TRIBUNNEWSWIKI.COM - Perdana Menteri (PM) Ukraia Denys Shmyhal menyatakan bahwa lebih dari 300.000 kilometer persegi tanah di Ukraina dipenuhi ranjau.
"Kami menghadapi tantangan pembersihan ranjau yang belum pernah terjadi sebelumnya. Kami perlu membersihkan ranjau-ranjau seluas lebih dari 300.000 kilometer persegi, ranjau-ranjau ini hanya ditutupi dengan amunisi dan bom yang tidak meledak," kata Shmyhal dalam sebuah wawancara dengan saluran TV Ukraina.
Dikutip Tribunnews.com dari laman Ukrinform, Rabu (27/4/2022), ia menegaskan bahwa Ukraina meminta seluruh mitra internasional untuk membantu dalam masalah ini.
Shmyhal pun mengangkat masalah ini selama kunjungan kerjanya ke Amerika Serikat (AS) pada 21 dan 22 April lalu.
Sementara itu, Kabinet Menteri Ukraina juga mulai mendirikan pusat ranjau internasional.
Baca: Putin Menuding Barat Hasut Ukraina untuk Bunuh Jurnalis Rusia Bernama Solovyev
Usai dimulainya invasi Rusia terhadap Ukraina, sebagian wilayah Ukraina kini berubah menjadi 'tambang' bahan peledak, dan dianggap sebagai 'area berbahaya'.
Lebih lanjut, Menteri Dalam Negeri Ukraina Denys Monastyrsky mengatakan, butuh waktu bertahun-tahun untuk dapat menjinakan persenjataan yang tak meledak itu usai perang berakhir.
"Sejumlah besar peluru dan ranjau telah ditembakkan ke Ukraina dan sebagian besar belum meledak. Persenjataan ini tetap berada di bawah puing-puing dan menimbulkan ancaman nyata, butuh waktu bertahun-tahun untuk meredakannya," kata Monastyrsky.
Sebagai informasi, wilayah Ukraina yang berubah menjadi tambang ranjau nyatanya tidak hanya Rusia yang membuat hal itu, namun pasukan Ukraina pun telah menanam ranjau darat di jembatan, bandara dan lokasi penting lainnya.
Hal ini dilakukan sebagai bentuk pencegahan agar Rusia tidak menggunakan fasilitas tersebut.
Baca: Rusia Minta AS Berhenti Kirim Senjata ke Ukraina: Seperti Menyiramkan Minyak ke Api
Baca: Di Tengah Konflik Ukraina, Menlu Rusia: Ancaman Perang Nuklir Itu Nyata, Tak Bisa Diremehkan
(TRIBUNNEWSWIKI.COM/Anindya)
Baca selengkapnya terkait invasi Rusia di sini