Informasi Awal #
TRIBUNNEWSWIKI.COM - Usmar Ismail merupakan seorang sutradara film, sastrawan film, pejuang dan Pahlawan Nasional Indonesia berdarah Minangkabau. Dia dikenal sebagai Bapak Film Indonesia.
Usmar Ismail lahir pada 20 Maret 1921 di Bukittinggi, Sumatera Barat.
Ia merupakan putra dari Datuk Tumenggung Ismail, guru Sekolah Kedokteran di Padang, dan ibunya yakni Siti Fatimah.
Ia memiliki seorang kakak yang juga terjun ke dunia sastra, yakni Dr. Abu Hanifah, yang menggunakan nama pena El Hakim. (1)
Dia menikah dengan Sonja Hermien Sanawi. Atas pernikahannya, dia dikaruniai 5 orang anak yaitu Irwan Usmar Ismail, Fadia Ayesha Ismail, Heidy Hermia Ismail, Nina Surachman, dan Nureddin Ismail.
Selain itu, Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan (Menko Pulhukam) Mahfud MD, mengumumkan empat tokoh gelar Pahlawan Nasional, salah satunya Usmar Ismail dari DKI Jakarta.
Gelar tersebut diresmikan tepat pada Hari Pahlawan yakni 10 November 2021.
Usmar Ismail dikenal sebagai bapak Perfilman yang menghasilkan film 'Darah dan Doa' (The Long March of Siliwangi) pada 1950, sekaligus sebagai film pertama yang secara resmi diproduksi oleh Indonesia sebagai sebuah negara berdaulat. (2)
Hari pertama syuting film inilah yang kemudian membuat BJ Habibie ketika menjabat presiden meresmikan hari tersebut sebagai Hari Film Nasional.
Guna mengenang jasanya pemerintah mengabadikan sebuah Gedung perfilman yang diberi nama Pusat Perfilman Usmar Ismail di Kuningan, Jakarta Selatan.
Usmar Ismail wafat pada 2 Januari 1971 dikarenakan sakit stroke, dalam usia hampir genap lima puluh tahun. (3)
Baca: Raden Aria Wangsakara
Pendidikan #
Usmar Ismail bersekolah di HIS (sekolah dasar) di Batusangkar. Kemudian ia melanjutkan pendidikannya di MULO (SMP) di Simpang Haru, Padang.
Ia bersekolah di AMS (SMA) di Yogyakarta. Usai tamat AMS, Usmar kemudian melanjutkan pendidikannya ke University of California di Los Angeles, Amerika Serikat.
Usmar diketahui telah menunjukkan bakat sastraya sejak masih duduk di bangku SMP. Kala itu, ia dan teman-temannya yakni Rosihan Anwar, berencana tampil dalam acara perayaan hari ulang tahun Putri Mahkota, Ratu Wilhelmina, di Pelabuhan Muara, Padang.
Usmar ingin menghadirkan sebuah pertunjukan dengan penampilan yang gagah, unik, dan mengesankan. Ia bersama teman-temannya kemudian hadir di perayaan terseut dengan menyewa perahu dan pakaian bajak laut.
Sayangnya, acara yang direncanakan itu gagal lantaran mereka baru sampai saat matahari tenggelam dan hampir pingsan karena kelelahan mengayuh perahu menuju Pelabuhan Muara.
Namun, acara yang gagal itu dicatat Rosihan Anwar sebagai tanda bahwa Usmar ismil memang berbakat menjadi seorang sutradara. Dia memiliki daya khayal untuk menyajikan tontonan yang menarik dan mengesankan.
Usai duduk di bangku SMA, di Yogyakarta, Usmar semakin terlibat dalam dunia sastra dnegan memperdalam pengetahuan dramanya serta aktif dalam kegiatan drama di sekolah.
Ia pun mulai mengirim karangan-karangan ke sejumlah majalah.
Bakatnya kian berkembang saat bekerja di Keimin Bunka Sidosho (Kantor Besar Pusat Kebudayaan Jepang). Di tempat itu, ia bersama Armijn Pane dan budayawan lainnya bekerja sama untuk mementaskan drama. (1)
Baca: Jenderal Soedirman
Perjalanan Karier #
Usmar Ismail bersama sang kakak, El Hakim dan Rosihan Anwar, Cornel Simanjuntak, serta H.B. Jassin, mendirikan kelompok sandiwara bernama Maya.
Maya mementaskan sandiwara berdasarkan teknik teater Barat. Hal itulah yang dianggap sebagai tonggak lahirnya teater modern di Indonesia.
Sandiwara yang dipentaskan Maya, termasuk "Taufan di Atas Asia (El Hakim)", "Mutiara dari Nusa Laut (Usmar Ismail)", "Mekar Melati (Usmar Ismail)", dan "iburan Seniman (Usmar Ismail)".
Setelah masa proklamasi kemerdekaan, Usmar pun menjalani dinas militer dan aktif di dunia jurnalistik di Jakarta.
Ia bersama dua rekannya Syamsuddin Sutan Makmur dan Rinto Alwi, mendirikan surat kabar bernama Rakyat.
Setelah dirinya hijrah ke Yogyakarta, Usmar juga sempat mendirikan harian Patrot dan bulanan Arena di kota tersebut.
Usmar, sempat dijebloskan ke penjara oleh Belanda, saat menjalankan profesinya sebagai wartawan. Dia dituduh terlibat kegiatan subversi. Kala itu, ia bekerja sebagai wartawan politik di kantor berita Antara. Usmar saat itu sedang meliput perundingan Belanda-RI di Jakarta, yang terjadi pada tahun 1948.
Kemudian, Usmar Ismail menaruh minatnya lebih serius pada dunia perfilman. Sebelumnya, saat di Yogyakarta, dia dan teman-temannya berkumpul hampir setiap minggu di suatu gedung di depan Stasiun Tugu, guna berdiskusi terkait seluk-beluk film.
Teman berdiskusinya antara lain Anjar Asmara, Armijn Pane, Sutarto, dan Kotot Sukardi.
Anjar Asmara ialah orang pertama yang menawari Usmar untuk menjadi asisten sutradara dalam film "Gadis Desa".
Setelah itu, mereka menggarap film "Harta Karun" dan "Cinta".
Film-film yang pernah disutradarai oleh Usmar Ismail, antara lain, “Darah dan Doa” (1950), “Enam jam di Yogya” (1951), “Dosa Tak Berampun” (1951), “Krisis” (1953), “Kafedo” (1953) “Lewat Jam malam” (1954), “Tiga Dara” (1955), dan “Pejuang” (1960).
Untuk mengenang jasanya, diabdikanlah namanya di sebuah gedung perfilman, yaitu Pusat Perfilman Usmar Ismail yang terletak di daerah Kuningan, Jakarta. (1)
Filmografi #
Harta Karun (diangkat dari karya Moliere) (1949)
Tjitra (berdasarkan naskah dramanya) (1949)
Darah dan Doa (1950)
Enam Djam di Djogja (1951)
Dosa Tak Berampun (1951)
Terimalah Laguku (1952)
Kafedo (1953)
Krisis (1953)
Lewat Djam Malam (1954)
Lagi-Lagi Krisis (1955)
Tamu Agung (1955)
Tiga Dara (1956)
Delapan Pendjuru Angin (1957)
Asrama Dara (1958)
Pedjuang (1960)
Toha, Pahlawan Bandung Selatan (1961)
Amor dan Humor (1961)
Anak Perawan di Sarang Penjamun (1962)
Bajangan di Waktu Fadjar (1962)
Holiday in Bali (1963)
Anak-Anak Revolusi (1964)
Liburan Seniman (berdasarkan naskah dramanya) (1965)
Ja, Mualim (1968)
Big Village (1969)
Ananda (1970) (4)
Baca: 17 AGUSTUS - Serial Pahlawan Nasional: Raden Mas Haji Oemar Said Tjokroaminoto
(TRIBUNNEWSWIKI.COM/Anindya)
| Nama | Usmar Ismail |
|---|
| Kelahiran | 20 Maret 1921 di Bukittinggi, Sumatera Barat |
|---|
| Wafat | 2 Januari 1971 |
|---|
| Almamater | University of California di Los Angeles, Amerika Serikat |
|---|
| Riwayat Karier | Sutradara, Produser Film, Penulis, Sastrawan, Wartawan |
|---|
| Julukan | Pahlawan Indonesia dan Bapak Perfilman Indonesia, |
|---|
| Pasangan | Sonja Hermien Sanawi |
|---|
| Anak | Irwan Usmar Ismail, Fadia Ayesha Ismail, Heidy Hermia Ismail, Nina Surachman, dan Nureddin Ismail |
|---|
Sumber :
1. badanbahasa.kemdikbud.go.id
2. tribunnews.com
3. kompas.com
4. id.wikipedia.org