Varian Baru Omicron Siluman, Pakar Sebut Lebih Infeksius Daripada Varian Lainnya

Covid-19 varian baru yakni Omicron Siluman disebut lebih menginfeksi daripada varian lainnya, meskipun gejala yang ditimbulkan sama dengan Omicron.


zoom-inlihat foto
1-Varian-delta.jpg
The Scotsman
Ilustrasi varian baru virus corona, yakni varian Omicron Siluman


Hal itu disebabkan, kasus kematian termasuk dalam kategori indikator telat.

"Namanya indikator telat, dia kejadiannya belakangan, bahkan 3-4 minggu sejak kasus (lonjakan) infeksinya. Karena orang sekarang terinfeksi, itu kan yang terdeteksi paling bagus 20 persen. Sisanya itu nggak terdeteksi," papar Dicky.

Dari orang-orang yang tidak terdeteksi ini menimbulkan 2 skenario penambahan kasus kematian akibat Covid-19.

Skenario pertama yakni bagi pasien berisiko tinggi, umumnya paling cepat dalam 2 minggu seak terinfeksi, baru kemudian terlihat kondisi yang cukup membahayakan.

"Umumnya setelah dirawat 1 mingguan baru kematian terjadi. Atau skenario kedua terjadi dari orang yang tidak terdeteksi ini terus menularkan, sampai dia menularkan kelompok rawan atau yang berisiko. Akhirnya dia akan meninggal juga setelah sakit 1-2 minggu itu," terang dia.

"Itu kenapa saat kasus menurun, kita masih akan melihat tren meningkat kasus kematian," lanjut Dicky.

Baca: Hadapi Lonjakan Kasus Omicron, Hong Kong Mulai Memvaksin Balita Umur 3 Tahun

Percepatan Vaksinasi dan Deteksi Dini

Meski telah mendapatkan vaksin lengkap, namun Omicron Siluman dapat menginfeksi siapa pun.

Tetapi, data menunjukkan bahwa orang yang sudah mendapatkan dosis vaksin lengkap hanya mengalami gejala ringan saja, dibandingkan orang yang belum atau baru satu kali vaksin.

Oleh sebab itu, sebagai upaya meminimalisir bahaya ancaman Omicron Siluman, Dicky menyarankan agar terus menggiatkan vaksinasi. Bukan hanya booster, namun juga vaksinasi primer dosis I dan dosis II.

"Kembali ke vaksinasi, dua dosis, tiga dosis, ini yang harus dikejar. Bahkan menurut saya harus kejarnya ke populasi umum mendapat 3 dosis di setidaknya 50 persen pada saat sebelum Lebaran," ucap Dicky.

"Saya mendapat banyak laporan kematian pada kelompok komorbid, yang usianya belum lansia. Ini harus menjadi peringatan dan kewaspadaan. Solusinya percepatan booster, yang saat ini harus dikejar betul, terutama untuk lansia dan komorbid. Kemudian paralel untuk umum," katanya.

Dicky menambahkan, meski pelaksanaan vaksinasi oleh Pemerintah kini sudah terbilang cukup baik, tetapi manajemen vaksinasi harus lebih diefektifkan. Seiring dengan kendala yang masih ditemukan, kata Dicky, juga harus dihindari.

"Menyangkut manajemen di lapangan, karena seperti kemarin ada 6 juta dosis yang terpaksa kedaluwarsa. Seperti itu yang harus dikurangi. Pangkas birokrasi sehingga vaksin bisa langsung ke daerah untuk diberikan, dan tidak lama parkir di pusat," tuturnya.

"Laporan (vaksinasi) saat ini juga harus ditingkatkan juga supaya real time antara pusat dan daerah. Ini yang jadi kendala karena vaksin lama terparkir di pusat dan daerah yang membutuhkan jadi tidak terdistribusi," sambung Dikcy.

Selain vaksinasi, hal yang perlu diperhatikan lebih yakni deteksi dini kasus Covid-19. Pemerintah sempat mengakui deteksi dini yang dilakukan pihaknya masih kurang optimal.

Masalah deteksi dini dengan risiko kematian pasien, kata Dicky, berisiko tinggi sangat erat kaitannya.

"Setidaknya 70-80 persen dengan prioritas kelompok risiko tinggi berkontribusi pada angka kematian dan parahnya sakit, jika deteksi dini baik, itu nggak akan terjadi," ucapnya.

"Bahwa kasus infeksinya turun, nanti kematiannya ketika ada pun tidak meningkat, tidak menjadi kontradiktif dengan kasus yang menurun tadi. Karena kita sudah bisa mendeteksinya dan mencegah sejak awal," imbuh Dicky.

Menurut Dicky, permasalahan deteksi dini kurang optimal, tak hanya terjadi di Indonesia, banyak pula negara yang deteksi dininya rendah, menyebabkan kasus pasien berisiko juga tidak terdeteksi, hingga menimbulkan kematian.





Halaman
123
BERITATERKAIT
Ikuti kami di
KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2026 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved