Galeri Salihara Gelar Pameran Seni Rupa Bertajuk 'Mediascape: Material, Senses and Beyond'

Galeri Salihara menggelar pameran seni rupa bertajuk Mediacape: Material, Senses and Beyond.


zoom-inlihat foto
Foto-karya-Ultimate-Space-Pause-karya-seniman-Korea-Boo-Ji-Hyun-2.jpg
Komunitas Salihara
Foto karya 'Ultimate Space-Pause' karya seniman Korea, Boo Ji Hyun, dalam pameran Mediascape: Material, Senses and Beyond.


Tromarama adalah sebuah kolektif berbasis di Jakarta dan Bandung dengan pengalaman internasional.

Mereka mengangkat isu hiper-realitas dari dunia digital dan keterhubungan antara material dan kehidupan virtual.

Foto karya 'Madakaripura' karya seniman Tromarama, dalam pameran Mediascape: Material, Senses and Beyond. Kredit foto: Angga Reksha, Muhammad Tsani & Farid Burhanudin (2021).
Foto karya 'Madakaripura' karya seniman Tromarama, dalam pameran Mediascape: Material, Senses and Beyond. Kredit foto: Angga Reksha, Muhammad Tsani & Farid Burhanudin (2021). (Komunitas Salihara)

Sementara seniman Korea Selatan, Park Seung Soon mengeksplorasi peraga suara (soundscape).

Karyanya membuat kita lebih sadar terhadap daerah di sekeliling kita yang sudah merupakan kombinasi dari yang nyata dan yang maya.

Park Seung Soon memang seorang komposer musik elektronik yang kerap menciptakan proyek media inovatif, dengan menggabungkan sejumlah tampilan dan instalasi menggunakan air, cahaya, suara, dan kecerdasan buatan (AI) untuk membuat pengalaman musikal bagi musisi dan publik.

Ia juga seorang peneliti seni yang berfokus pada konvergensi seni media.

Foto karya 'Imaginary Soundscape in Jakarta' karya seniman Korea Selatan, Park Seung Soon, dalam pameran Mediascape: Material, Senses and Beyond. Kredit foto: Angga Reksha, Muhammad Tsani & Farid Burhanudin (2021).
Foto karya 'Imaginary Soundscape in Jakarta' karya seniman Korea Selatan, Park Seung Soon, dalam pameran Mediascape: Material, Senses and Beyond. Kredit foto: Angga Reksha, Muhammad Tsani & Farid Burhanudin (2021). (Komunitas Salihara)

Eldwin Pradipta mengajak kita merasuki alam pikiran komputer yang distimulasi oleh peraga bau (scape of scent), di mana mesin akan terpicu oleh aroma dari gas yang mudah terbakar.

Eldwin Pradipta adalah seniman multimedia yang memiliki spesialisasi video proyeksi dan instalasi digital.

Eldwin Pradipta tertarik dengan eksplorasi batasan-batasan antara praktik artistik tinggi dan seni lowbrow, serta terbuka untuk komisi pengembangan konten kreatif yang berhubungan dengan pengalaman media realitas berimbuh (augmented reality).

Foto karya 'Gassin’ the Machine' karya seniman Eldwin Pradipta, dalam pameran Mediascape: Material, Senses and Beyond. Kredit foto: Angga Reksha, Muhammad Tsani & Farid Burhanudin (2021).
Foto karya 'Gassin’ the Machine' karya seniman Eldwin Pradipta, dalam pameran Mediascape: Material, Senses and Beyond. Kredit foto: Angga Reksha, Muhammad Tsani & Farid Burhanudin (2021). (Komunitas Salihara)

Terakhir, sebagai peraga ingatan (memory scape), karya Notes on Blindness yang berupa video virtual 360° mempersembahkan sekelumit pengalaman personal dari hilangnya penglihatan yang dialami oleh John Hull dan menuntun khalayak untuk melakukan refleksi terhadap pentingnya peran indra-indra selain mata.

John Hull adalah seorang profesor yang mengumpulkan diari audio tentang pengalamannya setelah kehilangan penglihatannya pada 1983.

Diari ini telah diterbitkan menjadi buku pada 1990.

Setelah wafat pada 2015, diari ini diadaptasi menjadi film dokumenter pendek pada 2016, kemudian menjadi instalasi realitas virtual (VR) berjudul Notes on Blindness.

Foto karya 'Notes on Blindness' dalam pameran Mediascape: Material, Senses and Beyond. Kredit foto: Angga Reksha, Muhammad Tsani & Farid Burhanudin (2021).
Foto karya 'Notes on Blindness' dalam pameran Mediascape: Material, Senses and Beyond. Kredit foto: Angga Reksha, Muhammad Tsani & Farid Burhanudin (2021). (Komunitas Salihara)

Kurator tamu di kegiatan ini, Jeong Ok Jeon, yang kini berbasis di Jakarta dan aktif terlibat di medan seni rupa kontemporer Asia Tenggara menambahkan pandangannya terhadap karya-karya yang dipamerkan.

"Meski tiap karya dalam pameran ini memiliki elemen sensori yang dominan dan unik antara satu sama lain, untuk memahami keseluruhan konteks setiap karya dengan lebih mendalam, sangat penting bagi kita untuk menyadari bahwa secara alami, beragam indra manusia saling menstimulasi dan mempengaruhi," kata Jeong Ok Jeon.

"Melalui pengaman multisensori yang diperkaya oleh seni media baru, pameran ini berharap akan ada kesadaran baru terhadap fungsi-fungsi indrawi yang menghubungkan kita dengan peraga media (mediascape)," jelasnya.

Hal ini secara khusus amat relevan dengan realitas sekarang di tengah pandemi Covid-19.

Pandemi Coivd-19 telah menggeser sudut pandang kita terhadap dunia, dan mempengaruhi medan seni rupa secara signifikan.

Pameran Mediascape diselenggarakan oleh Salihara dan ARCOLABS serta didukung oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek), Korean Cultural Center Indonesia, British Council Indonesia dan didukung oleh Korean Institute for Advanced Study.

"Seiring dengan dunia seni yang semangat menjelajahi dan menerima media dan teknologi baru, kita juga perlu bersikap kritis pada seni media baru yang berfokus pada pengalaman sensori dan interaksi langsung," kata Asikin Hasan.

"Walaupun ada banyak keterbatasan, inilah waktu terbaik untuk mengevaluasi cara dan praktik artistik kita terkait proses produksi, presentasi, dan pameran seni rupa dalam konteks pengalaman multiindrawi," ungkapnya.

(tribunnewswiki.com/Rakli Almughni)

Baca lebih lengkap seputar Komunitas Salihara di sini





BERITATERKAIT
Ikuti kami di
KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

  • Film - My Blackberry Girlfriend

    My Blackberry Girlfriend adalah sebuah film drama komedi
  • Film - Teman Tegar Maira:

    Teman Tegar Maira: Whisper form Papua adalah sebuah
© 2026 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved