Informasi Awal #
TRIBUNNEWSWIKI.COM - Tari Piring adalah tarian tradisional Minangkabau yang menampilkan atraksi menggunakan piring.
Para penari mengayunkan piring di tangan mengikuti gerakan-gerakan cepat yang teratur, tanpa satu pun piring terlepas dari tangan.
Gerakannya diambil dari langkah dalam silat Minangkabau atau silek.
Tari piring dipolerkan oleh Huriah Adam.
Saat ini, tari piring dipertunjukan untuk penyambutan tamu terhormat atau pembukaan upacara adat.
Bersama dengan tari saman, pendet, dan jaipong, tari ini menjadi tarian populer Indonesia yang kerap ditampilkan di ajang promosi pariwisata dan kebudayaan Indonesia. [1]
Tarian unik ini menjadi salah satu tarian yang mewakili pulau Sumatera dalam acara pembukaan pesta olahraga Asian Games 2018 di Gelora Bung Karno. [2]
Baca: Tari Ronggeng Blantek
Sejarah #
Secara tradisional, tari ini berasal dari Solok, Sumatra Barat.
Menurut legenda, tari ini awalnya merupakan ritual ucapan rasa syukur masyarakat setempat kepada dewa-dewa setelah mendapatkan hasil panen yang melimpah ruah.
Ritual dilakukan dengan membawa sesaji dalam bentuk makanan yang diletakkan di dalam piring sembari melangkah dengan gerakan yang dinamis.
Setelah masuknya agama Islam ke Minangkabau, tari piring tidak lagi digunakan sebagai ritual ucapan rasa syukur kepada dewa-dewa. [1]
Tari Piring kemudian berubah fungsi sebagai tari hiburan semata dan ditampilkan pada upacara-upacara adat tertentu, seperti upacara pengangkatan penghulu, pesta pernikahan, penyambutan tamu, dan acara-acara lainnya.
Tarian yang menjadi ikon Sumatera Barat ini menyebar di seluruh “nagari”, dan berkembang sesuai karakteristik serta kekhasannya masing-masing sehingga memiliki banyak variasi.
Banyak juga tarian tradisional Sumatera Barat kreasi baru yang mengakar pada Tari Piring. [2]
Baca: Tari Kecak
Gerakan #
Gerakan tari piring pada umumnya adalah meletakkan dua piring di atas dua telapak tangan.
Penari mengayunkan piring dalam gerakan-gerakan yang cepat, diselingi dengan mendentingkan piring atau dua cincin di jari penari terhadap piring yang dibawanya.
Pada akhir tarian, biasanya piring-piring yang dibawakan oleh para penari dilemparkan ke lantai dan para penari akan menari di atas pecahan-pecahan piring. [1]
Baca: Tari Saman
Busana #
Busana yang dikenakan penari lelaki berupa baju rang mudo atau baju gunting China yang berlengan lebar berhias renda emas (missia) dengan bawahan “saran galembong” celana berukuran besar yang bagian tengahnya (pisak) berwarna sama dengan atasannya.
Asesoris yang dikenakan terdiri dari “sisamping”, “cawek”, dan “destar”.
Sisamping adalah kain songket yang dililitkan di pinggang dengan panjang sebatas lutut, sedangkan cawek adalah ikat pinggang yang juga terbuat dari songket dengan hiasan rumbai di bagian ujungnya.
Destar atau Deta adalah penutup kepala yang terbuat dari bahan songket berbentuk segi tiga, dikenakan dengan cara mengikatnya di kepala.
Busana penari perempuan terdiri baju kurung berbahan satin atau beludru dengan bawahan berupa kain songket.
Asesoris yang dikenakan berupa selendang dan “tikuluak tanduak balapak”.
Selendang berbahan songket dikenakan di bagian kiri badan, sedangkan “tikuluak tanduak balapak” adalah penutup kepala khas perempuan Minang yang juga berbahan songket dan bentuknya menyerupai tanduk kerbau.
Perhiasan yang dikenakan berupa kalung rumbai dan kalung gadang serta subang atau giwang. [2]
Baca: Tarian Jawa
Pengiring #
Musik pengiring Tari Piring atau Piriang dalam bahasa Minang adalah talempong, gandang tambua, sarunai, dan pupuik batang padi.
Talempong adalah alat musik pukul sejenis instrumen bonang dalam perangkat gamelan, biasanya dibuat dari kuningan tetapi ada juga yang dari kayu dan batu.
Gandang tambua adalah sejenis gendang dari kayu bayua dengan dua permukaan bidang pukul yang ditutup menggunakan kulit kambing.
Kedua permukaan gendang tidak dipukul menggunakan telapak tangan melainkan dengan pemukul dari kayu bernama panokok.
Sarunai adalah alat musik tiup khas Minang yang terbuat dari batang padi, kayu atau bambu, tanduk kerbau atau daun kelapa.
Pupuik batang padi juga alat musik tiup yang terbuat dari batang padi yang sudah tua dan berbuku.
Tempo gendang yang semakin meninggi diimbangi talempong dan sarunai menjadi penambah semangat dan jiwa tarian.
Suara dentingan cincin yang dikenakan penari dengan piring juga menjadi pengatur tempo tarian.
Syair yang dibawakan dengan musik pengiring menambah harmonisasi dalam tarian, sekaligus sebagai cerita tariannya itu sendiri. [2]
Baca: Tari Jaipong
(TribunnewsWiki.com/Rakli)
| Nama | Tari Piring |
|---|
| Klasifikasi | Tari Tradisional |
|---|
| Jenis | Kesenian |
|---|
| Asal | Minangkabau |
|---|
| Dipopulerkan | Huriah Adam |
|---|
Sumber :
1. kemlu.go.id
2. encyclopedia.jakarta-tourism.go.id