Rakyat Myanmar Was-was, Militer Bebaskan 23 Ribu Tahanan, Kerahkan Preman untuk Buat Kerusuhan

Junta militer membebaskan 23.000 tahanan pada Jumat (12/2/2021) melalui amnesti


zoom-inlihat foto
demo-myanmar-09.jpg
STR / AFP
Polisi menangkap seorang pengunjuk rasa selama demonstrasi menentang kudeta militer di Mawlamyine di Negara Bagian Mon pada 12 Februari 2021. Tindakan keras dan represif tak menyurutkan jutaan rakyat Myanmar untuk menentang penguasa militer baru hasil kudeta, mereka bahkan menyerukan pemboikotan seluruh aktivitas instansi publik.


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Rakyat Myanmar semakin resah dengan tindakan junta militer.

Muncul kabar militer telah mengerahkan preman untuk menciptakan kerusuhan.

Para preman tersebut diduga bekerja untuk militer dan berencana melakukan pembakaran, perampokan, dan meracuni sumur milik umum sebagaimana dilansir Intisari dari Arab News, Sabtu (13/2/2021).

Rakyat Myanmar juga semakin waswas setelah junta militer membebaskan 23.000 tahanan pada Jumat (12/2/2021) melalui amnesti.

Salah satu warga Hlaing di Yangon, Aye Kyu (54) mengatakan bahwa tetangganya berjaga-jaga di wilayah tempat tinggalnya setiap malam.

"Itu sangat mirip dengan situasi hanya beberapa hari sebelum penumpasan brutal militer terhadap pengunjuk rasa pada 1988."

“Mereka sekarang membutuhkan alasan untuk menindak kami. Jadi mereka menciptakan situasi kacau dengan membuat orang merasa tidak aman dan merespons dengan panik,” imbuh Aye.

“Kami tidak memiliki siapa-siapa lagi untuk melindungi kami. Polisi dan tentara bertindak layaknya preman bagi kami,” tutur Aye.

Hal senada juga diungkap warga Mingalar Taung Nyunt di Yangon, Ko Phyo.

"Kami akan mengadakan serangkaian pertemuan hari ini dan dalam beberapa hari mendatang untuk membuat patroli lebih sistematis," katanya kepada Arab News, Minggu (14/2/2021).

Siapkan Sanksi Tegas untuk PNS yang Berani Mogok Kerja

Ratusan ribu pengunjuk rasa berbaris di jalan selama demonstrasi menentang kudeta militer di Naypyidaw pada 11 Februari 2021.
Ratusan ribu pengunjuk rasa berbaris di jalan selama demonstrasi menentang kudeta militer di Naypyidaw pada 11 Februari 2021. (STR / AFP)

Baca: Cara Rakyat Myanmar Jatuhkan Penguasa Militer Hasil Kudeta: Boikot Seluruh Instansi Publik

Junta Militer Myanmar mendesak pegawai negeri untuk kembali bekerja.

Mereka yang nekat mogok kerja terancam mendapat sanksi tegas.

"Tindakan dapat diambil karena melanggar etika, peraturan, dan kegagalan tugas Pegawai negeri sesuai dengan... undang-undang dan kode etik pengawai negeri," kata pernyataan itu, dikutip Tribunnews dari Reuters, Minggu (14/2/2021).

Sebelumnya, Myanmar tengah dilanda gelombang mogok kerja dan pembangkangan sipil.

Hal itu dilakukan rakyat sebagai bentuk protes terhadap junta militer yang melakukan kudeta terhadap pemerintahan yang sah di bawah pemimpin terpilih Aung San Suu Kyi.

Selain itu, mereka juga masih turun ke jalan.

Kendati seorang wanita ditembak dalam bentrokan kekerasan dalam aksi demonstrasi pada Selasa lalu, hal itu tidak menyurutkan mereka untuk terus turun ke jalan.

Sejak Rabu (9/2/2021) hingga hari berita ini diturunkan, demonstran melakukan aksi secara meriah, dengan telanjang dada, wanita dengan gaun bola dan gaun pengantin, petani dengan traktor dan orang-orang dengan hewan peliharaan mereka.

Mereka juga membawa berbagai spanduk dan tulisan lucu.





Halaman
12
BERITATERKAIT
Ikuti kami di
KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2026 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved