Informasi Awal #
TRIBUNNEWSWIKI.COM - Cipto Mangunkusomo atau dikenal dr.Tjipto Mangoenkoesoemo merupakan seorang dokter sekaligus tokoh pergerakan Kemerdekaan Indonesia.
Dikenal sebagai salah satu dari Tiga Serangkai, bersama Ernest Douwes Dekker dan Ki Hajar Dewantara.
Pria kelahiran 4 Maret 1886 di Desa Pecangakan, Jepara, Jawa Tengah.
Cipto Mangunkusumo merupakan putra tertua Mangunkusumo, seorang priyayi rendahan dalam struktur masyarakat Jawa.
Cipto Mangunkusomo bersama dua tokoh tersebut, sangat kritis terhadap pemerintahan penjajahan Hinda Belanda dan banyak meyalurkan ide pemerintahan sendiri.
Cipto Mangunkusomo merupakan tokoh dalam Indische Partij, organisasi politik yang pertama kali memunculkan ide pemerintahan.
Perbeda dengan kedua tokoh lainnya yang mengambil jalur pendidikan dan Cipto Mangunkusumo tetap berjalan di jalur politik sebagai anggota Volksraad (Dewan Rakyat). (1)
Baca: Dokter Sutomo
Pendidikan #
Pada usia 6 tahun, Cipto Mangunkusumo bersekolah di sekolah Belanda, yaitu Europeesche Lagere School.
Cipto Mangunkusumo adalah murid yang cerdas dan lulus dengan nilai terbaik di antara teman-temannya.
Kemudian, saat berusia 13 tahun, Cipto Mangunkusumo melanjutkan pendidikan ke STOVIA (School tot Opleiding van Indische Artsen).
STOVIA merupakan sekolah pendidikan kedokteran bagi rakyat pribumi pada zaman Hindia Belanda. (2)
Baca: Jan Pieterszoon Coen
Karier #
Cipto Mangunkusumo mengawali kariernya menjadi seorang guru bahasa Melayu di sekolah dasar di Ambarawa.
Ia bersekolah di STOVIA atau Sekolah Kedokteran di Batavia. Selama menempuh pendidikan di STOVIA, ia diberi julukan oleh gurunya sebagai Een begaafd leerling atau murid yang berbakat.
Julukan tersebut diberikan pada Cipto karena ia dikenal sebagai pribadi yang jujur, berpikiran tajam, dan rajin.
Berbeda dengan teman-temannya, Cipto lebih suka menghadiri ceramah-ceramah, baca buku, dan bermain catur.
Budi Utomo
Saat itu Cipto Mangunkusumo masuk sebagai anggota dalam Budi Utomo.
Pada kongres pertama Budi Utomo di Yogyakarta, jati diri politik Cipto semakin terlihat.
Pasalnya, kongres tersebut menimbulkan perpecahan antara Cipto dengan Radjiman Wedyodiningrat, anggota Budi Utomo lainnya.
Cipto Mangunkusumo ingin menjadikan Budi Utomo sebagai organisasi politik yang harus bergerak secara demokratis dan terbuka bagi semua rakyat Indonesia.
Budi Utomo harus menjadi pimpinan bagi rakyat dan jangan mencari hubungan dengan atasan, bupati, dan pegawai tinggi lainnya.
Namun, Radjiman menginginkan Budi Utomo sebagai suatu gerakan kebudayaan yang bersifat Jawa.
Akibat dari perselisihan tersebut, Cipto Mangunkusumo akhirnya mengundurkan diri dari Budi Utomo, karena menganggap organisasi ini tidak mewakili aspirasinya.
Indische Partij
Setelah mundur dari Budi Utomo, Cipto Mangunkusumo membuka praktik dokter di Solo.
Cipto Mangunkusumo membantu dalam pemberantasan wabah pes di Malang pada 1911.
Jasanya membuat Dokter Cipto mendapatkan bintang emas, penghargaan dari pemerintah kolonial Hindia Belanda. Meskipun demikian, Cipto tetap bertahan dalam dunia politik.
Perhatiannya kepada politik pun semakin bertambah setelah dia bertemu dengan Ernest Douwes Dekker (Danurdirdja Setiabudi) dan Soewardi Soerjaningrat.
Mereka kemudian disebut sebagai Tiga Serangkai. Ketiga tokoh ini mendirikan Indische Partij pada 1912.
Indische Partij merupakan bentuk upaya mewakili kepentingan-kepentingan semua penduduk Hindia Belanda, tanpa memandang suku, golongan, dan agama. (2)
Komite Bumi Putera
Pada November 1913, Belanda memperingati 100 tahun kemerdekaannya dari Prancis.
Peringatan tersebut diadakan secara besar-besaran di Hindia Belanda. Bagi Cipto, perayaan tersebut menjadi sebuah penghinaan terhadap rakyat bumi putera yang sedang dijajah.
Cipto bersama Suwardi kemudian mendirikan komite perayaan 100 tahun kemerdekaan Belanda dengan nama Komite Bumi Putera.
Komite ini merencanakan mengumpulkan uang untuk mengirim telegram kepada Ratu Wilhelmina, Ratu Belanda.
Isi telegram tersebut adalah agar pasal pembatasan kegiatan politik dan membentuk parlemen dicabut.
Aksi Komite Bumi Putera mencapai puncaknya pada 19 Juli 1913.
Saat itu, harian De Express menerbitkan artikal milik Ki Hadjar Dewantara (Suwardi Suryaningrat) berjudul Als Ik Een Nederlander Was atau andaikan saya seorang Belanda.
Pada hari selanjutnya, Cipto menulis artikel yang mendukung Ki Hadjar Dewantara untuk memboikot perayaan kemerdekaan Belanda.
Karena tulisan itu, Cipto dan Ki Hadjar Dewantara dipenjarakan pada 30 Juli 1913.
Pada 18 Agustus 1913, keluar surat keputusan untuk membuang Cipto bersama Ki Hadjar Dewantara dan Ernest Douwes Dekker ke Belanda.
Mereka dibuang karena melakukan kegiatan propaganda anti Belanda dalam Komite Bumi Putera.
Selama masa pembuangan, ketiga tokoh ini tetap melancarkan aksi politiknya.
Mereka menerbitkan majalah De Indier guna menyadarkan masyarakat belanda dan Indonesia yang berada di Belanda akan situasi tanah jajahan.
Mereka juga menerbitkan jurnal Indische Vereeniging (perkumpulan sosial mahasiswa Indonesia), yaitu Hindia Poetra pada 1916.
Pengasingan
Pada 1914, Cipto bergabung dengan Insulinde, perkumpulan yang menggantikan Indische Partij.
Di sana, ia melancarkan aksi propaganda untuk Insulinde.
Akibat propaganda tersebut, jumlah anggota Insulinde pada 1915 yang mulanya berjumlah 1.009 meningkat menjadi 6.000 orang pada 1917.
Pada Oktober 1919, anggota Insulinde mencapai 40.000 orang.
Kemudian, pada 18 Mei 1918, pemerintah Hindia Belanda membentuk Volksraad (Dewan Rakyat).
Pembentukan Volksraad ini menjadi tempat bagi Cipto untuk menyatakan kritiknya terhadap Volksraad yang dianggap sebagai lembaga untuk mempertahankan kekuasaan penjajah dengan kedok demokrasi.
Pada 25 November 1919, Cipto berpidato di Volksraad.
Dalam pidatonya ia mengemukakan persoalan tentang persekongkolan Sunan dan residen dalam menipu rakyat.
Pidato tersebut membuat pemerintah Hindia Belanda menganggap Cipto sebagai orang yang berbahaya.
Sehingga Dewan Hindia pada 15 Oktober 1920 mengusulkan untuk mengusir Cipto ke daerah yang tidak berbahasa Jawa.
Namun, pembuangan Cipto ke daerah Jawa, Madura, Aceh, Palembang, Jambi, dan Kalimantan Timur tetap saja membahayakan pemerintah.
Oleh karena itu, Dewan Hindia berdasarkan surat kepada Gubernur Jenderal mengusulkan untuk mengusir Cipto ke Kepulauan Timor.
Pada tahun itu juga, Cipto dibuang dari daerah yang berbahasa Jawa tetapi masih di Pulau Jawa, yaitu Bandung.
Di sana ia kembali membuka praktik dokter selama tiga tahun.
Ia juga bertemu dengan kaum nasionalis yang lebih muda, Soekarno.
Pada 1923, mereka membentuk Algemeene Studieclub atau klub kuliah umum.
Pada 1927, Algemeene Studieclub berubah nama menjadi Partai Nasional Indonesia (PNI). (1)
Baca: Romusha
Wafat #
Penyakit asma Cipto kambuh saat masa pengasingan
Ketika Cipto diminta untuk menandatangani suatu perjanjian bahwa dia dapat pulang ke Jawa dengan melepaskan hak politiknya, namun Cipto menolak dengan tegas.
Ia mengatakan bahwa dirinya lebih baik mati di Banda Aceh daripada harus melepaskan hak politiknya.
Cipto kemudian dialihkan ke Bali, Makasar. Pada 1940, ia dipindahkan ke Sukabumi.
Cipto Mangunkusumo meninggal dunia pada 8 Maret 1943 akibat penyakit asma dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Ambarawa. (1)
Baca: Nasionalisme
(Tribunnewswiki.com/ Husna)
| Info Pribadi |
|---|
| Kelahiran | 4 Maret 1886, Kecamatan Pecangaan |
|---|
| Meninggal | 8 Maret 1943, Batavia |
|---|
| Pendidikan | School tot Opleiding van Indische Artsen (1899–1905), Europeesche Lagere School |
|---|
| Organisasi yang didirikan | National Indische Partij, Partai Nasional Indonesia |
|---|