hari Jumat.

"Risiko stagflasi dalam ekonomi dunia kini meningkat."

Baca: Beijing Terancam Di-lockdown, Pesta Pernikahan & Upacara Pemakaman Dilarang, Sekolah Tutup

(Tribunnewswiki)

Baca berita lainnya tentang Tiongkok di sini











KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2022 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved