TRIBUNNEWSWIKI.COM - Angka pasien di Korea Utara kian meroket tinggi sejak awal dilaporkan kasus pertama Covid-19 di Korea Utara, Kamis (12/5/2022).
Peningkatan kasus Covid-19 di Korea Utara ( Korut) ini langsung mendapat perhatian dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Tercatat kenaikan kasus Covid-19 di negara pimpinan Kim Jon Un ini tembus 232.880 kasus.
Media pemerintah juga telah membenarkan adanya gejala “demam” seperti kasus Covid-19 mencapai lebih dari 1,2 juta orang.
Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus menyampaikan keprihatinannya pada Korea Utara lantaran penduduknya tidak divaksinasi.
"Sangat prihatin dengan risiko penyebaran Covid-19 lebih lanjut di negara ini terutama karena penduduknya tidak divaksinasi dan banyak yang memiliki kondisi mendasar yang menempatkan mereka pada risiko penyakit parah dan kematian," ujar Tedros Adhanom Ghebreyesus, dilansir dari AFP.
Baca: PPLN yang Tiba di Bandara Soekarno-Hatta Tak Wajib Bawa Hasil Tes Covid-19, Simak Aturan Lengkapnya
Baca: Hadapi Gelombang Pertama, Korea Utara bahkan Tak Punya Vaksin Covid-19
Tak sampai di situ, fasilitas kesehatan di Korea Utara dinilai tidak lengkap.
Bahkan hanya memiliki beberapa unit perawatan intensif serta tidak memiliki obat perawatan Covid-19 atau kemampuan pengujian masal.
Para ahli juga memaparkan, sistem perawatan kesehatan di Korea Utara adalah salah satu yang paling buruk di dunia.
Sebelumnya diberitakan, Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, mengecam tanggapan negaranya terhadap wabah Covid-19.
Dilaporkan media pemerintah, Rabu (18/5/2022), Kim Jong Un menuduh pejabat pemerintah tidak memadai ketika kasus demam melanda negara itu.
"Ketidakmatangan dalam kapasitas negara untuk mengatasi krisis 'meningkatkan' kompleksitas dan kesulitan dalam memerangi pandemi," ujarnya, Selasa (17/5/2022), dilansir CNA.
Sejak mengumumkan wabah Covid-19, Korea Utara telah melaporkan 1,72 juta pasien dengan gejala demam, termasuk 62 kematian pada Selasa malam.
Namun, Korea Utara juga mengatakan situasi virus negara itu mengambil "belok yang menguntungkan".
Laporan itu tidak merinci atas dasar apa Korea Utara sampai pada penilaian positif seperti itu.
Negara ini belum memulai vaksinasi massal dan memiliki kemampuan pengujian yang terbatas.
Baca: Korea Utara Laporkan Kasus Covid-19 Pertama, WHO Siap Bantu Tangani
Baca: Hadapi Gelombang Pertama, Korea Utara bahkan Tak Punya Vaksin Covid-19
Hal ini membuat banyak ahli khawatir mungkin sulit untuk menilai seberapa luas dan cepat penyakit ini menyebar.
Menurut KCNA, Korea Utara telah mendorong untuk lebih menangani "pengumpulan, pengangkutan, dan pengujian spesimen dari orang-orang yang demam, sambil memasang fasilitas karantina tambahan".
KCNA juga mengatakan pejabat kesehatan telah mengembangkan panduan pengobatan Covid-19 yang bertujuan untuk mencegah overdosis obat dan masalah lainnya.
Dalam menghadapi wabah Covid-19 yang "meledak", Korea Utara telah mengerahkan angkatan bersenjatanya, termasuk 3.000 staf medis militer untuk sistem pengiriman obat 24 jam, dengan 500 kelompok respons untuk mengonfirmasi dan merawat pasien yang terinfeksi, kata media pemerintah.
(TRIBUNNEWS/TRIBUNNEWSWIKI/Nuryanti/Ka)
Sebagian artikel ini telah tayang di Tribunnews dengan judul Kecam Penanganan Covid-19, Kim Jong Un Tuding Pejabat Korea Utara: Ketidakmatangan Atasi Krisis