Satgas Minta Masyarakat Disiplin Protokol Kesehatan untuk Cegah Penularan Covid-19 Varian Delta Plus

Satgas Covid-19 meminta masyarakat lebih disiplin protokol kesehatan untuk mencegah varian baru virus corona delta plus.


zoom-inlihat foto
juru-bicara-Satgas-Penanganan-COVID-19-Prof-Wiku-Adisasmito-21223234.jpg
Kemenlu RI
Koordinator Tim Pakar yang juga juru bicara Satgas Penanganan Covid-19 Prof. Wiku Adisasmito, Jumat (30/7/2021)


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Juru Bicara Satuan Tugas (Satgas) Covid-19 Wiku Adisasmito menanggapi kabar kemunculan Covid-19 varian delta plus di Indonesia

Terkait dengan kabar ini, Wiku mengimbau masyarakat mematuhi protokol kesehatan agar dapat mencegah penularan Covid-19

Virus corona penyebab Covid-19, kata Wiku, hanya dapat memperbanyak diri pada induk yang hidup,

Menurut Wiku, strategi yang efektif untuk mencegah varian baru Covid-19 adalah menaati protokol kesehatan, yakni menggunakanmasker, menjaga jarak, menghindari kerumunan, dan sering mencuci tangan.

Baca: Mulai Hari Ini Jokowi Bagikan Banpres Produktif Usaha Mikro kepada 12,8 Juta Pelaku Usaha

Baca: Virus Corona Varian Delta Plus

"Upaya terbaik yang dapat dilakukan adalah menghindari masuknya virus ke dalam tubuh dengan disiplin menjalankan protokol kesehatan," ujar Wiku dalam konferensi pers virtual melalui YouTube Sekretariat Presiden, Kamis (29/7/2021).

Wiku Adisasmito
Wiku Adisasmito (https://manado.tribunnews.com/2020/07/21/profil-wiku-adisasmito-juru-bicara-baru-pengganti-achmad-yurianto-karirnya-sangat-cemerlang)

Wiku menambahkan pemerintah juga menerapkan berbagai kebijakan seperti pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM), optimalisasi posko di tingkat kelurahan atau desa dan pengaturan pelaku perjalanan untuk mencegah importasi kasus.

"Upaya lain yang perlu dilakukan meminimalisasi penularan yang terjadi, yakni dengan mempercepat vaksinasi nasional karena peluang terbentuknya varian baru pada orang yang sudah divaksin lebih rendah dibandingkan dengan orang yang belum divaksin," kata Wiku.

Sementara itu, Direktur Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Prof. Amin Subandrio, mengatakan sampai saat ini varian delta plus telah ditemukan di dua daerah, yakni Mamuju dan Jambi.

Baca: Hasil Penelitian China, Antibodi Vaksin Covid-19 Sinovac Turun Setelah 6 Bulan, Ini Solusinya

Baca: Covid-19 Varian Delta

"Ya walaupun WHO menyatakan lebih berbahaya dan sebagainya, tapi di Indonesia, kami belum punya data yang menunjukkan bahwa varian delta plus menyebabkan misalnya morbiditasnya lebih tinggi atau mortalitasnya lebih tinggi, itu belum ada buktinya," ujar Amin.

"Belum terbukti apakah itu lebih berat atau lebih mematikan, lebih menular sih mungkin ya kalau melihat peningkatan jumlah kasus belakangan ini," tambahnya.

(TribunnewsWiki.com/Mirta)











KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2021 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved