Presiden ACT Ibnu Khajar Bantah Tudingan ACT Danai Aksi Terorisme

Lembaga ACT dikabarkan ikut mendanai aksi terorisme. Namun, hal tersebut dibantah oleh Presiden ACT Ibnu Khajar.


zoom-inlihat foto
111-Ibnu-Khajar.jpg
Tribunnews.com/Naufal Lanten
Ibnu Khajar selaku Presiden ACT


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Lembaga Aksi Cepat Tanggap (ACT) dituding menggunakan dana operasional untuk aktivitas terlarang.

Hal tersebut diungkap oleh Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK).

PPATK menyebut ACT turut mendanai aksi terorisme.

Dikutip dari Tribunnews, Presiden ACT Ibnu Khajar dengan tegas membantah kabar tersebut.

Ibnu mengaku tak tahu serta bingung atas tuduhan pendanaan aksi radikal dan terorisme.

"Dana yang mana? Kami tidak pernah berurusan dengan teroris," ujar Ibnu Khajar dalam konferensi pers di Kantor ACT, di Menara 165, Jakarta Selatan, Senin (4/7/2022).

Sebelumnya, PPATK mengindikasikan adanya transaksi yang diduga berkaitan dengan aktivitas terorisme oleh lembaga ACT.

PPATK pun sudah menyerahkan hasil pemeriksaan transaksi ACT ke sejumlah lembaga aparat penegak hukum, seperti Densus 88 serta Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) untuk dilakukan pendalaman lebih lanjut.

Baca: ACT (Aksi Cepat Tanggap)

"Kami sebetulnya bingung, kami diundang, kami datang. Di tiap program kami, selalu mengundang entitas seperti gubernur, menteri juga selalu datang. Terakhir itu distribusi bantuan pangan dilakukan di depan Mabes TNI, kami kerja sama dengan Pangdam Jaya," kata Ibnu.

Ibnu mengakui adanya bantuan yang dikirimkan ke Suriah.

Namun, bantuan tersebut dikirimkan hanya kepada korban perang di sana dan bukan untuk aksi terorisme.

Baca: Total Dana Operasional yang Dihimpun Tahun 2022 Capai Rp519 Miliar, ACT Gunakan 13,7 Persennya

"Bantuan ke Suriah itu kan ditanya, apakah ACT mengirimkan untuk pemerintah yang Syiah atau pemberontak yang ISIS? Kami sampaikan, untuk kemanusiaan itu tidak boleh bertanya kepada siapa yang kami bantu? Agamanya apa enggak penting."

"Kami berikan bantuan, mereka Syiah atau ISIS, karena mereka korban perang. Jadi kalau dibawa kemana-mana, kami jadi bingung. Dana yang disebut untuk teroris itu dana yang mana?" papar Ibnu.

Sebelumnya diberitakan, lembaga ACT dituding menyelewengkan dana sumbangan dari umat.

Bahkan, tagar #JanganPercayaACT menjadi trending di Twitter.

Pengguna Twitter mempertanyakan transparansi ACT dalam hal penyaliran dana donasi.

Tak hanya itu, CEO ACT pun diduga mendapat gaji sebesar Rp 250 juta per bulan, serta diberi fasilitas mobil mewah, seperti mobil Alphard atau Fortuner.

(TRIBUNNEWSWIKI.COM/PUAN)











KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2022 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved