Kiai Haji Noer Ali

Kiai Haji Noer Ali merupakan seorang ulama dan tokoh perjuangan asal Jawa Barat sekaligus merupakan Pahlawan Nasional Indonesia, yang lahir di Bekasi, Jawa Barat, pada 15 Juli 1914.


zoom-inlihat foto
Kiai-Haji-Noer-Ali.jpg
Istimewa/ WartaKota
Kiai Haji Noer Ali merupakan seorang ulama dan tokoh perjuangan asal Jawa Barat sekaligus merupakan Pahlawan Nasional Indonesia, yang lahir di Bekasi, Jawa Barat, pada 15 Juli 1914.

Kiai Haji Noer Ali merupakan seorang ulama dan tokoh perjuangan asal Jawa Barat sekaligus merupakan Pahlawan Nasional Indonesia, yang lahir di Bekasi, Jawa Barat, pada 15 Juli 1914.




  • Informasi Awal


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Kiai Haji Noer Ali merupakan seorang ulama dan tokoh perjuangan asal Jawa Barat sekaligus merupakan Pahlawan Nasional Indonesia, yang lahir di Bekasi, Jawa Barat, pada 15 Juli 1914.

Noer Ali yang merupakan putra dari Anwar bin Haji Layu dan Maimunah binti Tarbin ini, mendapatkan pendidikan agama dari beberapa guru agama di sekitar Bekasi.

Pada 1934, ia menunaikan ibadah haji serta memperdalam ilmu agama di Mekkah dan tinggal di sana selama 6 tahun.

Pada 1940, Ali membangun pesantren dan madrasah di Ujung Malang, Bekasi, di mana pesantren ini tidak lepas dari penguasaan Jepang.

Setelah kemerdekaan Indonesia, Noer Ali diangkat menjadi Ketua Komite Nasional Indonesia (KNID) Kecamatan Babelan, Bekasi.

Kiai Haji Noer Ali menghembuskan nafas terakhirnya di Bekasi, Jawa Barat, pada tanggal 29 Januari 1992, ketika usianya menginjak 77 tahun.

Pada 3 November 2006, Kiai Haji Noer Ali dianugerahi sebagai Pahlawan Nasional Indonesia berdasarkan SK Presiden: Keppres No. 085/TK/2006. (1) (2)

PAHLAWAN NASIONAL - KH Noer Ali
PAHLAWAN NASIONAL - KH Noer Ali (pahlawancenter.com)

Baca: Sultan Baabullah

Baca: 17 AGUSTUS - Serial Pahlawan Nasional: KH Abdul Wahab Hasbullah

  • Pendidikan


Kiai Haji Noer Ali dikenal sebagai seorang ulama yang tidak lagi diragukan wawasan Keislamannya.

Ia telah berkelana belajar tentang Islam dari banyak ulama besar, baik di tanah air maupun di tanah suci Mekah.

Ketika usianya delapan tahun, Noer Ali sudah belajar mengeja serta membaca bahasa Arab.

Ali juga belajar mengaji dan menghafalkan surah-surah dalam Al-Qur'an dari Guru Maksum di Kampung Bulak.

Saat beranjak dewasa, Noer Ali tak henti memperdalam ilmu agama Islam, dengan berguru ke Guru Mughni di Ujung Malang, hingga belajar tentang ilmu keIslaman soal tauhid.

Dalam masa belajarnya inilah, Noer Ali juga secara langsung memperhatikan bagaimana kondisi nyata kehidupan bangsa serta masyarakatnya.

Ia melihat adanya ketimpangan antar ilmu Islam yang ia peroleh dengan yang terjadi di dunia nyata.

Ia menemukan adanya kesemena-menaan tuan tanah ke warga pribumi, kekejian aparat kolonial, ketidakadilan hingga maksiat yang merajalela.

Sejak saat itu, ia mendapat kesadaran bahwa ingin berupaya memperbaiki kehidupan tanah air.

Tahun 1934, Noer Ali bertolak ke Mekkah demi meneruskan pencarian ilmu keIslamannya.

Selama belajar di sana, banyak ilmu yang ia pelajari dari para Syaikh atau pemimpin. (2)

  • Perjuangan


Selama berada di Mekah, Noer Ali membentuk organisasi Persatuan Pelajar Betawi (PPB) bersama rekan-rekan lainnya dari Indonesia.

Tahun 1939, KH Noer Ali kembali ke tanah air yang kemudian membuat risau para tuan tanah serta pemerintah kolonial.

Hal ini lantaran seluruh warga secara sukarela menyumbangkan tanahnya untuk pembangunan akses jalan di Ujung Malang, Teluk Pucung, dan Pondok Ungu.

Pada 1940, Noer Ali membangun pondok pesantrennya.

Pada 1942, penjajah Jepang meminta Ali agar bersedia bekerja sama dengan Jepang, yang berujung penolakan tegas darinya.

Ia tidak ingin jika nanti para santrinya tidak terurus dan terpecah karena tak mau bekerja sama dengan Jepang.

Pada era perebutan kemerdekaan, Noer Ali memasukkan santrinya ke pelatihan militer bentukan Jepang.

KH Noer Ali kemudian turut andil dalam memimpin laskar-laskar rakyat untuk bertempur merebut kemerdekaan.

Bahkan, ia pernah menjadi Komandan Batalin Tentara Hizbullah Bekasi.

Pasca kemerdekaan tepatnya pada 1948, setelah terciptanya Perjanjian Renville, Noer Ali hijrah ke Banten.

Setahun setekahnya, yakni pada 1949, Noer Ali ditunjuk menjadi Ketua Partai Masyumi cabang Jatinegara. (2)

  • Karier


• 1937 – 1940 : Ketua Persatuan Muslimin Jakarta di Makkatul Mukarromah

• 1940 – 1945 : Guru Kepala Agama Pesantren Ujung Malang

• 1945 – 1946 : Anggota KNI Kabupaten Jatinegara

• 1945 – 1946 : Ketua KNI Ujung Malang

• 1946 : Ketua Umum MPHS (Markas Pusat Hizbullah Sabilillah) Daerah Jakarta Raya

• 1946 : Ketua Umum Partai Masyumi Cabang Bekasi

• 1947 – 1950 : Koordinator Bupati Jatinegara

• 1949 : Ketua Umum Lembaga Pendidikan Islam (LPI) di Jakarta

• 1950 – 1956 : Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Bekasi

• 1954 : Ketua Badan Permusyawaratan 'Alim Ulama di Jakarta

• 1954 : Wakil Ketua I Partai Masyumi Jawa Barat

• 1954 : Anggota Majelis Syuro Partai Masyumi pusat

• 1956 – Maret 1957 : Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Peralihan Kabupaten Bekasi

• 13 Mei 1957 – 5 Juli 1959 : Anggota Konstituante Republik Indonesia (menggantikan Sjafruddin Prawiranegara) (1)

Baca: Kyai Muslim Muhamad Halifah (Kyai Mojo)

Baca: 17 AGUSTUS - Serial Pahlawan Nasional: Pangeran Diponegoro

(TribunnewsWiki.com/Septiarani)



Nama Kiai Haji Noer Ali
Lahir Bekasi, Jawa Barat, 15 Juli 1914
Wafat Bekasi, Jawa Barat, 29 Januari 1992
Profesi Ulama, tokoh perjuangan
Jabatan Anggota Konstituante, Wakil Ketua DPRD Bekasi








KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2021 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved