Densus 88 Selidiki Temuan PPATK tentang Dugaan Transaksi ACT untuk Kegiatan Terorisme

Lembaga amal ACT dituding turut mendanai kegiatan terorisme. Tak hanya itu, ACT juga dituding melakukan penyelewengan dana.


zoom-inlihat foto
20-ACT.jpg
istimewa
ACT


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) melaporkan dugaan transaksi oleh lembaga amal Aksi Cepat Tanggap (ACT) untuk kegiatan terorisme.

Dikutip dari Tribunnews, mengetahui kabar tersebut, Kabag Banops Densus 88 Antiteror Polri Kombes Pol. Aswin Siregar mengatakan pihaknya masih mendalami temuan PPATK itu.

Aswin mengungkapkan kasus ini pun masih dalma proses penyelidikan oleh penyidik Densus 88.

"Terima kasih infonya. Permasalahan ini masih dalam penyelidikan Densus 88," ujar Aswin saat dikonfirmasi, Selasa (5/7/2022).

Kendati begitu, Aswin belum dapat merinsi mengenai laporan hasil analisis yang diberikan PPATK soal transaksi ACT.

Oleh karena itu, kasus tersebut masih dalam penanganan internal Densus 88.

Seperti diketahui, lembaga amal ACT dituding melakukan penyelewangan dana serta mendanai aksi terorisme.

Namun, Presiden ACT Ibnu Khajar dengan tegas membantah kabar tersebut.

Ibnu mengaku tak tahu serta bingung atas tuduhan pendanaan aksi radikal dan terorisme.

Baca: ACT (Aksi Cepat Tanggap)

"Dana yang mana? Kami tidak pernah berurusan dengan teroris," ujar Ibnu Khajar dalam konferensi pers di Kantor ACT, di Menara 165, Jakarta Selatan, Senin (4/7/2022).

"Kami sebetulnya bingung, kami diundang, kami datang. Di tiap program kami, selalu mengundang entitas seperti gubernur, menteri juga selalu datang. Terakhir itu distribusi bantuan pangan dilakukan di depan Mabes TNI, kami kerja sama dengan Pangdam Jaya," imbuh Ibnu.

Namun, Ibnu mengakui adanya bantuan yang dikirimkan ke Suriah.

Namun bantuan tersebut dikirimkan hanya kepada korban perang di sana dan bukan untuk aksi terorisme.

Baca: Total Dana Operasional yang Dihimpun Tahun 2022 Capai Rp519 Miliar, ACT Gunakan 13,7 Persennya

"Bantuan ke Suriah itu kan ditanya, apakah ACT mengirimkan untuk pemerintah yang Syiah atau pemberontak yang ISIS? Kami sampaikan, untuk kemanusiaan itu tidak boleh bertanya kepada siapa yang kami bantu? Agamanya apa enggak penting."

"Kami berikan bantuan, mereka Syiah atau ISIS, karena mereka korban perang. Jadi kalau dibawa kemana-mana, kami jadi bingung. Dana yang disebut untuk teroris itu dana yang mana?" papar Ibnu.

Beredarnya kabar mengenai ACT tersebut hingga menjadi treding di Twitter.

Bahkan, muncuk tagar #JanganPercayaACT.

Pengguna Twitter mempertanyakan transparansi ACT dalam hal penyaliran dana donasi.

Tak hanya itu, CEO ACT pun diduga mendapat gaji sebesar Rp250 juta per bulan serta diberi fasilitas mobil mewah, seperti mobil Alphard atau Fortuner.

(TRIBUNNEWSWIKI.COM/PUAN)











KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2022 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved