TRIBUNNEWSWIKI.COM - Saat ini, perkembangan teknologi yang begitu pesat turut membentuk persepsi indrawi kita.
Bahkan, hal itu juga mempengaruhi pengalaman multiindrawi kita.
Sebagai perpanjangan dari tubuh kita, teknologi atau media baru telah mengubah cara manusia merasakan dunia, terutama terkait arti waktu dan ruang, dan telah menawarkan akses baru terhadap dunia.
Merespons lingkungan baru ini, tempat teknologi telah meningkatkan dan memperkaya pengalaman indrawi manusia terhadap dunia, Galeri Salihara menggelar pameran seni rupa bertajuk Mediacape: Material, Senses and Beyond.
Pameran tersebut berlangsung selama sebulan penuh, mulai 11 September 2021 hingga 10 Oktober 2021.
Menampilkan enam seniman media baru dari Indonesia, Korea Selatan, dan Inggris, pameran ini menyoroti multiindrawi dan interaktivitas melalui berbagai pendekatan peraga atau scape, seperti peraga raba (tactile scape), peraga rasa (scape of flavor), peraga maya (digitalscape), peraga suara (soundscape), peraga bau (scape of scent) dan peraga ingatan (memory scape), tempat khalayak dapat menjelajahi dan memaknai kemampuan indrawi mereka secara mendalam.
Kurator Seni Rupa Komunitas Salihara, Asikin Hasan, menyebut bahwa popularitas seni media baru dalam dekade terakhir telah memperluas kemungkinan seni dari medium visual satu-dimensi menjadi karya multi-sensori dan interaktif.
"Dalam beberapa tahun terakhir, media dan teknologi telah memberikan jalan bagi kolaborasi interdisiplin bebas batas," kata Asikin Hasan dalam rilis pers yang diterima TribunnewsWiki, Senin (4/10/2021).
Pandemi Covid-19 telah menggeser pandangan kita terhadap dunia dan secara signifikan berimbas pada dunia seni.
Dengan pertimbangan kebersihan dan keselamatan publik yang kini menjadi prioritas menuju era New Normal, pendekatan terhadap produksi, presentasi dan pameran seni perlu dievaluasi kembali.
"Meski batasan-batasan bertambah, tidak ada waktu yang lebih baik dari sekarang untuk membuat seni yang dapat diakses secara luas dan bersifat inklusif," ujar Asikin Hasan.
Berkat bantuan teknologi, kita kini hidup di dunia berupa spektrum berkelanjutan yang bergerak dari dunia nyata menuju realitas campuran dan alam maya. Sebuah ide yang kerap diadopsi, dielaborasi, dan didemonstrasikan oleh seni media baru.
Popularisasi seni media baru dalam dekade terakhir telah memperluas kemungkinan-kemungkinan seni, dari medium visual berdimensi tunggal hingga karya-karya interaktif dan multisensori.
Pameran seni rupa Mediascape: Materials, Senses and Beyond (Mediascape: Material, Indra dan seterusnya) adalah pameran yang berusaha menangkap dan merespons lingkungan baru dari pengalaman indrawi di masa kini, yaitu ruang realitas campuran di mana teknologi meningkatkan dan menambah pengalaman indrawi kita di dunia.
Secara lebih lanjut, peraga raba (tactile scape) terdapat pada karya Boo Ji Hyun, perupa asal Korea Selatan.
Boo Ji Hyun yang ahli dalam seni cahaya interaktif, yang menggabungkan prinsip seni, sains, dan manusia mengajak khalayak mengalami periode meditatif dan ruang yang tercipta dari emisi cahaya dan kabut melalui karya-karyanya.
Selanjutnya karya Elia Nurvista akan menyajikan peraga rasa (scape of flavor), di mana buah-buahan asli tidak hanya dihidangkan sebagai katalis untuk pengalaman multiindrawi, tetapi juga menghubungkan kita pada dunia virtual.
Elia Nurvista memang memiliki ketertarikan pada beragam medium seni melalui pendekatan interdisipliner yang berfokus pada diskursus makanan/kuliner.
Elia berencana menciptakan karya berbasis kemampuan indrawi/multi-sensori.
Tromarama mengundang kita untuk menyelami peraga maya (digitalscape) yang diciptakan melalui suasana kontemplatif yang ditambahkan dengan data real-time dan suara yang diciptakan kecerdasan buatan (AI generated).