“Okelah tolak ukur TV adalah rating, tapi tolak ukur manusia adalah nurani dan akal sehat. Menurut kalian ini wajar?,” pungkasnya.
Unggahan Ernest Prakasa lantas dibanjiri komentar dari rekan sesama pegiat industri hiburan dan netizen lainnya.
“TV tuh mustinya berkontribusi meningkatkan kualitas masyarakat, bukan sebaliknya! Oh my...,” tulis Becky Tumewa.
“Goks ya, keinginan ramai dan rating tinggi terlalu besar sampe ga lupa sama moral,” tulis Kristo Immanuel.
“Karakter Zahra yg menangis dan karakter suami yg bersikap sangat predatory ga cuma menormalisasikan pedofilia tapi banyak bgt aspek yg... aduh, gimana yaa ko serem,” tulis Nadin Amizah.
Baca: Sinetron Indosiar Dikecam, Ernest Prakasa Singgung Adegan Dewasa yang Libatkan Gadis 15 Tahun
Baca: Sinetron Zahra di Indosiar Dikecam, KPI Ingatkan Lembaga Penyiaran Tentang Perlindungan Anak
(TribunnewsWiki.com/Restu)