TRIBUNNEWSWIKI.COM - Pengacara perawat yang sedang diselidiki dalam kasus kematian Diego Maradona menuduh para dokter yang membunuh legenda sepak bola Argentina.
Mereka dianggap telah melakukan kelalaian.
"Mereka membunuh Diego," kata pengacara Rodolfo Baque.
Dikutip dari AFP Kamis (17/6/2021), Rodolfo mengatakan setelah kliennya perawat Dahiana Gisela Madrid, diinterogasi jaksa.
Maradona meninggal dunia karena serangan jantung November 2020 lalu.
Sebelumnya, ia menjalani operasi otak untuk pembekuan darah.
Madrid (36) merupakan satu dari tujuh orang tengah yang diselidiki atas kematian Diego Maradona.
Dewan ahli yang menyelidiki kematian Maradona menemukan, Maradona dirawat dalam kondisi yang tidak memadai dan dibiarkan kesakitan waktu lama.
Baque bersikeras para dokter yang merawat harus bertanggung jawab dan disalahkan atas kematian Maradona, bukan kliennya.
Kala itu Maradona dirawat karena masalah jantung namun pada saat bersamaan menjalani pengobatan psikiatri yang mempercepat detak jantungnya.
Terungkap pula, Maradona pernah jatuh di rumah sakit.
Namun, ketika Madrid diminta melakukan CT Scan padanya, ajudan Maradona menolak.
Ajudan tersebut beralasan jika media mengetahuinya, itu akan terlihat buruk.
"Pada akhirnya, ada banyak tanda peringatan Maradona akan meninggal, kira-kira satu hari kemudian."
Dan tidak ada dokter yang melakukan apa pun untuk mencegahnya," kata Baque.
Kesaksian Wasit yang Sahkan 'Gol Tangan Tuhan' Maradona
Ali Bin Nasser, mengaku dirinya bangga pernah membantu Diego Maradona mencetak gol tangan tuhan pada laga perempat final Piala Dunia 1986.
Gol tersebut tercipta saat Argentina mengalahkan Inggris 2-1 untuk lolos ke semifinal Piala Dunia yang digelar di Meksiko itu.
Maradona menjadi bintang utama dalam laga tersebut setelah memborong seluruh gol kemenangan Argentina dengan cara yang tidak biasa.
Gol pertama Maradona tercipta pada menit ke-51 sesuai memenangi duel udara melawan kiper Inggris, Peter Shilton.