Benteng Fort de Kock

Benteng Fort de Kock adalah bangunan di Kota Bukittinggi, Sumatera Barat. Benteng ini menjadi tempat bersejarah atas kegigihan pasukan Paderi yang dipimpin oleh Imam Bonjol dalam melawan pasukan Hindia Belanda.


zoom-inlihat foto
Benteng-Fort-de-Kock2.jpg
wikimedia.org
Ilustrasi Benteng Fort de Kock di Bukittinggi, Sumatera Barat pada tahun 1825

Benteng Fort de Kock adalah bangunan di Kota Bukittinggi, Sumatera Barat. Benteng ini menjadi tempat bersejarah atas kegigihan pasukan Paderi yang dipimpin oleh Imam Bonjol dalam melawan pasukan Hindia Belanda.




  • Informasi Awal #


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Benteng Fort de Kock adalah bangunan di Kota Bukittinggi, Sumatera Barat.

Letaknya di Jalan Yos Sudarso, Benteng Ps. Atas, Kecamatan Guguk Panjang, Kota Bukittinggi, Sumatera Barat.

Benteng ini menjadi tempat bersejarah atas kegigihan pasukan Paderi yang dipimpin oleh Imam Bonjol dalam melawan pasukan Hindia Belanda.

Benteng Fort de Kock didirikan sekitar tahun 1826 oleh seorang kapten bernama Johan Heinrich Conrad Bauer.

Saat itu ia menjadi pemimpin salah satu satuan pasukan tentara Hindia-Belanda di wilayah pedalaman Sumatera Barat.

Dulunya, benteng ini dinamai 'Sterreschans' yang artinya benteng pelindung.

Lalu diubah menjadi Fort de Kock yang diambil dari nama lain dari Bukit Jirek. Bukit Jirek adalah nama tempat dimana benteng itu dibangun.

Nama tempat itu dibuat oleh Bauer atas penghargaan kepada Hendrik Merkus Baron de Kock.

Dia waktu itu menjabat sebagai Letnan Gubernur Jenderal Hindia-Belanda dan sekaligus menjadi Komandan Militer.

Pada saat Perang Paderi tahun 1803-1838 terjadi pertikaian antara kaum adat yang masih melakukan adat lama dengan Kaum Paderi yang percaya kepada syariat Islam.

Ketika itu terjadi, tentara Hindia-Belanda ikut membantu kaum adat. Mereka dengan bebas mendirikan beberapa benteng di wilayah dataran tinggi Minangkabau untuk mengalahkan Kaum Paderi.

Dua benteng yang mereka bangun adalah benteng Fort de Kock di Bukittinggi dan Fort van der Capellen di Batusangkar.

Tetapi ternyata hubungan kaum adat dan Hindia-Belanda tersebut tidak berjalan baik.

Kaum adat pun merasa dirugikan karena kerajaan pagaruyung menjadi runtuh. (1)

Benteng Fort de Kock
Benteng Fort de Kock di Bukittinggi, Sumatera Barat

Baca: Benteng Fort Rotterdam

  • Tentang Benteng Fort de Kock #


Hingga saat ini, Benteng Fort de Kock masih menjadi saksi bisu angkuhnya penjajahan Belanda pada saat itu untuk berkuasa atas Minangkabau.

Bangunan setinggi 20 meter dengan warna cat putih dan hijau ini dilengkapi dengan meriam kecil di keempat sudutnya.

Kawasan sekitar benteng sudah dipugar oleh pemerintah daerah menjadi sebuah taman dengan banyak pepohonan rindang dan mainan anak-anak.

Benteng yang berada di kawasan Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan Bukit Tinggi ini berada di lokasi yang sama dengan Kebun Binatang Bukit Tinggi dan Museum Rumah Adat Baanjuang.

Kawasan benteng terletak di bukit sebelah kiri pintu masuk sedangkan kawasan kebun binatang dan museum berbentuk rumah gadang tersebut berada di bukit sebelah kanan.

Keduanya dihubungkan oleh Jembatan Limpapeh yang di bawahnya adalah jalan raya dalam kota Bukit Tinggi.

Memang kawasan ini hanya terletak 1 km dari pusat kota Bukit Tinggi di kawasan Jam Gadang, tepatnya di terusan jalan Tuanku nan Renceh.

Bukit Tinggi sendiri dapat ditempuh sekitar 2 jam dari Kota Padang sebagai ibukota provinsi Sumatera Barat.

Dengan membayar retribusi sebesar Rp 5.000, melihat benteng, menyeberangi jembatan dengan pemandangan yang indah, mengamat-amati berbagai macam satwa dan belajar sejarah di museum dapat dinikmati sekaligus.

Khusus memasuki Rumah Adat Baanjuang, pengunjung harus membayar lagi tiket masuk sebesar Rp 1.000 per orang.

Tempat ini sering dijadikan tempat piknik keluarga atau tujuan bagi rombongan siswa TK maupun SD untuk mengenal alam, sejarah dan budaya sekaligus.

Penjelasan sejarah mengenai benteng tersebut tertulis di sebuah prasasti sekitar 10 meter di depan benteng yang ditandatangani oleh Walikota Bukit Tinggi H. Djufri ketika diresmikan sebagai tempat wisata pada tanggal 15 Maret 2003.

Di sekitar Benteng Fort de Kock terdapat rumah khas Minangkabau yakni Rumah Adat Baanjuang.

Di dalam bangunan yang sengaja dibangun pada tahun 1930 oleh seorang Belanda, Mr. Mandelar Controleur tersimpan berbagai macam benda-benda khas Minangkabau, seperti pakaian adat, tanduk kerbau dan peralatan menangkap ikan tradisional.

Di tempat ini, pengunjung juga dapat berfoto di anjungan maupun dengan pakaian adat Minang hanya dengan membayar Rp 2.500-Rp 5.000. (2)

Baca: Benteng Portugis (Jepara)

  • Benteng Fort de Kock Hancur #


Hampir seluruh bangunan di sana hancur dan tidak tersisa. Pemandangan yang tersisa hanya sisa-sisa parit yang pernah ada di sana.

Di atas wilayah benteng ini, saat ini bediri sebuah bangunan yang bercat putih.

Bangunan ini digunakan pengunjung untuk melihat pemandangan sekeliling Kota Bukittinggi.

Bangunan bercat putih itu juga sering difoto oleh pengunjung jika datang ke sana.

Karena bangunan asli dari benteng Fort de Kock sudah hancur dan tidak ada lagi. (1)

Baca: Perang Diponegoro (1825-1830)

(TRIBUNNEWSWIKI.COM/Anindya)



Nama Tempat Benteng Fort de Kock
Lokasi Jalan Yos Sudarso, Benteng Ps. Atas, Kecamatan Guguk Panjang, Kota Bukittinggi, Sumatera Barat
Tahun Berdiri 1826
Pendiri Johan Heinrich Conrad Bauer
   




KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2022 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved