TRIBUNNEWSWIKI.COM - Kepala Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus mengkhawatirkan potensi "tsunami" varian Omicron dan Delta secara bersamaan.
Varian Omicron tengah menyebar di seluruh dunia dengan laju yang jauh lebih cepat daripada varian sebelumnya.
Terdeteksi pertama kali di kawasan Afrika Selatan, Omicron kini telah menjadi varian dominan di Amerika Serikat (AS) dan sebagian negara Eropa.
Berdasarkan data awal, Omicron terlibat kurang ganas dibandingkan dengan Delta.
Kendati demikian, WHO mengatakan masih terlalu dini untuk menyimbulkan bahwa infeksi akibat Omicron lebih ringan.
Diwartakan oleh Associated Press, (30/12/2021), dalam laporan minggu ini, WHO bahkan mengatakan "risiko keseluruhan" yang terkait dengan Omicron "masih sangat tinggi".
Baca: Kembali Pecahkan Rekor, Kasus Harian Covid-19 di AS Tembus Angka 265.000
Berdasarkan data WHO, jumlah kasus Covid-19 pekan lalu naik 11 persen dibandingkan dengan pekan sebelumnya.
Pada periode 20-26 Desember ada sebanyak 4,99 juta kasus konfirmasi Covid-19. Setengah dari angka itu disumbang oleh kasus baru di Eropa.
"Saya sangat khawatir bahwa Omicron, yang lebih mudah menular dan menyebar pada saat yang bersamaan dengan delta, sedang menyebabkan tsunami kasus," kata Tedros melalui konferensi daring, dikutip dari Associated Press.
Tedros mengatakan "tsunami" itu akan membuat tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan (faskes) makin kewalahan karena sebelumnya sudah terbebani.
Bahkan, faskes bisa tumbang jika dihantam oleh lonjakan kasus dua varian tersebut.
Baca: Epidemiolog Ingatkan Omicron dan Delta Bisa Lahirkan Varian Rekombinan Baru Berbahaya
Sementara itu, vaksinasi di 92 negara anggota WHO hingga kini masih belum mencapai target 40 persen.
Tedros mendorong kampanye vaksinasi agar 70 persen penduduk sudah divaksin per Juli tahun depan.
Mengakhiri kesenjangan dalam hal kesehatan, kata dia, adalah kunci untuk mengakhiri pandemi.
Dia bahkan mengatakan kegagalan mencapai target vaksinasi 40 persen pada tahun ini tidak hanya memalukan, tetapi juga merenggut nyawa penduduk.
Berbeda dengan Eropa dan AS, Afrika Selatan mencatat penurunan kasus Covid-19.
Baca: Risiko Rawat Inap akibat Omicron Disebut Lebih Rendah 40 Persen daripada Delta
Jumlah rawat inap di Afrika Selatan juga tidak melonjak drastis saat gelombang Omicron berada puncaknya.
Penelitian di Inggris dan Denmark juga menyimpulkan bahwa risiko rawat inap akibat Omicron lebih rendah.
AS yang baru saja mencatat rekor kasus harian, di atas 265.000, juga tidak melaporkan adanya lonjakan angka rawat inap.
Angka rawat inap di AS hanya mencapai setengah dari angka puncak pada bulan Januari lalu.
(Tribunnewswiki)
Baca berita lainnya tentang Omicron di sini