Jembatan Ampera Palembang

Jembatan Ampera atau yang memiliki kepanjangan 'Amanat Penderitaan Rakyat' adalah sebuah jembatan yang merupakan ikon kota Palembang yang berada di Provinsi Sumatera Selatan.


zoom-inlihat foto
jembatan-ampera-palembang-sumatera-selatan.jpg
Tribunnews.com
Jembatan Ampera Palembang, Sumatera Selatan

Jembatan Ampera atau yang memiliki kepanjangan 'Amanat Penderitaan Rakyat' adalah sebuah jembatan yang merupakan ikon kota Palembang yang berada di Provinsi Sumatera Selatan.




  • Informasi Awal #


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Jembatan Ampera atau yang memiliki kepanjangan 'Amanat Penderitaan Rakyat' adalah sebuah jembatan yang merupakan ikon Kota Palembang yang berada di Provinsi Sumatera Selatan.

Jembatan Ampera bisa diartikan sebagai lambang kota yang terletak di tengah-tengah Kota Palembang, menghubungkan daerah Seberang Ulu dan Seberang Ilir yang dipisahkan oleh Sungai Musi.

Awalnya, Jembatan yang memiliki panjang 1.177 m dengan lebar 22 m ini semua bagian tengahnya dapat diangkat agar kapal-kapal besar bisa melaluinya.

Tetapi, sejak tahun 1970, bagian tengah jembatan sudah tidak dapat diangkat lagi, sebab pada tahun 1990 bandul pemberatnya dibongkar karena dikhawatirkan dapat membahayakan.

Jembatan Ampera memiliki tinggi 11,5 m dari atas permukaan air, dengan tinggi menara 63 m dari permukaan tanah dan jarak antara menara sebesar 75 m.(1)

Baca: Jembatan Merah Putih

Baca: Jembatan Suramadu

Suasana pengujung senja di Jembatan Ampera, Palembang, Sumatera Selatan, Selasa (7/3/2017)
Suasana pengujung senja di Jembatan Ampera, Palembang, Sumatera Selatan, Selasa (7/3/2017) (KOMPAS/WAWAN H PRABOWO)

  • Sejarah #


Gagasan pembangunan Jembatan Ampera yang merupakan jembatan terpanjang di Asia Tenggara pada masa itu, sebenarnya sudah ada sejak zaman Gemeente Palembang pada tahun 1906.

Jembatan Amperra dibangun untuk menyatukan dua daratan di Kota Palembang.

Ketika jabatan Wali Kota Palembang diduduki oleh Le Cocq de Ville pada tahun 1924, timbul kembali ide untuk membangun jembatan tersebut.

Namun, hingga jabatan Le Cocq de Ville berakhir bahkan ketika Belanda pergi dari Indonesia, proyek pembangunan ini tetap tidak pernah terealisasi.

Selanjutnya, pada masa kemerdekaan, gagasan itu kembali muncul melalui DPRD Peralihan Kota Besar Palembang, yang kembali mengusulkan pembangunan jembatan dalam sidang pleno yang berlangsung pada 29 Oktober 1956.

Pembangunan jembatan ini bisa dikatakan cukup nekat, karena saat itu anggaran yang dimiliki Kota Palembang untuk modal awal pendirian jembatan hanya sekitar Rp 30.000.

Kemudian dibentuklah sebuah panitia pembangunan pada tahun 1957.

Panitia ini terdiri dari Penguasa Perang Komando Daerah Militer IV/Sriwijaya, Harun Sohar, dan Gubernur Sumatera Selatan, H.A. Bastari dan pendampingnya Wali Kota Palembang, M. Ali Amin, beserta Wakil Wali Kota, Indra Caya.

Tim ini lalu menyalurkan gagasannya kepada Presiden Soekarno agar mau mendukung pembangunan jembatan tersebut.

Akhirnya Bung Karno menyetujuinya, namun dengan syarat dibuat juga taman terbuka di kedua ujung jembatan itu.

Kemudian pada April 1962, dimulailah pembangunan pembuatan jembatan tersebut dengan biaya yang diambil dari dana rampasan perang Jepang.

Selain itu, jembatan ini juga menggunakan tenaga ahli dari negara Jepang.

Dalam waktu tiga tahun, proses pembuatan jembatan ini akhirnya terselesaikan.

Pada 30 September 1965, jembatan ini diresmikan oleh Jenderal Ahmad Yani dan diberi nama Jembatan Bung Karno.

Akan tetapi, pada tahun 1966 terjadi pergolakan gerakan Anti-Soekarno, sehingga nama jembatan tersebut diubah menjadi Jembatan Ampera yang berarti Amanat Penderitaan Rakyat.(2)

Jembatan Ampera atau yang memiliki kepanjangan 'Amanat Penderitaan Rakyat' adalah sebuah jembatan yang merupakan ikon kota Palembang yang berada di Provinsi Sumatera Selatan.
Jembatan Ampera atau yang memiliki kepanjangan 'Amanat Penderitaan Rakyat' adalah sebuah jembatan yang merupakan ikon kota Palembang yang berada di Provinsi Sumatera Selatan. (Tribunnews/Irwan Rismawan)

Baca: Monumen Suryo Ngawi

Baca: Monjaya (Monumen Jalesveva Jayamahe)

  • Keistimewaan #


Pada mulanya, bagian tengah, bagian belakang dan bagian depan badan jembatan ini bisa diangkat ke atas agar tiang kapal yang melaju dibawahnya tidak tersangkut badan jembatan.

Pada bagian tengah jembatan bisa diangkat dengan peralatan mekanis berupa dua bandul pemberat yang masing-masing seberat berkisar 500 ton di dua menaranya.

Kecepatan pengangkatannya sekitar 10 meter per menit dengan total waktu yang dihabiskan untuk mengangkat penuh jembatan selama 30 menit.

Kapal selebar 60 meter dengan ketinggian maksimum 44,50 meter, bisa mengarungi Sungai Musi ketika bagian tengah jembatan diangkat.

Sementara apabila bagian tengah jembatan tidak diangkat, yang dapat melewati bawah Jembatan hanya kapal dengan tinggi maksimun 9 meter dari permukaan air.

Namun, pada tahun 1970, aktivitas menaik-turunkan bagian tengah jembatan ini sudah tidak dilakukan lagi, lantaran waktu yang dihabiskan untuk mengangkat jembatan ini dirasa mengganggu arus lalu lintas di atasnya.

Kemudian pada tahun 1990, kedua bandul pemberat di menara jembatan ini diturunkan guna menghindari jatuhnya kedua beban pemberat itu. (1) (2)

Baca: Alun-Alun Bung Karno Ungaran

Baca: Bandara Internasional Soekarno-Hatta

(TribunnewsWiki.com/Septiarani)



Nama Jembatan Ampera (Amanat Penderitaan Rakyat)
Nama Awal Jembatan Bung Karno
Peresmian 30 September 1965
Diresmikan Jenderal Ahmad Yani
Lokasi Sungai Musi Palembang


Sumber :


1. id.wikipedia.org
2. regional.kompas.com


BERITATERKAIT
Ikuti kami di
KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2026 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved