TRIBUNNEWSWIKI.COM - Ibu kota Ukraina, Kiev, kembali dihantam oleh dua rudal penjelajah Rusia, (29/4/2022).
Pada hari yang sama, Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres juga tengah berada di Kiev.
Suara ledakan rudal tersebut terdengar hari Kamis malam setelah Guterres mengunjungi lokasi yang diduga sebagai kuburan massal di pinggiran Kiev.
Dalam kunjungan itu Guterres sempat bertemu dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy.
Serangan rudal itu mendapat sorotan karena terjadi sehari setelah Guterres bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.
Menteri Pertahanan Ukraina mengecam serangan itu dan menyebutnya sebagai serangan terhadap "keamanan Sekjen dan keamanan dunia".
Korban luka
Dikutip dari The Guardian, serangan rudal tersebut dilaporkan telah melukai sepuluh warga Kiev.
Wali Kota Kiev Vitali Klitscho mengatakan salah satu rudal meledak di pusat Distrik Shevchenkivskyi.
Baca: Tak Tinggal Diam, Kanada Bakal Gunakan Aset Rusia yang Disita untuk Bantu Korban Perang di Ukraina
Rudal itu menghantam gedung berlantai 25 yang menjadi tempat tinggal warga.
Satgas Darurat Ukraina mengatakan rudal meledak sekitar pukul 20.13 waktu setempat.
"Akibat rudal musuh, api muncul di bangunan perumahan warga berlantai 25 dan mengancurkan sebagian lantai 1 dan 2," kata Satgas itu melalui Telegram, dikutip dari The Guardian.
Namun, satu jam kemudian Satgas berhasil memadamkan api, sedangkan tim SAR tetap bertugas mencari korban dan melakukan penyelamatan.
Evakuasi warga dari Azovstal
Dalam kunjungannya, Guterres membahas rencana evakuasi warga sipil dari pabrik baja Azovstal.
Pabrik tersebut kini dikepung oleh pasukan Rusia dan menjadi benteng terakhir pasukan Ukraina di Kota Mariupol.
Baca: Mulai Muak, Putin Beri Ancaman Serangan Secepat Kilat Jika NATO Berani Campur Tangan di Ukraina
Baca: Microsoft: Hacker Rusia Sudah Jalankan Operasi Siber di Ukraina Setahun sebelum Invasi
Di dalam pabrik itu juga terdapat sejumlah warga sipil yang bersembunyi.
Sehari sebelumnya, ketika dikunjungi oleh Guterres, Putin setuju untuk melibatkan Palang Merah Internasional dan PBB untuk melakukan evakuasi di Azovstal.
"Seperti yang kami bicarakan, ada diskusi intens untuk mewujudkan rencana [evakuasi] ini," kata Guterres.
"Saya hanya bisa berkata bahwa kami sedang melakukan segala yang kami bisa untuk mewujudkannya."