Pengakuan Guru yang Mengajar Siswa SLB Bernama Busairi di Aceh, Akui Ada Suka Duka Tersendiri

Unggah video murid SLB bernama Busairi di TikTok hingga viral, guru di Aceh ini beberkan suka duka menjadi seorang pengajar murid berkebutuhan khusus.


zoom-inlihat foto
busairi-siswa-luar-biasa-viral.jpg
TikTok/@pu3soraya26
Penyandang Tuna Grahita, Busairi yang masih semangat belajar di usianya yang menginjak 32 tahun.


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Seorang guru Sekolah Luar Biasa (SLB) bernama Puteri Soraya menuturkan suka dukanya mengajar anak-anak yang menyandang tuna grahita.

Puteri Soraya berprofesi sebagai guru di SLB Negeri Kota Langsa, Aceh.

Dirinya merupakan seorang pengunggah video dari murid luar biasa bernama Busairi.

Sebelumnya, siswa SMALB di Sekolah Luar Biasa Kota Langsa, Aceh bernama Busairi viral di media sosial.

Busairi yang berusia 32 tahun mendapat sorotan dari warganet karena semangat belajarnya yang tinggi.

Kegiatan Busairi selama di sekolah pun diabadikan dalam sebuah video dan diunggah di TikTok.

Video tersebut diunggah oleh pemilik akun TikTok @pu3soraya26.

Hingga saat ini, Selasa (2/3/2021), video tersebut telah ditonton sebanyak 6,2 juta kali dan disukai oleh 471,3 ribu pengguna TikTok.

"Kenalin siswa di kelas 11 C, enggak semua datang karena protokol kesehatan. Namanya Busairi umurnya 30-an. Penyandang Tuna Grahita: gangguan masalah intelektual,"

Baca: Kisah Busairi, Siswa SLB Umur 30 Tahun yang Semangat Belajar, Tiap Hari Bawa Rapor dan Iqra

Baca: Viral Puluhan Mahasiswa Jalani Ospek Dipukuli Pakai Botol, Disiksa Senior di Pinggir Pantai

"Nulisnya enggak lancar. Sebenarnya dia enggak bisa sekolah lagi, tapi dia kepingin pakai baju seragam dan pergi ke sekolah. Paling cepat datang kalau pagi, hari Minggu pun tetap pakai baju seragam mau ke sekolah katanya,"

"Enggak bisa Bahasa Indonesia, biasanya pakai bahasa daerah (Bahasa Aceh). Semoga teman-teman mengikuti semangatnya ya. Tiap hari pecinya enggak dilepas, ganteng kan hihi," tulisnya.

Putri Soraya mengatakan, muridnya tersebut masih memiliki semangat tinggi hingga membawa rapor setiap datang ke sekolah.

Iqra pemberian Puteri juga selalu dibawanya hingga bentuknya lecek.

Semangat belajar Busairi ini-lah yang harusnya dicontoh oleh semua siswa yang ada di Indonesia.

"Yang perlu dicontoh pasti semangatnya. Dulu pernah saya kasih dia Iqra (bacaan Al-Quran) dia bawa setiap hari, rapor hasil belajar juga dibawa setiap hari,"

Penyandang Tuna Grahita, Busairi yang masih semangat belajar di usianya yang menginjak 32 tahun.
Penyandang Tuna Grahita, Busairi yang masih semangat belajar di usianya yang menginjak 32 tahun. (TikTok/@pu3soraya26)

"Sampai saya bilang jangan dibawa terus, tinggal aja ya di rumah. Masih juga dibawa sampek lecek," Kata Puteri, Senin (1/3/2021).

Putri menuturkan, Busairi merupakan penyandang tuna grahita yang memiliki gangguan masalah intelektual.

Sehingga, Busairi memiliki kecerdasan di bawah rata-rata orang normal dan di bawah usianya.

Puteri menuturkan, pertama kali bertemu Busairi saat ia menjadi wali kelas.

Di antara siswa yang lain, Busairi adalah siswa tertua yang pernah Puteri ajar.

"Muridnya itu kalau yang sudah pernah saya ngajar paling tua itu Bapak Busairi itu 32 tahun. Ada juga yang umur 23 tahun dia SMP," kata Puteri.

Mengapa bisa demikian, karena mereka waktu kecilnya tidak disekolahkan tepat waktu.

Yang Puteri ketahui orang tua mereka menunda sekolah.

Busairi sudah pernah sekolah SD, tapi karena semangat belajarnya yang tinggi ia jadi ingin kembali bersekolah.

Kegiatannya di sekolah juga sama seperti siswa biasa.

"Kegitan Busairi sama seperti anak biasa, sekolah, olahraga," ucap Puteri.

Dalam belajar Busairi juga tidak mempunyai mata pelajaran kesukaan atau yang fokus ditekuni.

"Busairi enggak ada pelajaran yang fokus ditekuni, semua dia mau belajar. Kalau dia lebih diajari nulis, berhitung. Karena kalau lebih tinggi dari itu dia enggak ngerti."

"Nulis aja kita ajari belum bisa-bisa. Kalau guru ajarin nulis, dia semangat banget nulisnya sampai selembar penuh ditulisin."

"Tapi ya nulisnya asal-asal gitu. Pernah saya suruh nulis sampai dua lembar, dia nulis enggak berhenti-berhenti. Baru saya bilang enggak usah nulis lagi," ujar Puteri.

Saat diberi tugas untuk menulis di rumah pun Busairi dengan senang dan semangat mengerjakannya.

Namun, memang yang ditulis Busairi selalu sama hanya itu-itu saja.

"Kemarin itu pernah saya bilang, di rumah nulis juga ya. Yaudah dia nulis juga sampai selembar gitu penuh. Tapi yang dia tulis sama, gitu-gitu aja," tutur wanita asal Aceh ini.

Sosok Busairi bagi Puteri

Menurut Puteri, Busairi adalah sosok siswa yang patuh.

Karena selama bersekolah Busairi tidak pernah melawan guru.

Ia juga orang yang ramah dan suka tersenyum.

Namun tak bisa dipungkiri sifatnya kadang masih seperti anak-anak.

"Busairi, dia ramah, suka senyum. Sifatnya kaya anak-anak suka ngadu gitu. Tapi dia sensitif, kalau diejek sedikit langsung marah," ungkapnya.

Puteri menambahkan, secara keseluruhan sifat Busairi ini memang masih seperti anak-anak.

Hanya usianya saja yang sudah tua, mengingat Busairi adalah penyandang tuna grahita.

Perbedaan Pembelajaran di SLB dengan Sekolah Biasa

Puteri menuturkan proses belajar mengajar di SLB dan sekolah biasa tentunya akan berbeda.

Karena di SLB pembelajarannya akan jadi lebih rendah tingkatannya, misalkan pada materi pembelajaran.

"Materi misal di kelas 5 SD normal matematikanya udah sampe KPK, udah sampe pembagian dan pengalian yang sudah lebih tinggi."

"Tapi kalau di SLB kelas 5 ya masih tambah-tambah karena dengan keterbatasan anaknya kaya gitu, jadi pembelajarannya enggak bisa tinggi gitu," jelasnya.

SLB juga mempunyai sistem dan kurikulumnya tersendiri,

Namun yang menjadi kesamaan adalah adanya silabus dan RPP dan bukunya.

Jadi yang membedakan itu isi materinya dengan isi materi sekolah normal.

Baca: 2 Pemuda Tikam Mahasiswa di Warung Nasi Goreng, Tak Terima karena Terus Ditatap

Baca: Viral, Oknum Dosen UMI Makassar Adu Mulut di Depan Mahasiswa, Diwarnai Aksi Saling Dorong dan Pukul

Suka Duka Menjadi Guru SLB

Selama tiga tahun mengajar di SLB, sudah pasti banyak suka dan duka yang Puteri alami.

"Sukanya karena mereka lucu, maksudnya lucu itu dari segi mereka itu bisa menghibur kita. Saat kita lagi galau liatin mereka jadinya semangat lagi, terus ya seneng aja."

"Dukanya kan kalau kita lagi melihat mereka kaya kasihan tapi yaudah enggak dipikir lagi. Kasihan ya kok bisa kayak gitu, cuma gitu aja si kalau dukanya," ungkapnya.

Melihat para siswanya, Puteri pun mengaku menjadi lebih bersyukur.

"Dari kita melihat mereka kan jadi kasihan, jadi kita bersyukur aja sama diri kita. Bersyukur, mereka aja kayak gitu masih bersyukur," imbuhnya.

Walau dengan segala keterbatasan yang dimiliki Busairi tapi tetap ada yang bisa dicontoh darinya.

Satu diantaranya adalah semangat Busairi dalam belajar.

Tak peduli usia dan segala keterbatasannya, Busairi selalu semangat untuk belajar dan bersekolah.

Ia juga selalu bangga dengan hasil kemampuannya dalam belajar.

Puteri pun berpesan, khususnya kepada para siswa, bahwa belajar itu wajib dilakukan.

"Belajar itu wajib dan dengan kondisi apapun dan keadaaan apapun. Sekolah dan belajar itu adalah hal yang mulia," imbuhnya.

Terakhir Puteri berharap semoga ke depannya masih bisa memberikan konten yang bermanfaat bagi kehidupan dan khususnya dunia pendidikan.

(TribunnewsWiki.com/Restu, Tribunnews.com/Faryyanida Putwiliani)

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Kisah Busairi, Siswa SLB yang Tetap Semangat Bersekolah, Bawa Rapor dan Iqra Tiap Hari hingga Lecek





BERITATERKAIT
Ikuti kami di
KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2026 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved