Soekitman

Soekitman atau AKBP Sukitman adalah seorang saksi sejarah terjadinya G30S/PKI.


zoom-inlihat foto
Sukitman-penemu-Lubang-Buaya-3.jpg
Kolase Tribun Jabar/Intisari/Tribunjogja
Sukitman dan Letkol Untung Syamsuri

Soekitman atau AKBP Sukitman adalah seorang saksi sejarah terjadinya G30S/PKI.




  • Informasi Awal


TRIBUNNEWSWIKI.COM- Soekitman atau AKBP Sukitman adalah seorang saksi sejarah terjadinya G30S/PKI.

Soekitman merupakan penemu lokasi pembuangan jasad para jenderal Pahlawan Revolusi Lubang Buaya, Jakarta Timur.

Ia terakhir berdinas di kepolisian selaku Kepala Sub Bagian (Kasubag) Regiden Polda Metro Jaya dan pensiun pada 1998. (1) 

Baca: Karel Satsuit Tubun

Sukitman penemu Lubang Buaya
AKBP Sukitman Saksi Hidup Tragedi G30S/PKI

  • Kehidupan Pribadi


Soekitman lahir di Pelabuhan Rabu, Jawa Barat, 30 Maret 1943.

Saat berusia 18 tahun, ia merantau ke Jakarta untuk mengikuti seleksi Sekolah Polisi Negara SPN Kramat Jati, Jakarta, dan ia pun lulus pada tahun 1961.

Siswa Angkatan VII SPN Kramat Jati ini menyelesaikan pendidikannya pada Januari 1963 dan dilantik menjadi Agen Polisi Tingkat II.

Soekitman mengawali kariernya sebagai polisi di Markas Polisi Seksi VIII Kebayoran, Jakarta.

Selain itu, ia juga sebagai anggota perintis dari Kesatuan Perintis atau Sabhara.

Pada 30 September 1965 di malam hari, Sukitman sedang menjalankan tugas patroli.

Tiba-tiba, terdengar suara tembakan diikuti rentetan letusan senjata. Ia bergegas menghampiri sumber suara dengan sepeda kumbangnya (hadiah bagi polisi berprestasi) ke arah kediaman Jenderal DI Panjaitan.

Namun, sekelompok orang menghadang dan menculiknya.

Agen Polisi Tingkat II Soekitman ikut dibawa ke Lubang Buaya dan menjadi salah satu saksi penculikan dan pembunuhan beberapa pemimpin TNI dalam Peristiwa G30S/PKI.

Atas jasa-jasanya, dia mendapatkan kenaikan pangkat dari AKP (Ajun Komisaris Polisi) menjadi AKBP (Ajun Komisaris Besar Polisi). (2)  (1)

Baca: Letnan Kolonel Untung

  • Kesaksian


Pukul 03.00 WIB, tanggal 1 Oktober 1965, Soekitman dan rekannya sedang berjaga dan patroli malam.

Soekitman berpatroli menggunakan sepeda dan menenteng senjata di Seksi Vm Kebayoran Baru, lokasinya berada di Wisma AURI di Jl. Iskandarsyah, Jakarta.

Ia bertugas bersama Sutarso yang berpangkat sama, yakni Agen Polisi Dua.

Saat itu, ia mendengar suara tembakan dan menuju ke sumber suara itu.

Ternyata suara itu berasal dari rumah Jenderal D.I. Panjaitan yang terletak di Jln. Sultan Hasanudin.

Di situ sudah banyak pasukan bergerombol.

Belum sempat tahu apa yang terjadi di situ, tiba-tiba Sukitman dikejutkan oleh teriakan tentara berseragam loreng dan berbaret merah yang berusaha mencegatnya.

"Turun! Lempar senjata dan angkat tangan!"

Sukitman, yang waktu itu baru berusia 22 tahun, kaget dan lemas.

Sukitman segera turun dari sepeda dan melemparkan senjata lalu angkat tangan.

Dalam kondisi ditodong senjata dan tangannya diikat, lalu Sukitman dimasukkan ke dalam mobil.

Selama dibawa beberapa menit perjalanan, Sukitman masih ingat arah jalan mana ia dibawa.

Mobil itu bergerak ke Jalan Wolter Mongisidi hingga ke arah Mampang, setelah itu Sukitman tak ingat lagi.

Hari sudah mulai pagi, dan samar-samar suasana di sekelilingnya agak terlihat.

Sukitman dibawa ke sebuah tempat yang tidak ia kenali

Pada waktu itu, Sukitman selewat mendengar ucapan "Yani wis dipateni (yani sudah dibunuh)"

Tak lama kemudian seorang tentara yang menghampiri Sukitman dan segera menyeretnya ke dalam tenda.

Tentara tersebut segera melapor kepada atasannya, "Pengawal Jenderal Panjaitan ditawan."

Tentara itu menyangka kalau Sukitman adalah pengawal jendral Panjaitan.

Meskipun waktu itu masih remang-remang, di dalam tenda Sukitman sempat mengamati keadaan sekelilingnya.

Sukitman melihat beberapa orang dalam kondisi terikat, lalu didudukkan di kursi.

Sukitman juga melihat ada beberapa lainnya yang tergeletak di bawah dengan kondisi berlumuran darah.

Lalu Sukitman dibawa keluar tenda dan didorong ke arah teras rumah.

Di teras rumah itu, Sukitman melihat ada papan tulis dan bangku-bangku sekolah tertata rapi.

Sukitman bisa melihat dengan jelas sekelompok orang mengerumuni sebuah sumur sambil berteriak, "Ganyang kabir, ganyang kabir!", artinya "kapitalis birokrat".

Ke dalam sumur itu dimasukkan tubuh manusia yang dibawa entah dari mana, kemudian langsung disusul oleh berondongan peluru.

Sukitman sempat melihat seorang tawanan dalam keadaan masih hidup dengan pangkat bintang dua di pundaknya, mampir sejenak di tempatnya ditawan.

Dengan perasaan takut dan tak karuan, Sukitman menyaksikan para pahlawan revolusi itu diberondong peluru hingga dimasukkan ke dalam sumur.

Sampai ketika orang-orang itu mengangkuti sampah untuk menutupi sumur tempat memasukkan para korbannya.

Dengan cara itu diharapkan perbuatan kejam mereka sulit dilacak.

Di atas sumur itu kemudian ditancapkan pohon pisang.

Belakangan ia mengetahui kalau sukarelawan itu adalah pemuda Rakyat dan sukarelawati itu adalah Gerwani.

Dengan demikian Sukitman bisa melihat dengan jelas siapa-siapa saja yang terlibat peristiwa yang meminta korban nyawa 7 Pahlawan Revolusi.

Ia pun sempat melihat Letkol Untung, yang mengepalai kejadian kelam dalam sejarah militer di Indonesia itu. (2)

Baca: Ahmad Yani

(Tribunnewswiki.com/ Husna)



Info Pribadi
Lahir Banten, 30 Maret 1943
Riwayat Karir SPN Polri 1961
Meninggal Depok, 13 Agustus 2007
Pangkat Ajun Komisaris Besar Polisi


Sumber :


1. id.wikipedia.org
2. surabaya.tribunnews.com








KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

  • Ramalan Zodiak Besok Rabu 13

    Berikut ini adalah ramalan zodiakmu untuk hari esok
  • BNN Gerebek Kampus USU, 31

    Anggota BNNP Sumut melakukan penggerebekan di Fakultas Ilmu
© 2021 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved