TRIBUNNEWSWIKI.COM - Presiden Rusia Vladimir Putin sudah mengumumkan kemenangan pasukan Rusia dalam pertempuran di Mariupol, Ukraina, (21/4/2022).
Namun, masih ada sejumlah tentara Ukraina dan warga sipil yang bersembunyi di kompleks pabrik baja Azovstal.
Putin memilih tidak memerintahkan pasukannya untuk menyerang pabrik tersebut.
Dia hanya meminta pasukan Rusia untuk mengepung pabrik sehingga tidak ada yang bisa keluar.
Meski demikian, menurut media Barat, kemenangan di Mariupol harus dibayar mahal oleh Rusia.
Rusia dilaporkan kehilangan banyak pasukan di Mariupol. Selain itu, jika Rusia menyerang pabrik baja Azovstal, akan ada lebih banyak tentara yang tewas.
Dikutip dari The New York Times, menurut Ukraina, pasukan Rusia di Mariupol sudah babak belur dan terdampak parah.
Baca: Puluhan Kota Kecil di Ukraina Direbut Rusia dalam Pertempuran Sengit
Pengamat militer Barat mengatakan pejuang Ukraina di Mariupol sudah membunuh banyak pasukan elite Rusia dan tentara berpangkat tinggi.
Mariupol menjadi salah satu medan pertempuran sengit antara pasukan Ukraina dan Rusia.
Pasukan Rusia sudah mengepung kota tersebut selama sekitar 50 hari.
Diperkirakan 95 persen bangunan di Mariupol telah hancur terkena serangan.
Namun, pasukan Ukraina diperkirakan masih bisa terus menyergap dan menyerang pasukan Rusia yang memasuki kota itu.
"Pasukan Rusia yang terlibat dalam pertempuran di Mariupol sepertinya terdampak parah," kata kelompok analis di Institute of War.
Baca: AS Kirimkan Bantuan Drone Hantu ke Ukraina, Dirancang Khusus untuk Menyerang
Baca: Putin Nyatakan Rusia Sudah Menang di Mariupol, Medan Tempur Terbesar di Ukraina
Badan intelijen Inggris mengatakan pilihan untuk mengepung pabrik baja Azovstal menunjukkan bahwa Rusia ingin menahan pejuang Ukraina dan memindahkan sejumlah tentara Rusia untuk dikerahkan di tempat lain di Ukraina timur.
Pejabat militer Barat memperkirakan ada sekitar 12 batalion taktis Rusia di Mariupol pada pekan ini.
Setiap batalion terdiri atas 700 hingga 1.000 tentara. Diperkirakan batalion tersebut sudah tidak memiliki kekuatan penuh.
Wakil Perdana Menteri Ukraina Iryna Vereshchuk mengatakan Rusia tidak akan membiarkan warga sipil keluar dari pabrik baja, kecuali tentara yang ada di dalamnya bersedia menyerah.
Vereshchuk memperkirakan ada sekitar 1.000 warga sipil di Azovstal, di antara mereka banyak wanita, anak-anak, dan lansia.
Kata dia, Rusia memang membuka jalur bagi tentara untuk keluar dan menyerah.
Namun, Rusia tidak menjamin keamanan warga sipil yang akan keluar menyelamatkan diri.
Baca: PM Inggris: Negosiasi dengan Putin dalam Konflik Ukraina bak Berurusan dengan Buaya
(Tribunnewswiki)
Baca berita lainnya tentang konflik Ukraina-Rusia di sini