TRIBUNNEWSWIKI.COM - Mahkaman Agung (MA) Amerika Serikat (AS) membalikkan keputusan mengenai hak aborsi di negara itu, (24/6/2022).
Dengan keputusan ini, hak konstitusional wanita di AS untuk melakukan aborsi tidak lagi diakui.
Presiden AS Joe Biden mengaku sedih dengan keputusan ini, bahkan mencelanya.
Menurutnya, keputusan ini bakal mengubah drastis hidup jutaan wanita di negara yang dipimpinnya.
Keputusan ini, kata dia, juga akan memperburuk ketegangan di AS yang sudah terpolarisasi.
Dilansir dari Reuters, keputusan ini diduga juga bisa mengubah peta kekuasaan dalam pemilu di AS bulan November mendatang.
"Hari yang buruk bagi MA dan negara ini," kata Biden di Gedung Putih.
"MA telah melakukan apa yang belum pernah terjadi sebelumnya, yakni dengan tegas mengambil hak konstitusional yang amat penting bagi banyak warga Amerika."
Baca: Sejumlah Aktivis Perempuan di Polandia Gelar Demonstrasi Protes UU Aborsi
Baca: Ratusan Perempuan Meksiko Bentrok dengan Polisi di Unjuk Rasa Hari Aborsi Aman Internasional
Biden mencela dan menganggapnya sebagai "jalan yang ekstrem dan berbahaya".
Melalui keputusan ini, sebanyak 26 negara bagian diperkirakan akan melarang tindakan aborsi yang tidak sesuai dengan ketentuan.
Menurut Biden, memberikan kewenangan kepada negara bagian untuk melarang aborsi akan membuat AS menjadi yang "terjauh" di antara negara-negara berkembang dalam hal perlindungan hak reproduksi".
Biden kemudian mendesak DPR untuk mengesahkan RUU tentang perlindungan hak aborsi.
Kata dia, pemerintahannya bakal membantu para wanita di AS untuk mendapatkan akses pengobatan yang telah disetujui oleh Badan Makanan dan Obat-obatan AS (FDA).
Pengobatan tersebut termasuk pil kontrasepsi dan aborsi medis.
Baca: Klinik Aborsi di Jakarta Pusat Bagikan Untung 50 Persen ke Calo, Pasien Tanpa Calo Harga Lebih Mahal
Selain itu, pemerintahannya juga akan berusaha melawan sejumlah upaya yang ditujukan untuk menghalangi wanita yang akan pergi ke negara lain guna melakukan aborsi.
Sejumlah negara lain turut buka suara mengenai keputusan tersebut.
Inggris dan Prancis menyebut keputusan itu sebagai kemunduran di AS.
Namun, ada pula yang mendukung, misalnya Vatikan yang menganggapnya bisa membuat orang merenungkan masalah kehidupan.
Sejumlah perusahaan AS, seperti Walt Disney dan Meta Platform yang merupakan induk Facebook, mengatakan bakal membayar biaya karyawannya yang akan pergi ke negara bagian lain untuk melakukan aborsi.
Baca: Beroperasi Sejak 2018, Pasangan Suami Istri di Padang Ditangkap karena Jual Obat Aborsi di Apotek
(Tribunnewswiki)
Baca berita lainnya tentang aborsi di sini