TRIBUNNEWSWIKI.COM - Rusia dihujani banyak sanksi ekonomi karena nekat menyerbu Ukraina.
Hal ini membuat negara yang dipimpin Vladimir Putin itu makin terkucil dalam bidang politik dan ekonomi.
Saat ini sanksi yang dijatuhkan oleh negara-negara Barat juga jauh lebih banyak daripada sebelumnya.
Tak hanya itu, negara Barat juga berjanji akan memberikan bantuan militer kepada Ukraina guna melawan Rusia.
Dilansir dari Reuters, (28/2/2022), berbagai sanksi itu membuat nilai mata uang Rusia, rubel, anjlok hampir 30 persen dibandingkan dengan dolar.
Anjloknya rubel terjadi setelah pada hari Sabtu, (26/2/2022), lalu setelah negara-negara Barat mengumumkan akan memblok sejumlah bank Rusia dari sistem pembayaran internasional SWIFT.
Beberapa anak usaha Sberbank yang mayoritas dimiliki oleh pemerintah Rusia diduga bakal tumbang akibat biaya operasional perang di Ukraina.
Baca: Putin Ingin Selesaikan Invasi Rusia di Ukraina dengan Kemenangan pada 2 Maret
Baca: Perwakilan Rusia dan Ukraina Akan Bertemu di Perbatasan Belarusia, Rencanakan Gelar Dialog
Sementara itu, Jepang juga diminta untuk memblok Rusia dari SWIFT dan mempertimbangkan menjatuhkan sanksi kepada sejumlah orang di Belarusia.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Uni Eropa pada hari Minggu lalu mengirimkan bantuan senjata kepada sebuah negara yang sedang berperang.
Organisasi itu berjanji akan mengirimkan jet tempur ke Ukraina.
Kepala Eksekutif Uni Eropa Ursula von Leyen mengungkapkan dukungannya kepada Ukraina.
Leyen mengatakan, "Ukraina adalah salah satu dari kami." Uni Eropa juga memutuskan melarang pesawat Rusia terbang di atas langit Eropa.
Hal ini membuat maskapai Aeroflot asal Rusia membatalkan semua penerbangan dengan tujuan Eropa.
Selain itu, Uni Eropa memutuskan melarang media Rusia, RT dan Sputnik.
Baca: Sosok Olena Zelensky, Istri Presiden Ukraina yang Berjanji Tak Akan Kabur dari Serangan Rusia
Baca: Uni Eropa Segera Kirim Bantuan Senjata ke Ukraina untuk Lawan Rusia
Perusahaan-perusahaan besar tidak mau ketinggalan. Sebagai contoh, perusahaan minyak Inggris, British Petroleum, mengatakan bakal mencabut sahamnya pada perusahaan minyak asal Rusia, Rosneft
Di berbagai belahan dunia, banyak aksi unjuk rasa yang digelar untuk memprotes invasi Rusia.
Di Rusia sendiri dilaporkan ada sekitar 6.000 orang yang berkumpul untuk memprotes tindakan pemerintah Rusia.
Aksi protes besar-besaran juga digelar di Eropa. Bahkan, di Berlin jumlah pengunjuk rasa mencapai lebih dari 100.000 orang.
Sementara itu, Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada hari ini menggelar pertemuan darurat untuk membahas invasi Rusia.
Baca: Invasi Rusia ke Ukraina, Putin Perintahkan Pasukan Strategisnya, Termasuk Senjata Nuklir Siaga Penuh
(Tribunnewswiki)
Baca berita lainnya tentang krisis Ukraina-Rusia di sini