TRIBUNNEWSWIKI.COM - Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) berencana membuat pangkalan militer permanen di perbatasan untuk mencegah invasi Rusia berikutnya.
Hal ini diungkapkan oleh Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg ketika diwawancarai The Telegraph.
Menurutnya, NATO kini tengah melakukan "transformasi penting" untuk menanggapi invasi Rusia ke Ukraina.
"Apa yang kini kita lihat adalah kenyataan baru, kenormalan baru bagi keamanan Eropa," kata Stoltenberg dikutip dari Reuters, (10/4/2022).
"Oleh karena itu, kami kini meminta para komandan militer kami untuk menyediakan opsi atas apa yang kami sebut sebagai pengaturan ulang, adapatasi jangka panjang dari NATO."
Dia mengatakan sekutu NATO bisa meningkatkan keberadaan militer NATO di negara-negara seperti Estonia dan Latvia.
Sebelum invasi Rusia ke Ukraina terjadi, telah ada militer NATO di sayap timur Eropa untuk berjaga-jaga seandainya invasi Rusia terjadi.
Kata Stoltenberg, NATO memliki 40.000 pasukan di perbatasan timur. Jumlah tentara ini sepuluh kali lipat daripada jumlah sebelum invasi.
Baca: North Atlantic Treaty Organization (NATO)
Baca: Pernah Sebut Putin Pemimpin Nomor Satu, Mantan PM Italia Berlusconi Kini Kecewa dengan Putin
"Saya memperkirakan para pemimpin NATO akan membuat keputusan tentang hal ini ketika mereka bertemu di Madrid untuk pertemuan tingkat tinggi NATO pada bulan Juni," kata dia dikutip dari The Independent.
Dia menyebut NATO harus memastikan bahwa sekutunya terlindungi dan diberi pertahanan.
Nato dipuji Biden
Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden sempat memuji kekompakan anggota NATO, Kamis, (24/3/2022).
Pujian itu diucapkannya saat menghadiri rapat NATO dan sekutunya yang berlangsung di Brussels, Belgia.
Dalam rapat itu, para pemimpin NATO setuju untuk mengirimkan lebih banyak pasukan guna melindungi Eropa Timur.
Baca: Banyak Bantuan Dikirim ke Ukraina, Joe Biden Memuji: NATO Tak Pernah Sekompak Ini
Baca: Di Depan Pemimpin NATO, Joe Biden Sebut Rusia Sebaiknya Dikeluarkan dari G20
Selain itu, akan ada lebih banyak bantuan militer yang diberikan kepada Ukraina untuk melawan tentara Rusia.
Kendati demikian, Joe Biden sebelumnya sempat menegaskan bahwa NATO tidak akan mengirimkan pasukan ke Ukraina.
"NATO tidak pernah, tidak pernah lebih kompak daripada saat ini," kata Biden dikutip dari Euronews.
"Putin mendapatkan kebalikan dari apa yang dia inginkan."
Biden mengatakan akan ada lebih banyak bantuan yang mengalir ke Ukraina.
Kendati demikian, negara-negara Barat juga menginginkan agar berhati-hati agar tidak membuat konflik di Ukraina menyebar ke negara lain.
Baca: Stasiun Kromatorsk Ukraina Dihantam Roket Rusia: 50 Orang Tewas, 5 Diantaranya Anak-anak
(Tribunnewswiki)
Baca berita lainnya tentang konflik Ukraina-Rusia di sini