Sudah 5 Korban Tewas Akibat Virus Ebola di Guinea, WHO Langsung Kirim Vaksin, Menkes Optimistis

Guinea yakin bisa mengatasi epidemi karena sudah belajar dari pengalaman tahun 2013-2016


zoom-inlihat foto
gadis-yang-diduga-terinfeksi-virus-ebola-di-guinea.jpg
CARL DE SOUZA / AFP
(BERKAS) foto file ini diambil pada 16 Agustus 2014 menunjukkan seorang gadis yang diduga terinfeksi virus Ebola diperiksa suhunya di rumah sakit pemerintah di Kenema. Empat orang telah meninggal karena Ebola di Guinea, kebangkitan pertama demam berdarah di negara Afrika Barat itu sejak epidemi 2013-2016 menewaskan ribuan orang, kata Menteri Kesehatan Remy Lamah pada 13 Februari 2021.


Badan kesehatan Guinea juga meningkatkan kapasitasnya di daerah tersebut.

Menkes Optimis: Guinea Sudah Memiliki Pengalaman

Ilustrasi penanganan virus ebola.(Pixabay)
Ilustrasi penanganan virus ebola.(Pixabay) (Pixabay)

Baca: Virus Corona Varian Afrika Selatan Mulai Muncul di Inggris, Mutasinya Lebih Mengkhawatirkan

Menteri Kesehatan Remy Lamah mengatakan pada hari Senin, tidak seperti wabah paling mematikan yang diketahui pada 2013-2016, Guinea memiliki sarana untuk menghentikan kebangkitan virus.

“Pada 2013, kami membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk memahami bahwa kami sedang menghadapi epidemi Ebola. Sementara kali ini, dalam waktu kurang dari empat hari, kami dapat melakukan analisis dan mendapatkan hasilnya,” kata Lamah.

“Tim medis kami terlatih dan berpengalaman. Kami memiliki cara untuk mengatasi penyakit ini dengan cepat. "

Sementara itu, kampanye vaksinasi Ebola dimulai di negara tetangga Republik Demokratik Kongo (DRC) pada hari Senin, yang juga mengalami kasus baru Ebola dalam beberapa pekan terakhir.

“Ada harapan bahwa dengan alat-alat baru dan pengalaman serta pelajaran yang didapat, ini mungkin bisa bekerja lebih baik kali ini,” kata Ki-Zerbo, menggarisbawahi perlunya melibatkan komunitas lokal dan menjaga komunikasi dengan mereka.

Baca: Negara di Afrika Ini Punya 5 Tradisi Aneh, Termasuk Perburuan Penyihir

Negara tetangga Sierra Leone telah mengirim pekerja untuk mengawasi titik masuk perbatasan dalam koordinasi dengan otoritas Guinea, kata seorang juru bicara kementerian kesehatan.

Wabah paling mematikan kedua yang diketahui ini diumumkan tahun lalu di DRC, tetapi juga muncul kembali bulan ini.

“Yang paling mengkhawatirkan kami adalah bahaya penyakit yang kami alami lima tahun lalu. Kami tidak ingin menghidupkan kembali situasi seperti itu, ”kata Lamah.

(TribunnewsWiki.com/Nur)





Editor: haerahr
BERITATERKAIT
Ikuti kami di
KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2026 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved