Namun lambat laut, warga memilih pindah mengikuti keluarga ke kampung lain.
Ipin juga membantah jika warga meninggalkan kampung itu karena persoalan mistis.
Warga banyak meningga;kan kampung itu karena kondisinya sepi.
Ia meyakini seluruh tempat pasti memiliki cerita mistis masing-masing.
"Dulunya banyak penghuninya. Karena tempatnya tidak ramai ada yang sudah nikah ikut pasangannya. Kemudian, yang punya anak ikut anaknya," ujar Ipin.
Meskipun kampung tersebut kosong, masih ada mushala yang masih dimanfaatkan warga untuk menjalankan ibada shalat zuhur dan ashar.
Mereka yang datang merupakan petani yang memiliki sawah di dekat lingkungan tersebut.
“Mushala masih sering dipakai untuk beribadah. Dan selalu dibersihkan setiap hari,” kata Ipin.
Datang untuk Peringatan Hari Wafat
Hingga saat ini, kata Ipin, tidak ada satu pun warga yang ingin kembali ke kampung tersebut karena mereka sudah memiliki rumah sendiri.
Namun sesekali mereka datang ke kampung mati karena masih memiliki aset.
kepemilikan tanah di kampung itu sebagian besar dikuasai beberapa ahli waris.
Selain itu, mereka datang untuk menggelar acara peringatan hari wafatnya oendahulu yang meninggal di kampung tersebut.
Sementara, kampung mati tersebut sempat ditawar oleh pengembang untuk dijadikan komplek perumahan.
Namun pemilik tanah menolak tawaran terseut.
Menurutnya, mereka hanya akan menjual tanah mreka jika untuk membangun pesantren.
"Namun, bila dibeli untuk pembangunan pesantren ahli waris menerimanya," ujar Ipin.
Setelah kampung mati tersebut viral di media sosial, banyak orang dtaang ke kampung itu karena rasa penasaran.
Baca: Sudah Dua Kali Disuntik Vaksin Sinovac, Bupati Serang Malah Positif Covid-19, Ini Penjelasan Dinkes
Baca: Seorang Pria Suntikkan Petroleum Jelly agar Lengannya Terlihat Kekar, Kini Malah Tak Bisa Digerakkan
Baca: Marzuki Alie Laporkan AHY dengan Tuduhan Pencemaran Nama Baik, Bareskrim Polri: Masih Kurang Bukti
(TRIBUNNEWSWIKI.COM/Anindya, KOMPAS.COM/Muhlis Al Alawi)
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Kampung Mati di Ponorogo, Berawal dari Pembangunan Pesantren Tahun 1850 hingga Warga Pindah karena Sepi"