TRIBUNNEWSWIKI.COM - Setidaknya 50 orang tewas ketika pengunjuk rasa terus berdemonstrasi di seluruh Myanmar menyerukan diakhirinya kekuasaan militer.
Para jenderal Myanmar telah merebut kekuasaan melalui kudeta, menjerumuskan negara Asia Tenggara itu ke dalam kekacauan politik baru hanya satu dekade setelah berakhirnya 49 tahun pemerintahan militer yang ketat.
Kudeta 1 Februari telah memicu protes nasional, dengan ratusan ribu turun ke jalan untuk menuntut pembebasan pemimpin terpilih Aung San Suu Kyi dan pemulihan pemerintahan sipil, dikutip Al Jazeera, Kamis (4/3/2021).
Sejak itu terjadi berbagai aksi demonstrasi hingga terakhir penembakan brutal 38 demonstran pada Rabu (3/3/2021).
Pasukan keamanan telah menindak, menembaki pengunjuk rasa tak bersenjata dan menewaskan sedikitnya 50 orang di seluruh negeri.
Lusinan lainnya terluka dan lebih dari 1.000 orang ditahan.
AS, Inggris, Kanada, Selandia Baru, dan UE semuanya telah mengumumkan sanksi terpilih terhadap jenderal negara itu, sementara China telah menyatakan keprihatinannya, dengan mengatakan bahwa "perkembangan saat ini di Myanmar sama sekali bukan yang ingin dilihat China".
Berikut adalah kronologi lengkap aksi di Myanmar sejak kudeta 1 Februari:
Baca: Militer Myanmar Kian Brutal, Satu Hari 38 Pendemo Tewas: Pakai Peluru Tajam dan Ditembak Jarak Dekat
1 Februari: Militer menahan Aung San Suu Kyi, Presiden Win Myint, dan tokoh senior lainnya dari Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) yang berkuasa dalam serangan pagi hari, beberapa jam sebelum parlemen baru Myanmar dijadwalkan bertemu untuk sesi pertama.
Militer, yang dikenal secara lokal sebagai Tatmadaw, mengumumkan keadaan darurat selama setahun, dan mengatakan mereka mengambil tindakan karena dugaan kecurangan dalam pemilihan November yang dimenangkan NLD secara telak.
Kudeta ini membuat semua kekuasaan eksekutif, legislatif dan yudikatif diserahkan kepada Jenderal Senior Min Aung Hlaing.
Baca: Demonstran Wanita Muslim Myanmar Ikut Terbunuh Setelah Ditembak Mati saat Ikut Demo Antimiliter
NLD menerbitkan pernyataan atas nama Aung San Suu Kyi yang ditulis sebelum dia ditahan, mendesak orang-orang untuk memprotes kudeta tersebut.
2 Februari: AS menyebut pengambilalihan militer sebagai kudeta.
Di kota terbesar Myanmar, Yangon, orang-orang memukul panci dan wajan serta membunyikan klakson mobil sebagai protes.
Dokter dan kelompok mahasiswa menyerukan kampanye pembangkangan sipil.
3 Februari: Staf di 70 rumah sakit dan departemen medis di seluruh Myanmar berhenti bekerja.
Yang lainnya memakai pita merah sebagai bagian dari kampanye pembangkangan sipil.
Kantor NLD di beberapa wilayah negara itu digerebek, dengan dokumen, komputer, dan laptop diambil.
Polisi Myanmar mengajukan tuntutan terhadap Aung San Suu Kyi dan menuntut penahanannya hingga 15 Februari.
Sebuah dokumen polisi mengatakan petugas militer yang menggeledah rumahnya menemukan enam radio genggam yang diimpor secara ilegal dan digunakan tanpa izin.