Anton mengungkapkan warga yang berada di hutan masih kesulitan logistik meski sempat ada bantuan, tetapi tidak tersalurkan dengan baik.
"Kalau logistisk, belum bisa dikondisikan karena posisi sangat semrawut dan tidak bisa dikondisikan. Informasinya, ada logistik dari PAC Ansor Bener. Tapi tidak ada yang nerima dan bagikan, pengelolaannya belum baik," ujarnya.
Warga lain, Budi (nama samaran) pun membenarkan bahwa banyak warga lari ke hutan sejak pengepungan terjadi.
"Kami lihat tadi malam Brimob masih ada. Warga lari ke alas (hutan) sejak awal pengepungan itu, warga di kejar-kejar sampai malam. Sampai sekarang masih ada yang di alas. Kalau aparat lihat bisa dikejar, warga belum berani turun," katanya.
Ia menegaskan bahwa aktivitas warga masih lumpuh, terlebih anak-anak masih takut keluar dari rumah.
Baca: Ribuan Polisi Dikerahkan saat Pengukuran Lahan untuk Waduk di Desa Wadas, Warga Hanya Bisa Berdoa
Ganjar Hanya Temui Warga yang Pro Tambang
Sementara itu, menurut warga Desa yang menghadiri pertemuan melalui Zoom tersebut, menceritakan bahwa Gubernur Jawa Tengah Ganjar sama sekali tidak berbicara kepada warga yang diduga mendapat perlakuan kekerasan oleh aparat.
Akan tetapi, Ganjar disebut hanya menemui warga yang pro akan pengukuran lahan, dan hanya melewati warga yang kontra.
"Ganjar hanya menemuin warga yang pro dan tidak membicarakan warga yang mendapat kekerasan," kata dia.
"Sama sekali warga yang kontra dengan rencana pengukuran tidak ditemui dan hanya dilewatin dan masuk dengan dikawal sedemikian rupa," tambah dia,
Warga itu juga mengatakan, selama kunjungannya ke Desa Wadas, Ganjar tidak membahas soal kericuhan.
"Yang kontra cuma dilewati saja," katanya.
Bahkan, menurut warga Dusun Randuparang, Desa Wadas, Siswanto (30), aparat telah membredeli spanduk dan banner penolakan penambangan quarry sebelum kedatangan Ganjar Pranowo.
Ganjar mendatangi warga Desa Wadas, Kecamatan Bener, Kabupaten Purworejo, Rabu (9/2/2022) lalu.
"Ya jelas kondusif, kemarin sore (Selasa) banner-banner kami dicopoti polisi. Paginya (Rabu) juga dibersihkan lagi. Jadi Ganjar datang sudah bersih semua," ungkap Siswanto, Rabu.
Tak hanya itu, Siswanto mengaku bahwa hampir semua akses desa dijaga aparat gabungan sehingga mengakibatkan warga kontra penambangan quarry tak bisa keluar.
Siswanto menyebut ratusan anggota ormas juga sempat berjaga di sekitar rumahnya, dan hal itu membuat keluarganya ketakutan.
"Setiap jalan masuk RT dijaga polisi, ormas, brimop, juga sejumlah TNI. Semua warga takut khususnya yang kontra. Kalau pun mau keluar tidak berani," ungkap Siswanto, warga Dusun Randuparang.
Siswanto menuturkan, dari 11 dusun dan 7 di antaranya masuk daerah terdampak penambangan, 80 persen warga menolak rencana penambangaan.
Sementara itu, 20 persen sisanya pro atau setuju dengan proyek tersebut.