Janji Koiso

Janji Koiso merupakan suatu pernyataan politik yang dicanangkan oleh Perdana Menteri Kekaisaran Jepang Kuniaki Koiso setelah ia menggantikan posisi Hideki Tojo.


zoom-inlihat foto
Perdana-Menteri-Jepang-Kuniaki-koiso.jpg
Wikipedia
Janji Koiso merupakan suatu pernyataan politik yang dicanangkan oleh Perdana Menteri Kekaisaran Jepang Kuniaki Koiso setelah ia menggantikan posisi Hideki Tojo.

Janji Koiso merupakan suatu pernyataan politik yang dicanangkan oleh Perdana Menteri Kekaisaran Jepang Kuniaki Koiso setelah ia menggantikan posisi Hideki Tojo.




  • Latar Belakang


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Janji Koiso merupakan suatu pernyataan politik yang dicanangkan oleh Perdana Menteri Kekaisaran Jepang Kuniaki Koiso setelah ia menggantikan posisi Hideki Tojo.

Pernyataan politik ini dikeluarkan dalam sidang istimewa ''Teikoku Ginkai'' ke 85 di Ibu kota Kekaisaran Jepang, Tokyo, pada 7 September 1944.

Pernyataan ini berisi, Kekaisaran Jepang berjanji akan memberikan kemerdekaan bagi Bangsa Indonesia suatu hari.

Setelah diumumkan janji tersebut, tentara pendudukan Kekaisaran Jepang di Indonesia mulai memperlonggar pengawasan mereka terhadap Kaum Pergerakan Kemerdekaan, terkhusus bagi kaum nasionalis, namun tidak untuk kelompok sayap kiri atau komunis.

Kekaisaran Jepang juga mulai membentuk beraneka macam organisasi sebagai sarana bagi para tokoh pergerakan Kemerdekaan Indonesia seperti Soekarno, Mohammad Hatta, Achmad Soebardjo, dan lainnya.

Dengan adanya janji tersebut, Perdana Menteri Koiso berharap agar Indonesia berkenan membantu Kekaisaran Jepang dalam Perang Dunia II, yang mulai menunjukkan kekalahan bagi pihak Poros.

Tetapi janji itu pada akhirnya tidak terealisasi karena Amerika Serikat berhasil mempercepat selesainya perang dengan melancarkan Bom Hiroshima dan Bom Nagasaki. (1)

Koiso Kuniaki, Perdana Menteri Jepang.
Koiso Kuniaki, Perdana Menteri Jepang. (Encyclopaedia Britannica/ Kompas.com)

Baca: 17 AGUSTUS - Serial Pahlawan Nasional: Achmad Soebardjo

Baca: Hari Ini Dalam Sejarah 9 Agustus: Peristiwa Bom Nagasaki


Posisi Jepang dalam perang yang semakin terimpit membuat khawatir banyak tokoh, terutama kehawatiran apabila Jepang batal memberikan kemerdekaan yang dijanjikan.

Mereka terus menagih kemerdekaan kepada Jepang, tak terkecuali Soekarno yang beberapa kali bersikap keras kepada Jepang.

Karena janji kemerdekaan yang telah disepakati dinilai tidak dianggap serius oleh Jepang, Soekarno pun marah besar, sehingga dibentuklah BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha Kemerdekaan Indonesia).

Pada 26 April 1945, badan tersebutd dibentuk oleh Jepang dengan merekrut Soekarno, Moh Hatta, Soepomo, AA Maramis, Abdul Wahid Hasyim, dan Moh Yamin. (2)

Suasana pembentukan BPUPKI (Istimewa)
Suasana pembentukan BPUPKI (Istimewa) (Istimewa)

Baca: Alexander Andries Maramis

Baca: 17 AGUSTUS - Serial Pahlawan Nasional: K.H. Abdul Wahid Hasyim

  • Merebut Kemerdekaan


Di waktu bersamaan, Soekarno juga mengirim surat kepada pelajar-pelajar Indonesia di Jepang bahwa ia tak percaya janji kemerdekaan yang akan diberikan oleh Jepang.

Ia meyakini bahwa kemerdekaan itu bisa terwujud dengan usaha dan perjuangan rakyat Indonesia sendiri.

Hal itu semakin terlihat jelas ketika Jepang tak kunjung memberikan kemerdekaan kepada Indonesia.

Sampai akhirnya Amerika Serikat menjatuhkan bom atom ke kota Hiroshima pada 6 Agustus 1945.

Disusul dengan mengebomam di Nagasaki pada 9 Agustus yang mengakibatkan Jepang semakin tak berdaya hingga akhirnya menyatakan kekalahannya dan menyerah. 

Kabar kekalahan Jepang tersebut  segera dimanfaatkan oleh golongan pemuda untuk merebut kemerdekaan.

Maka, pada 17 Agustus 1945, Proklamasi kemerdekaan berhasil dikumandangkan oleh Soekarno. (2)

Baca: Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI)

Baca: Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

(TribunnewsWiki.com/Septiarani)



Nama Janji Koiso
Tanggal 7 September 1944
Tokoh Perdana Menteri Kekaisaran Jepang Kuniaki Koiso
Fungsi Janji kemerdekaan Indonesia
   








KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2021 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved