Perang Bone

Perang Bone merupakan suatu ekspedisi balasan dari Belanda untuk Kesultanan Bone, Celebes (kini Sulawesi) pada tahun 1859 dan 1860.


zoom-inlihat foto
Pasukan-Belanda-di-medan-perang-pada-saat-Perang-Bone.jpg
(Wikipedia)
Perang Bone merupakan suatu ekspedisi balasan dari Belanda untuk Kesultanan Bone, Celebes (kini Sulawesi) pada tahun 1859 dan 1860.

Perang Bone merupakan suatu ekspedisi balasan dari Belanda untuk Kesultanan Bone, Celebes (kini Sulawesi) pada tahun 1859 dan 1860.




  • Informasi Awal


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Perang Bone merupakan suatu ekspedisi balasan dari Belanda untuk Kesultanan Bone, Celebes (kini Sulawesi) pada tahun 1859 dan 1860.

Semenjak terjadinya Perjanjian Bongaya yang ditandatangani pada 1667, Belanda mulai memiliki kekuasaan di Sulawesi Selatan, khususnya di sekitar daerah Makassar.

Usai berakhirnya pendudukan Inggris pada tahun 1811-1816, Belanda khawatir apabila Indonesia akan jatuh ke tangan bangsa Eropa lainnya.

Maka dari itu, Belanda berupaya menyatukan kekuasaan di daerah Sulawesi Selatan, akan tetapi Kerajaan Bone tidak mengakui kekuasaan Belanda tersebut.

Inilah yang melatarbelakangi penyebab terjadinya Perang Bone, sebuah ekspedisi balasan oleh Belanda ke Kerajaan Bone.

Belanda harus melakukan tiga kali peperangan untuk bisa menaklukkan Bone, yakni dalam Perang Bone I, II, dan III yang berlangsung antara 1824 hingga 1860. (1) (2)

Perang Bone
Perang Bone (Wikipedia via Kompas.com)

Baca: Perang Bubat

Baca: Perang Gerilya Jenderal Soedirman

  • Perang Bone I


Berkaca pada situasi yang terjadi di Sulawesi Selatan, van der Capellen kembali ke Batavia dan menyiapkan ekspedisi untuk menghukum Bone.

Pada 15 Juli 1824, pasukan yang dipimpin oleh letnan kolonel Hubert Joseph Jean Lambert de Stuers tiba di Tanete dengan mengerahkan ratusan tentara dengan meriam.

Namun, perang ini dinilai tidak berhasil lantaran Bone dapat menghancurkan beberapa pos pertahanan Belanda di Pangkajene, Maros, dan Tanete.

Serangan Bone ini sempat membuat gelisah pemerintah Belanda di Makassar, sehingga Belanda mengirim bala bantuan dari Batavia agar Bone dapat direbut kembali. (2)

  • Perang Bone II


Dalam Perang Bone II yang berlangsung antara 1825-1835, Belanda mulai melancarkan tindakan-tindakan brutal.

Di bawah pimpinan Jenderal Jozef van Geen, Belanda melancarkan ekspedisi yang terdiri dari 4.000 orang dengan tujuh kapal perang dan tiga perahu meriam.

Perkampungan yang berada di Sinjai dibakar habis sehingga pasukan Belanda berhasil masuk ibu kota Bone.

Akan tetapi, Belanda gagal merebut pemerintahan lantaran raja dan pembesar-pembesar kerajaan telah meninggalkan ibu kota untuk mengungsi ke pedalaman.

Akhir Perang Bone II baru terlihat setelah raja menandatangani gencatan senjata yang kemudian disusul dengan perjanjian perdamaian. (2)

Baca: Perang Paregreg

Baca: Operasi Trikora (Tri Komando Rakyat)

  • Perang Bone III


Usai Perang Bone II berakhir, Belanda masih terus berupaya merebut hak dan kekuasaan raja Bone yang dianggap sebagai lawan yang membahayakan.

Di sisi lain, rakyat Bone berjuang untuk merebut kembali wilayah kerajaan yang diambil alih oleh Belanda.

Kedua alasan itu lah yang dianggap sebagai penyebab pecahnya kembali Perang Bone ke III pada 1859.

Tokoh yang terlibat dalam Perang Bone III ini ialah Letnan Jenderal Jan van Swieten, yang pertama kali mendarat di Makassar pada November 1859.

Pertempuran pada kali ketiga ini dinilai sangat dahsyat hingga Belanda harus melakukan dua kali agresi militer.

Agresi pertama dapat dianggap gagal sebab banyak serdadu Belanda yang terbunuh dan terpaksa menarik diri menuju Makassar.

Namun, pada agresi kedua pada tahun 1860, Belanda berhasil memaksa Bone bertekuk lutut.

Akibatnya, hanya sebagian kecil dari wilayah kekuasaan Bone terdahulu dipinjamkan kepada raja untuk diperintah, sedangkan wilayah lain yang sangat luas langsung berada di bawah kekuasaan gubernur Belanda.

Raja La Pawawoi Karaeng Sigeri, yang berkuasa antara 1895-1905, melakukan perlawanan terakhir terhadap Belanda.

Sayangnya, ia kemudiani menyerah pada tahun 1905, sehingga semenjak itu Bone secara resmi berada di bawah kekuasaan pemerintah Belanda. (2)

Baca: Deklarasi Balibo

Baca: 17 AGUSTUS - Seri Sejarah Nasional : VOC

(TribunnewsWiki.com/Septiarani)



Nama Perang Bone
Berlangsung 1859 - 1860
Periode Perang Bone I, II, III
Pihak Kesultanan Bone, Pemerintahan Belanda
   


Sumber :


1. id.wikipedia.org
2. www.kompas.com








KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

Tribun JualBeli
© 2021 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved