Informasi Awal #
TRIBUNNEWSWIKI.COM - Partai Indonesia atau yang disingkat Partindo merupakan sebuah partai politik di Indonesia pada masa pergerakan nasional
Partindo didirikan sesuai dengan keputusan Sartono saat menjadi Ketua PNI lama. Sartono menggantikan Soekarno yang ditangkap pemerintah Belanda tahun 1929.
Tak berbeda dengan tujuan PNI lama yang dibubarkan Sartono, Partindo juga bertujuan mencapai Indonesia merdeka dengan menjalankan politik nonkooperasi terhadap pemerintahan Belanda.
Tindakan Sartono tersebut ditentang oleh anggota PNI-Lama, di antaranya Hatta dan Sutan Sjahrir, serta golongan yang tidak menyetujui dengan pembubaran ini.
Mereka akhirnya membentuk Golongan Merdeka dan menjadi organisasi baru bernama PNI Baru.
Partindo dan PNI-Baru kemudian bersaing untuk memperoleh simpati rakyat. (1)
Baca: Partai Nasional Indonesia (PNI)
Baca: Partai Indonesia Raya (Parindra)
Awal Berdiri #
Setelah dibebaskan dari penjara Sukamiskin tahun 1932, Soekarno bertekad menyatukan kembali PNI Baru dengan Partindo.
Namun, usahanya gagal sehingga ia akhirnya memutuskan untuk bergabung dengan Partindo karena dianggap lebih sesuai dengan pribadinya dan menawarkan kebebasan untuk mengembangkan kemampuan agitasinya.
Keputusan tersebut diumumkan Soekarno pada tanggal 1 Agustus 1932.
Tak berselang lama setelah bergabungnya Soekarno, jumlah anggota Partindo meningkat cukup pesat karena daya tarik Soekarno.
Namun, kewibawaannya menjadi menurun dibandingkan dengan ketika dirinya memimpin PNI lama.
Beberapa pendapatnya sering kali medapat reaksi keras oleh pengurus Partindo lainnya serta peranannya di Partindo cabang Bandung lebih terbatas.
Walaupun begitu, usulan Soekarno untuk mengganti nama Partindo menjadi PNI (Partai Nasional Indonesia) mendapat banyak dukungan dari anggota.
Usulan tersebut berjujung pada kegagalan, tetapi konsepnya tentang Marhaenisme dan sosio-ekonomi diterima dengan baik oleh partai. (2)
Perjuangan #
Sejak Soekarno memilih Partindo, PNI Baru berusaha sekuat tenaga untuk menarik simpati rakyat, bahkan terkadang terjadi saling ejek di antara kedua organisasi ini.
Tokoh Partindo seperti Sartono dan Sujudi dinilai sebagai kaum borjuis nasionalis yang menentang kapitalisme Barat, tetapi mendukung kapitalisme Indonesia.
Gerakan Swadesi Partindo juga mendapat kritik, termasuk oleh Hatta dan Sjahrir yang menganggap kaum nasionalis harus bersatu untuk mencapai kemerdekaan.
Selain itu, kegiatan Partindo juga dihambat oleh Pemerintah Hindia Belanda.
Walalupun menerima berbagai pembatasan dan pelarangan, para tokoh Partindo tidak pernah menanggapinya.
Melalu majalah Pikiran Rakjat dan Soeloeh Indonesia Moeda, mereka melontarkan kritik pedas perihal situasi ekonomi, sosial, dan mengejek tindakan imperialisme Belanda.
Mengetahui hal tersebut, Gubernur de Jonge menjalankan kewenangan Gubernur Jendral, yaitu exorbitante rechten, membuang aktivis pergerakan yang dianggap membahayakan ketenteraman negara.
Karena kebijakan tersebut, Soekarno kemudian dibuang ke Ende (Flores). (2)
Baca: Partai Komunis Indonesia (PKI)
Baca: Partai Gelora Indonesia
Pembubaran #
Penangkapan Soekarno dan larangan mengadakan rapat oleh pemerintah berdampak kepada Partindo.
Karena hal tersebut, pengurus Partindo mengumumkan pembubarannya pada tahun 1936.
Pembubaran ini merupakan ide dari Sartono yang menggantikan kedudukan Soekarno sebagai Ketua.
Golongan yang tidak setuju atas pembubaran itu, lalu mendirikan Komite Pertahanan Partindo di Semarang dan Yogyakarta untuk menghambat pembubaran itu, tetapi usaha itu tidak berhasil.
Pada akhirnya, partai tersebut benar-benar bubar pada tahun 1937, lalu sebagian besar anggotanya masuk dalam Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo). (2)
Baca: Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo)
Baca: Gabungan Politik Indonesia (GAPI)
(TribunnewsWiki.com/Septiarani)
| Nama | Partindo (Partai Indonesia) |
|---|
| Ketua Umum | Sartono |
|---|
| Pendiri | Sartono |
|---|
| Didirikan | 30 April 1931 |
|---|
| Dibubarkan | 18 November 1936 |
|---|