TRIBUNNEWSWIKI.COM - Paus Fransiskus sampai di Baghdad pada Jumat (5/3/2021).
Kunjungan tersebut menjadi kunjungan kepausan yang pertama di Irak.
Namun siapa sangka, ada fakta mengerikan jelang kunjungan Paus.
Hanya terhitung hari sebelum Paus Fransiskus menginjakkan kaki di Irak, pangkalan udara yang menampung pasukan Amerika Serikat dan sekutunya dibombardir roket.
Terkait jumlah pastinya, ada perbedaan. Ada yang mengatakan sepuluh roket, ada yang mengatakan belasan.
Express.co.uk melaporkan pada Minggu (7/3/2021) setidaknya ada 10 roket yang menghantam pangkalan Ain al-Asad.
Wilayah yang terletak di provinsi Anbar, Irak Barat, itu mulai dihujani rudal pada Selasa, pukul 07.20 waktu setempat.
Baca: Pusat Pemerintahan Irak Dihujani 3 Roket dalam Seminggu, Target Utama Kedutaan AS
Baca: Tentara AS Kalang Kabut ketika Dihujani Rudal Iran, Alami Trauma Otak hingga Harus ke Psikiater
Kabar itu disampaikan Kolonel Wayne Marotto, juru bicara pasukan koalisi pimpinan AS di negara itu, sebagaimana diberitakan Intisari Online.
Sementara Komando Operasi Baghdad mengatakan kepada kantor berita Reuters sekitar 13 roket diluncurkan dari lokasi sekitar 8 km (5 mil) dari pangkalan.
Sumber Irak lain menyebut roket diluncurkan dari wilayah Baiader.
Beruntung tak ada korban dalam serangan tersebut.
Hingga berita ini ditulis, belum ada pihak yang mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut.
Sekilas tentang sejarah Kristen di Irak
Dilansir Al Jazeera, sebelum invasi pimpinan AS tahun 2003, orang Kristen dari berbagai denominasi berjumlah sekitar 1,6 juta orang di Irak.
Saat ini, kurang dari 300.000 yang tersisa, menurut angka yang diberikan oleh Gereja Kasdim.
Sejak saat itu 58 gereja telah dirusak atau dihancurkan dan ratusan orang Kristen Irak telah dibunuh karena iman mereka.
Baca: Meski Punya Rudal Supersonik untuk Gempur China, Militer Filipina Masih Kalah Jauh dari Tiongkok
Baca: Meski Punya Rudal Supersonik untuk Gempur China, Militer Filipina Masih Kalah Jauh dari Tiongkok
Di bawah diktator Saddam Hussein, komunitas Kristen ditoleransi dan tidak menghadapi ancaman keamanan yang signifikan, meskipun mereka didiskriminasi.
Diaspora dimulai setelah invasi pimpinan AS tahun 2003, dan kekacauan yang terjadi ketika al-Qaeda memulai mengampanyekan pembunuhan.
Mereka melakukan penculikan imam dan uskup, serta melakukan serangan terhadap gereja dan pertemuan Kristen.
Pada Oktober 2006, seorang pastor ortodoks, Boulos Iskander, dipenggal dan pada 2008 kelompok itu menculik dan membunuh Uskup Agung Paulos Farah Rahho di Mosul.