Informasi Awal #
TRIBUNNEWSWIKI.COM - Nasakom merupakan konsep politik yang dicetuskan oleh Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno.
Nasakom yang merupakan singkatan dari Nasionalisme, Agama dan Komunisme ini menjadi ciri khas dari Demokrasi Terpimpin yang berlangsung pada 1959-1965.
Hal ini karena Soekarno menilai sistem Demokrasi Parlementer bisa membahayakan pemerintahan.
Sehingga yang paling cocok menurutnya ialah Demokrasi Pemimpin dengan Nasakom sebagai konsep politiknya.
Nasakom yang dicetuskan oleh Soekarno itu mendapat tentangan dari Wakil Presidennya, Mohammad Hatta.
Hatta menilai jika adanya Nasakom maka dirinya akan bekerja sama dengan PKI, dan hal ini membuatnya tidak cocok.
Kemudian, Hatta memutuskan untuk mundur dari Wakil Presiden setelah melihat Presiden Soekarno semakin otoriter.
Dwitunggal pun akhirnya tanggal dan dua sosok proklamator berpisah jalan.
Hatta menepi, Soekarno semakin kokoh di puncak kekuasaan. (1)
Baca: Njoto
Sejarah #
Gagasan Nasakom ini sudah dipikiran oleh Soekarno pada 1926 sebelum dirinya menjadi presiden.
Kala itu dia menulis di surat kabar "Soeoleh Indonesia Moeda," yang mana dirinya mengatakan bahwa dengan jalan yang kurang sempurna, maka ia mengajak untuk membuktikan bahwasanya paham Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme itu dalam negeri jajahan pada beberapa bagian menutupi satu sama lain.
Selain itu ia juga menuliskan jika Nasionalisme, Islam, dan Marxisme, ini adalah asas-asas yang dipegang teguh oleh pergerakan-pergerakan rakyat di seluruh Asia.
Yang mana faham-faham ini lah yang menurutnya menjadi rohnya pergerakan-pergerakan di Asia.
Baca: D N Aidit
Selain itu, faham ini pula yang menjadi rohnya pergerakan-pergerakan di Indonesia.
Maka, pada Februari 1956, Sukarno mengusulkan konsep baru yang disebutnya Demokrasi Terpimpin dengan berpondasi kepada tiga pilar utama: Nasakom.
Alasan adanya Nasakom ini Soekarno melihat bahwa di zaman kolonial Belanda, ada tiga aliran politik yang menjadi pilar pergerakan nasional dalam kehidupan bangsa.
Tiga pilar tersebut adalah nasionalis, muslimin, dan komunis.
Nasionalis kala itu diwakili oleh Indische Partij, muslimin diwakili oleh Sarekat Islam dan komunis diwakili oleh Partai Komunis Indonesia. (2)
Strategi Politik #
Setelah Hatta mundur, Presiden Soekarno semakin leluasa untuk mengkampanye kan Nasakom.
Dengan sistem Demokrasi Terpimpin, Soekarno menyatukan tiga kekuatan politik dengan tujuan untuk semakin memperkuat posisinya.
Dirinya bahkan mengatakan jika Nasakom ini adalah perwujudan Pancasila dan UUD 1945 dalam politik.
Kala itu ia juga menegaskan apabila orang setuju dengan Pancasila maka harusnya setuju dengan Nasakom, dan siapa yang tidak setuju dengan Nasakom maka tidak setuju dengan Pancasila.
Tidak berhenti sampai di situ saja, Presiden Soekarno juga mengaskan jika rakyat setuju dengan UUD 1945 maka rakyat juga harusnya setuju dengan Nasakom.
Bahkan konsep politiknya itu ia bawa ke dalam forum internasional di dalam Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 30 September 1960 di New York, Amerika Serikat.
Setelah peristiwa G30S/PKI itu terjadi, dirinya mengadakan Sidang Panca Tunggal Seluruh Indonesia yang digelar di Istana Negara, Jakarta.
Sidang itu dilaksankan pada 23 Oktober 1965.
Dan dalam sidang itu, Presiden Soekarno masih tetap berdiri dengan pendapatnya tentang Nasakom.
Akan tetapi meski Nasakom ia pertahankan dengan sekuat tenaga namun akhirnya runtuh setelah pergantian kekuasaan dari Orde Lama ke Orde Baru. (2)
(TribunnewsWiki.com/Bangkit N)
| Nama | Nasakom |
|---|
| Jenis | Konsep politik |
|---|
| Pencetus | Soekarno |
|---|
| Masa berlaku | 1959-1965 |
|---|
Sumber :
1. medium.com
2. id.wikipedia.org